• Home
  • 05 Desember 1987
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
  • Prelude
    • Surat Dari Redaksi
    • Album
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Selingan
  • Seni
    • Musik
    • Seni Rupa
    • Teater
    • Desain
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 05 Desember 1987

    Itu Baru Usul Pada Pemerintah

    SEMULA Menteri Transmigrasi Martono menolak diwawancarai soal ribuan rumah yang konon dipusokan. "Itu soal serius dan tak bisa dijawab sekarang," katanya kepada wartawan TEMPO Tri Budianto Soekarno, yang mencegatnya Senin pagi pekan ini di kantornya. Tapi siangnya, ketika Martono -- yang juga Ketua Umum Kosgoro dan HKTI -- menghadiri Rapat Koordinasi Ekuin di Departemen Keuangan, ia bersedia juga menjawab sejumlah pertanyaan. Wawancara berlangsung di pojok ruang rapat, sementara sejumlah menteri mondar-mandir menunggu saat sidang dimulai. Inilah petikan wawancara itu: Soal rumah yang dipusokan itu? Yang dipusokan itu belum ada. Itu 'kan usulan saya kepada pemerintah. Itu baru keinginan saya, tapi seakan-akan sudah kenyataan, jadi ramai. Ha ... ha ... ha .... Jadi, rumah-rumah itu belum pasti dipusokan? Itu 'kan masih gagasan saya. Masih dalam proses diusahakan untuk ditempati. Dalam proses itu dibicarakan bersama pemda-pemda, persis seperti petunjuk Presiden itu. Petunjuk itu sudah lama, bukan baru kemarin. Kalau dipusokan, penyebabnya apa? Ya, karena sudah nggak layak huni lagi. Sudah rusak berat, sudah tidak bisa dipakai lagi. Tentang empat ribu rumah yang sudah dimanfaatkan dengan diserahkan ke pemda itu, di mana saja lokasinya? Aaah, itu salah lagi. Empat ribu itu 'kan kalau dulu rumah yang puso itu 20.000, sekarang tinggal 16.000. Padahal, dulu rumah itu jumlahnya puluhan ribu. Setelah diisi transmigran, kini ya tinggal 16.000 itu. Kalau rumah-rumah itu dipusokan, bukankah berarti target tidak akan tercapai? Target Ndak mampu lagi kita sekarang. Target Pelita IV, 750.000 transmigran. Karena itu, kalau ada uang, kita belikan barang, beras, pacul, bangun rumah, dan sebagainya. Tahu-tahu sekarang transmigran tak datang. Penyebab transmigran itu tak datang? Ndak ada uang untuk memindahkannya. Bagaimana nasib barang yang sudah di beli? Itu 'kan tidak hilang, meski disimpan bertahun-tahun. Seperti Pak Bustanil Arifin itu 'kan bikin stok beras nasional sekian juta ton, misalnya. Nanti kalau diperlukan sudah ada barangnya. Pesawat terbang juga begitu? Juga begitu. Kita punya 12, tapi karena tidak ada yang diangkut lagi, tidak semua kita pakai. Anggaran Departemen Transmigrasi belakangan makin ciut. Bagaimana dengan penerimaan pegawai baru? Mulai 1 Januari tahun ini, saya setop penerimaan pegawai. Yang sudah waktunya pensiun dipensiunkan. Yang menjelang pensiun dianjurkan untuk cepat pensiun. Yang berstatus honorarium, honornya dihentikan. Apa tak ada jalan lain. Misalnya menyalurkan mereka? Jalan lain, ya, terserah. Tapi bukan kewajiban saya untuk menyalurkan mereka. Kembali soal puso. Dengan gagasan itu apakah Bapak tak khawatir dianggap gagal? Itu bisa saja. Di alam demokrasi ini 'kan bebas untuk berpendapat. Malah, kalau ada yang mengusulkan pecat saja menteri itu, boleh saja, wong negara demokrasi. Soal usul itu nanti dilaksanakan atau tidak, terserah Bapak Presiden. Tapi yang penting harus diingat bahwa Presiden adalah mandataris MPR. Jadi, apa pun yang beliau kerjakan adalah mandat, yang memang sudah seharusnya beliau kerjakan. Tidak ada campur tangan pihak luar. Bantuan luar negeri untuk transmigrasi 'kan besar? Memang. Tapi pemerintah Indonesia ada kewajiban menyediakan rupiah sebagai dana pendamping. Sebelum dolarnya diterima, pemerintah harus membayar proyek itu lebih dulu dengan rupiah. Ada yang tiga banding tujuh atau enam banding empat. Nah, untuk dana pendamping itu kita tak punya uang. Ada yang bilang, Departemen Transmigrasi akan dilikuidasi, dan akan dijadikan setingkat Direktorat Jenderal. Saya tak dengar isu itu. Semua 'kan terserah Mandataris. Wewenang Mandataris untuk mengaturnya. Belakangan makin banyak keluhan mengenai proyek transmigrasi yang tak beres atau mubazir. Itu tanggung jawab siapa? Tanggung Jawab saya, selaku menteri transmigrasi.

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Surat Dari Redaksi

Menghadapi gugatan

DUS

Ketua mao berdampingan dengan ...

Ramai-ramai meninggalkan pasien

Dia yang mencari gadis

Seni Rupa

Mistik Atau Futuristik

Tamsil Utopia

Album

Medali hungaria buat iravati

Cak ruslan ulang tahun

Pak gubernur mantu

Agama

Islam itu sangat simpel

Indonesiana

Burung (i)

Burung (ii)

Burung (iii)

Buku

Bos dicurigai sebagai mata-mata

Mati ketawa cara kedua

Mode

Houte couture, dari pekalongan ...

TEMPO|interaktif

Bisnis

Pemegang Saham Setujui Stock Split Kalbe Farma  

Gaya Hidup

Tips Cantik Ala Halle Berry

Nasional

Pendaftar SNMPTN Bandung Salah Isi Formulir

Olahraga

Juarai Seri-A, Awal buat Juventus Taklukan Dunia

Olahraga

Dua Trofi Inter Dipamerkan di Senayan  

Bisnis

Asia-Pasifik Dimbau Kurangi Ketergantungan Ekspor

Bisnis

Kalbe Farma Bagikan Dividen Rp 891 Miliar

Olahraga

Taufik Kalah, Indonesia Tertinggal 2-1  

Seni & Hiburan

Indah Dewi Pertiwi Ngebet Nonton Lady Gaga  

Olahraga

Pelatih Inter Milan Janjikan Tampilan Menghibur  

Mayoritas Orang Indonesia Cari Info Soal Seks Via Online  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif