• Home
  • 23 Januari 1988
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Perilaku
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
  • Prelude
    • Surat Dari Redaksi
    • Ralat
    • Album
  • Sains
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Selingan
  • Seni
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 23 Januari 1988

    Menuduh quran yang beda

    "SYIAH adalah gerakan yang membahayakan eksistensi Islam," ujar Prof. K.H. Ibrahim Hosen. Dua pembicara lain dalam seminar di Hotel Indonesia itu, Prof. Dr. H.M. Rasjidi dan Dr. Fuad Mohamad Fachruddin, setuju pula dengan Hosen - yang kemudian terkenal karena mendukung Porkas itu. Alasannya banyak. Misalnya karena Syiah, menurut mereka, punya Quran yang berbeda dengan kelompok mayoritas Sunni, selain alasan konsep imamah yang khas Syiah itu. Bahkan Rasjidi cenderung berpendapat, meskipun Syiah beranggapan bahwa Quran mereka lebih lengkap, "Sebetulnya orang Syiah tidak punya Quran." Dan Fuad menambahkan," Menurut orang Syiah, Quran kita itu tidak asli lagi. Karena sudah diubah oleh Abubakar, Umar dan Usman. Dan Quran mereka tiga kali iebih lengkap daripada Quran kita." Tidak semua peserta seminar sependapat dengan mereka. Nurcholish Madjid, misalnya, menyatakan bahwa, "Quran mereka sama dengan yang di kita." Sebagai bukti, Nurcholish membawa sebuah kitab Quran resmi Iran, dan memperlihatkannya kepada peserta. Dubes Republik Islam Iran, Seyyed Hossein Mirfakhar, mengatakan kepada TEMPO, dengan 114 surat, Quran terbitan Qum di Iran itu, ditulis berdasar mushaf Usman oleh kaligrafer Damaskus, Usman Thaha." Kalau memang ada yang berbeda, coba buktikan sendiri," ujar Mirfakhar. Menanggapi seminar yang mencerca Syiah di HI itu, Mirfakhar akan menyusul dengan protes kepada penyelenggara. "Mereka hanya ingin memecah belah umat," katanya. "Seminar itu bisa dijadikan propaganda Irak. Kami yakin pemerintah Indonesia tak sudi cara kajian antarmazhab seperti itu. Seminar tersebut tidak imbang," tambahnya lagi. Yang sama dengan Nurcholish adalah Dr. Quraisy Shihab. Ahli tafsir Quran lulusan Al-Azhar, Mesir, ini bahkan menyatakan, orang yang berkata demikian itu mestinya hidup di lima atau enam abad lampau. "Malah bisa dikatakan tak percaya pada Quran, karena ia tidak percaya bahwa Allah memelihara Quran dari kesalahan," ujar Quraisy. Quraisy Shihab menunjuk pada kitab tafsir Majma ' al-Baya~n (Ontologi Keterangan), karya Syeikh Abu Ali al-Fadl ibn Hasan al-Thabarsi - ulama Syiah Imamiyah abad 6 Hijri. Dalam Majma'--yang juga dijadikan referensi di kalangan Sunni - Al-Thabarsi menulis, antaranya, "Ada yang beranggapan bahwa ayat Quran berlebih atau berkurang. Namun, Syiah aliran kami tidak mengakui. Barangkali yang disebut "syiah" dalam seminar memang bukan Syiah Imamiyah, yang dikenal pula sebagai Syiah Ja'fariah, atau Syiah Dua belas Imam Itsna'asyariyah. Sejarah mencatat munculnya beberapa sempalan ekstrem yang juga membawa nama Syiah. Misalnya Gh~ llat atau "Syiah Ekstrem" yang sebagian dari mereka menuhankan Ali - menantu Rasulullah. Tapi sempalan-sempalan ini, dan beberapa yang lain, justru di kalangan Syiah sendiri dianggap kafir dan sulit dibuktikan kehadirannya sekarang. Barangkali ini mirip "Islam Jamaah" atau "Inkar Sunah" yang juga dicerca orang Ahlus-Sunnah. Sempalan itu mungkin diciptakan untuk menginfiltrasi Syiah, menimbulkan fitnah dan perpecahan di kalangan kaum muslim. "Memang ada infiltran-infiltran yang menjadikan kecintaan kepada Ali sebagai perisai ~untuk membela diri, lalu dibilang Syiah," ujar Quraisy. Lalu tuduhan Quran yang berbeda itu? Rupanya memang ada hadis-hadis yang sering dipakai untuk memojokkan Syiah, yang menyatakan adanya beberapa bagian Quran yang hilang. Misalnya tentang surat Al-Wilayah. "Tapi hadis tadi oleh orang Syiah sendiri digolongkan hadis maudh~ palsu. Artinya, tidak dipakai," ujar Jalaluddin Rahmat, dosen ITB, Unpad, dan IAIN Bandung, kepada Hedy Susanto dari TEMPO . Sebaliknya, menurut Rahmat, di kalangan Sunni ada juga beberapa hadis yang menerangkan penambahan atau pengurangan ayat Quran. Misalnya, apa yang ditulis Bukhari ~(mengutip Huzaifah, sahabat Nabi saw.) dalam kitab Shahih-nya, yang menyatakan, "Dahulu di zaman Rasulullah, surat Al-Ahzab itu panjangnya sama dengan AlBaqarah. Pada surat Al-Ahzab sekarang ini hilang 70 ayat." Di pesantren kita ada juga buku teks Al-~Itqan karya Jalaluddin as-Suyuti, yang menerangkan kekuran~an Quran Sur~ni sekarang ini, " Dan itu dipercaya kalangan kita, Ahlus-Sunah," katanya. Menurut Rahmat, orang Syiah tak pernah menuduh Quran yang Sunni itu palsu. Sebab, yang paling logis tentu karena "ketidakpercayaan" terhadap kemurnian hadis sumber hukum kedua dalam Islam -- yang kadane kala mudah diperdebatkan. Dalam kitab hadis standar Syiah Al-Kafi sendiri, menurut Hasyim Ma'ruf al-Hasani, terdapat juga ribuan hadis yang tidak sahih alias benar. Itu agaknya termasuk keterangan Al-Kulayni (penulis Al-Kafi) tentang adanya penyimpangan dalam Quran. "Dari 16 ribuan hadis dalam Al-Kafi, kata Hasyim, cuma lima ribuan yang sahih," tutur Rahmat. Artinya, hadis dalam Al-Kafi itu tak seluruhnya dipercaya oleh orang Syiah sendiri. "Kita tidak bisa menuduh adanya penambahan atau pengurangan baik pada Quran Sunni ataupun Syiah. Toh, Allah sendiri menjamin terpeliharanya Quran dari tangan-tangan jail," ujarnya lagi. Sebetulnya, seminar atau dialog antarnazhab sudah sering dilakukan, tidak saja di Indonesia, juga di pelbagai negara muslim. Sebuah buku dialog di antara mereka telah ~dibuat, berisikan surat-menyurat antara ulama Sunni Mesir, Syaikh Bisyri al-Maliki, dan ulama Syiah, Sayyid Syarafuddin al-Musawi. Syaltut, Rektor Al-Azhar, pada tahun 50-an telah mengeluarkan fatwa untuk melepaskan umat dari fanatisme mazhab tertentu. Kendati begitu, masih ada yang tidak sependapat. Ihsan Ilahi Zhahir, penulis yang mengecam. Syiah, menyatakan bahwa Syaltut itu "orang tua Mesir yang terkecoh Syiah".

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Ralat

Soentoro sastro soewarno

Seni Rupa

Kurang kalimat

Para anugerahawan dan para ...

Harga, makna, dakwah

Surat Dari Redaksi

Wawancara dengan sumitro

DUS

Membekukan kepala ibu tercinta

Sesudah menggilas, kini menuntut sesudah menggilas, kini menuntut

Keluarga besar perlu kb

Album

Dilantik

Dilantik dipromosikan

Dilantik

Agama

Seminar mencerca syiah

Menuduh quran yang beda

Indonesiana

Di radio ada jalan kaki

Di radio ada jalan kaki

Ikrar tak kawin

Buku

Menentang kolonialisme dari rantau

Menuju indonesia mulia

Primbon dokter

TEMPO|interaktif

Nasional

Demokrat Copot Mirwan Amir dari Pimpinan Banggar

Bisnis

Pemegang Saham Setujui Stock Split Kalbe Farma  

Gaya Hidup

Tips Cantik Ala Halle Berry

Nasional

Pendaftar SNMPTN Bandung Salah Isi Formulir

Olahraga

Juarai Seri-A, Awal buat Juventus Taklukan Dunia

Olahraga

Dua Trofi Inter Dipamerkan di Senayan  

Bisnis

Asia-Pasifik Dimbau Kurangi Ketergantungan Ekspor

Bisnis

Kalbe Farma Bagikan Dividen Rp 891 Miliar

Olahraga

Taufik Kalah, Indonesia Tertinggal 2-1  

Seni & Hiburan

Indah Dewi Pertiwi Ngebet Nonton Lady Gaga  

Olahraga

Pelatih Inter Milan Janjikan Tampilan Menghibur  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif