• Home
  • 06 Agustus 1988
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Perilaku
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
  • Prelude
    • Surat Dari Redaksi
    • Ralat
    • Album
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Selingan
  • Seni
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 06 Agustus 1988

    Campak Mengguncang di Sibinail

    GUBERNUR Sumatera Utara Raja Inal Siregar marah besar. Pasalnya? Aparat pemerintah daerah dinilainya sangat lamban dalam menyampaikan informasi. Teleks yang memberitakan wabah campak melanda Desa Sibinail, Kccamatan Muara Sipongi, Tapanuli Selatan, baru tiba di mejanya sctelah penyakit itu menjalar sebulan lebih. Raja Inal, menurut sumber TEMPO di Kantor Gubernur Sumatera Utara, makin berang ketika mengetahui bahwa wabah campak sudah berulang kali menyerang Kabupaten Tapanuli Selatan. Pekan lalu, Raja Inal memerintahkan aparat pemerintah daerah agar melakukan penelitian secepatnya. "Kalau perlu, lakukan imunisasi di semua desa di kabupaten itu," katanya. Sampai pekan lampau, korban campak di Dcsa Sibinail, yang berpenduduk 919 jiwa, tercatat 23 orang tewas dan 225 lainnya terkapar dalam kondisi sangat buruk. Laporan terakhir menyebutkan bahwa wabah campak sudah menyeberang ke Desa Silaung, lima kilometer dari Sibinail, dan telah minta dua nyawa penderita. "Bukan main bingungnya kami ketika wabah itu menjalar di desa kami," ujar Asina, Kepala Desa Sibinail. "Hampir tiap hari seorang dari anak-anak kami meninggal." Asina, 40 tahun, ayah empat anak, menambahkan bahwa korban campak pertama adalah Suatik, 3 tahun, yang meninggal pada 4 Juni lalu. "Anak itu terserang demam dengan bintik-bintik merah di tubuhnya. Ia tak mau makan, tapi minta minum terus," cerita Asina. Suatik dibawa ayahnya, Darli, berobat ke dukun, tapi tak tertolong. Semula penduduk Desa Sibinail menyangka penyebab kematian Suatik hanya demam biasa. Kepanikan mulai muncul ketika dua anak Kamat -- Makbul (3 tahun) d.1n Masri (2 tahun) -- meninggal dengan gejala sama pada 19 Juni. "Sejak itu, hampir tiap malam pintu rumah penduduk diketuk tetangga mengabarkan anak si anu meninggal," cerita Asina. Awal Juli, ketika keadaan makin parah, Asina mengirimkan kabar ke kantor camat di Muara Sipongi. Keterlambatan itu, menurut Asina, selain karena mereka panik, "perjalanan ke Muara Sipongi, walau hanya berjarak sembilan kilometer, sangat sulit." Pertolongan baru tiba seminggu kemudian dari Desa Pakantan, 23 kilometer dari Sibinail. Itu pun hanya mantri puskesmas yang datang. Laporan mantri puskemas inilah, setelah melewati camat dan bupati, yang sampai ke meja gubernur 18 Juli lalu. Empat hari kemudlan, Raja Inal memerintahkan dinas kesehatan melakukan imunisasi dan memberikan obat-obat pencegah infeksi sekunder kepada penduduk Desa Sibinail. Persis ketika tim kesehatan memulai operasinya, dua korban masih jatuh. Mereka: Butet (1 tahun) dan Asmadi (3 tahun). Menurut seorang petugas kesehatan, penyebab kematian kedua korban adalah infeksi sekunder: radang paru-paru. "Penduduk umumnya tak mengerti apa penyakit campak itu," ucap petugas yang tak mau namanya disebutkan itu. "Setelah demam turun dan bintik-bintik di tubuh hilang, ada orangtua -- menyangka anaknya sudah sembuh memandikan anaknya itu di sungai." Akibatnya, demam si penderita, yang sebenarnya belum sembuh, kembali kambuh, karena pneumonia. Penderita kemudian meninggal karena radang paru-paru. Mengapa penyakit campak gampang berjangkit di suatu daerah? Keadaan gizi penduduk yang buruk ikut mempermudah wabah itu berjangkit. Lihat saja makanan sehari-hari penduduk Desa Sibinail, misalnya, yang hanya nasi dan ikan asin. Padahal, desa itu bukan desa miskin. Desa Sibinail menghasilkan kopi, minyak nilam, dan padi yang berlimpah. Pada masa panen, sekitar Mei lalu, cetita Asina, tak kurang dari 50 ton kopi keluar dari desa ini. "Dengan menjual dua ton kopi, satu keluarga petani bisa mendapat keuntungan sampai Rp 4 juta," kata kepala desa itu. Lalu, mengapa penduduk sampai rawan gizi? Letak Desa Sibinail yang terpencil, dan perhubungan pun tak lancar, membuat penduduk malas berbelanja ke Muara Sipongi. Penghasilan mereka yang tinggi, kata Asina, tak pernah digunakan penduduk untuk memelihara kesehatan. Selain itu, menurut mantri di puskesmas Kecamatan Sipongi, mereka sama sekali tak mengerti apa arti kesehatan. "Kalau kami datang ke sini, penduduk berhamburan melarikan diri, karena takut disuntik," ujarnya. Untung, kerja sama bisa dibina ketika wabah merajalela. Penduduk bersedia mendapat imunisasi. Sinyalemen mantri itu ada benarnya. Laporan Affan Bey Hutasuhut dari TEMPO Biro Medan, yang sejak dua pekan lalu berada di Desa Sibinail, memang menyebutkan kondisi kebersihan di desa itu cukup parah. Penduduk jarang mandi, dan kain kotor berserakan di mana-mana bercampur dengan makanan. Anak-anak di bawah lima tahun (balita) dengan bebas bermain-main di halaman yang penuh kotoran lembu dan kambing. Bagaimana mereka tak gampang sakit ? Jim Supangkat

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Ralat

Bantahan alamsyah

Surat Dari Redaksi

Berkunjung ke kantor tempo

Berkunjung ke kantor tempo

Catatan Pinggir

Burma

Album

Menerima penghargaan

Menikahkan putri bungsunya menikah

Pernikahan menikahkan putrinya menikah

Agama

Godaan setelah penyaliban

Mencintai kristus menurut nikos

Mencintai kristus menurut nikos

Indonesiana

Murid prabu siliwangi

Sangkala dan tiang listrik

Buku

Sang detektif di tengah kita

Di debur ombak parang tritis

Seni Rupa

Karya anak-anak bersejarah

TEMPO|interaktif

Nasional

Demokrat Copot Mirwan Amir dari Pimpinan Banggar

Bisnis

Pemegang Saham Setujui Stock Split Kalbe Farma  

Gaya Hidup

Tips Cantik Ala Halle Berry

Nasional

Pendaftar SNMPTN Bandung Salah Isi Formulir

Olahraga

Juarai Seri-A, Awal buat Juventus Taklukan Dunia

Olahraga

Dua Trofi Inter Dipamerkan di Senayan  

Bisnis

Asia-Pasifik Dimbau Kurangi Ketergantungan Ekspor

Bisnis

Kalbe Farma Bagikan Dividen Rp 891 Miliar

Olahraga

Taufik Kalah, Indonesia Tertinggal 2-1  

Seni & Hiburan

Indah Dewi Pertiwi Ngebet Nonton Lady Gaga  

Olahraga

Pelatih Inter Milan Janjikan Tampilan Menghibur  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif