• Home
  • 28 November 1987
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Perilaku
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
  • Prelude
    • Surat Dari Redaksi
    • Ralat
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Selingan
  • Seni
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 28 November 1987

    Berbeda Bukan Berarti Pecah

    BENARKAH Kiai As'ad Syamsul Arifin pernah menyetujui untuk menggeser Abdurrahman Wahid dari kedudukannya sebagai Ketua PB NU? Sepekan setelah Munas dan Konbes NU di Cilacap, beberapa pertanyaan itu masih juga muncul. Ditemui wartawan TEMPO M. Baharun di pesantrennya pekan lalu, Kiai As'ad, 90 tahun, tampak kurang sehat. Sejak beberapa pekan lalu penyakit asmanya kambuh. "Karena itulah saya tidak dapat hadir di Munas Cilacap," katanya sembari terbatuk-batuk. Kiai As'ad membenarkan bahwa Mahbub Djunaidi dan K.H. Mujib Ridlwan, Rais Syuriah NU Jawa Timur, datang menemuinya, 30 Oktober yang lalu. Ketika itulah Mahbub menyampaikan ide Khittah Plus dan keinginan menggeser Abdurrahman Wahid. "Saya tidak menanggapi. Bahkan saya menyarankan agar diminta pendapat dari mustasyar yang lain," tuturnya. Untuk menghimpun pendapat para mustasyar lainnya, dia meminta diadakan suatu pertemuan, agar saran yang keluar dari mustasyar bersifat kolektif. Anggota mustasyar sebetulnya sembilan aorang, tapi dua di antaranya, Kiai Machrus Ali dan Saifudin Zuhri, sudah meninggal dunia. Tujuh yang tinggal adalah As'ad, Masykur, Imron Rosjadi, Anwar Musaddad, Idham Chalid, Ali Ma'shum, dan Munasir. Pertemuan itu kemudian berlangsung pada 7 November 1987, di rumah Kiai Mujib Ridlwan di Jalan Bubutan, tak jauh dari Pasar Turi, Surabaya. Ternyata, beberapa mustasyar absen, sekalipun telah diundang. Selain Kiai As'ad, yang datang adalah Kiai Masykur dan Imron Rosjadi. Hadir juga Mahbub Djuanaidi, Wakil Ketua PB NU, K.H. Syaiful Masykur, putra Kiai Masykur, Koen Solehuddin, pengurus wilayah NU Jawa Timur, Zahrowi Musa, pembantu Kiai As'ad, dan Mujib Ridlwan selaku tuan rumah. "Ketika itu saya mengimbau agar mengartikan kembalinya NU ke Khittah 1926 itu dengan meneladani pengabdian ulama pendiri NU, seperti K.H. Hasjim As'ari, K.H. Abdul Wahab, Kiai Haji Bisri Sjansuri." kata Kiai As'ad. Pertemuan menghangat ketika K.H. Imron Rosjadi menyampaikan berbagai sikap dan ucapan Abdurrahman Wahid yang dianggap sudah menyimpang. Malah Imron Rosjadi menginformasikan di pertemuan itu bahwa sebenarnya Gus Dur -- panggilan akrab Abdurrahman Wahid -- tak disenangi pemerintah. "Tapi kepada para hadirin saya minta agar informasi itu dilengkapi dengan fakta-fakta. Gunanya akan saya cocokkan dengan pihak lain." kata Kiai As'ad. Kiai As'ad kemudian memang mencoba mencocokkan informasi yang diterimanya. Ia mengirim Zahrowi Musa menemui seorang menteri di Jakarta untuk mengecek betulkah Gus Dur sudah "tak disukai". Hasilnya: "Ternyata, tidak betul. Yang jelas, pemerintah suka Gus Dur," ujar Kiai As'ad. Kalau begitu. gagalkah pertemuan Bubutan? "Tidak. Rapat ini hanya mengumpul masukan," katanya. Memang salah satu tugas mustasyar adalah untuk menampung uneg-uneg pengurus NU. Dan yang bisa dihasilkannya adalah saran-saran. Misalnya, bila Abdurrahman Wahid harus digusur, Kiai As'ad menyarankan agar pengurus wilayah dan cabang-cabang NU membuat surat tertulis. "Saya menghargai tatanan organisasi, tak akan bertindak sendiri-sendiri," katanya. Apakah saran ini sudah dilaksanakan, tak jelas. "Saya tunggu sampai sekarang kok tak ada kelanjutannya," katanya. Kiai itu melihat yang terjadi di NU sekarang adalah perbedaan pendapat, bukan perpecahan. Dia menganggap perbedaan pendapat bukan masalah sepanjang itu bukan demi kepentingan pribadi, tapi untuk NU. Dengan melempar gagasan Khittah Plus, Mahbuh Djunaidi, menurut Kiai As'ad, masih dalam batas menjalankan haknya di negara demokrasi Pancasila. Berhasil atau tidak, itu soal lain. "Tapi saya percaya Mahbub tidak punya ambisi pribadi." Menanggapi Khittah Plus sendiri, Kiai As'ad berkata, "Jika yang dimaksudkan NU harus jadi parpol kembali, saya tidak setuju. Sebab, Khittah 1926 sudah mencakup pekerjaan politik dalam arti luas atau makrifat."

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Ralat

Beberapa kesalahan laput

Harrison bukan ericsson

Ha timur djaelani

Surat Dari Redaksi

Laput gubernur laput guberbur

BAB

Lubang kecil, tenaga besar

Batere setipis kertas

Pengintip malam

Catatan Pinggir

Barbertje

DUS

Rahangnya terkokang dua kali

Tendangan maut nenek doris

Kalau balon disangka ufo

Buku

Dayak dalam proses indonesianisasi

Dayak dalam proses indonesianisasi

Seni Rupa

Dullah dengan bangunan tiga gaya

Van gogh melawan "crash"

Agama

Dari ulama

Indonesiana

Ular cari dana masjid

Kampanye model soeweno

Kampanye model soeweno

Mode

Lenggang 88 gandrung di garis tubuh

TEMPO|interaktif

Bisnis

Pemegang Saham Setujui Stock Split Kalbe Farma

Gaya Hidup

Tips Cantik Ala Halle Berry

Nasional

Pendaftar SNMPTN Bandung Salah Isi Formulir

Olahraga

Juarai Seri-A, Awal buat Juventus Taklukan Dunia

Olahraga

Dua Trofi Inter Dipamerkan di Senayan  

Bisnis

Asia-Pasifik Dimbau Kurangi Ketergantungan Ekspor

Bisnis

Kalbe Farma Bagikan Dividen Rp 891 Miliar

Olahraga

Taufik Kalah, Indonesia Tertinggal 2-1  

Seni & Hiburan

Indah Dewi Pertiwi Ngebet Nonton Lady Gaga  

Olahraga

Pelatih Inter Milan Janjikan Tampilan Menghibur  

Mayoritas Orang Indonesia Cari Info Soal Seks Via Online  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif