Hukum

Antara Honor Dan Memeras

Pengacara daulat simanjuntak & jhoni sibuea akan disidangkan. dituduh memeras & menipu kliennya: tiolina. poltabes medan berhasil menangkap keduanya, ketika tiolina berpura-pura membayar honor mereka.
DUNIA kepengacaraan tampaknya semakin redup di Sumatera Utara. Lihat saja "daftar hitam" berikut. Setelah Hasanuddin, Direktur LBH Medan, dilarang atasannya menangani perkara, dan Syarif Siregar, S.H. ditahan Polda Sum-Ut awal September lalu, kini menyusul Daulat Simanjuntak, 39 tahun, serta temannyaJhoni Sibuea, 33 tahun, akan duduk di kursi tersangka di Pengadilan Negeri Medan.

Jaksa Djafar Harahap, Rabu pekan lalu, sudah menyampaikan berkas dakwaannya ke PN Medan. "Kami sedang menyusun majelisnya," kata Hakim Simanjuntak, Humas PN Medan, kepada TEMPO.

Daulat, ayah 5 anak itu, dan Jhoni keduanya alumnus FH Universitas Sumatera Utara -- dituduh memeras dan menipu kliennya. Kedua pengacara itu, pada 23 Februari 1988, bertemu dengan Tiolina boru Siagian, di ruang tunggu rumah tahanan Poltabes Medan.

Waktu itu, Tiolina, 55 tahun, menjenguk Sabung Manurung, 32 tahun, putranya yang ketiga dari 13 bersaudara, yang mendekam di rutan tersebut. Sabung, ayah 2 anak itu, awal Februari lalu bersama komplotannya, 42 orang, merampok di Jalan Setiabudi, Medan.

Brigjen. Kunarto, Kapolda Sum-Ut, lewat pemberitaan surat kabar mengancam para bajingan itu akan diuber sampai ke lubang semut kalau tidak menyerah. Ini memaksa Tiolina membujuk anaknya, Sabung, yang kebagian hasil rampokan Rp 200 ribu, menyerah.

Di ruang tunggu itu, Sabung menangis di depan ibunya. "Saya dipukul pakai broti Mak," kata Sabung. Penderitaan itu didengar Daulat dan Jhoni. Berlagak prihatin, kedua pengacara itu menawarkan jasa baik. "Kami akan mengurus, si Sabung tak bakalan disiksa lagi," kata kedua pengacara itu seperti ditirukan Tiolina.

Syaratnya, Tiolina harus menyerahkan Rp 500 ribu. Duit itu akan diberikan Daulat dan Jhoni kepada 5 polisi yang disebut-sebut gemar menyiksa Sabung. Tiolina, penjual sayur eceran itu, terkejut. Dia tak punya uang sebanyak itu.

Karena sayang anak, Tiolina terpaksa mengutang Rp 200 ribu dan memberikannya kepada Daulat dan Jhoni. Sayangnya, tak ada kuitansi pembayaran. "Sisanya kubayar kalau aku sudah punya duit," kata Tiolina, yang gemuk itu. Sisa itulah yang kemudian dipaksakan kedua pengacara itu untuk dilunasi Tiolina. "Kalau tidak, Sabung nanti berak kapur disiksa polisi," gertak sang pengacara, Daulat dan Jhoni.

Namun, sampai Sabung keluar LP 15 Mei lalu, kedua pengacara itu masih ngotot menagih "piutang" itu. Tiolina jengkel, lalu mengadu ke Polda Sum-Ut. Berdasarkan hasil rembukan, kedua pengacara itu dijebak pada saat Tiolina berpura-pura menyerahkan kekurangan utangnya.

Cara itu jitu. Keduanya ditangkap, dan kemudian semalaman diperiksa di Poltabes Medan. Sumber TEMPO mengatakan, Daulat dan Jhoni mengaku meminta duit kepada Tiolina sebagai honor. Namun, kedua pengacara itu tak berkutik lagi ketika polisi meminta surat kuasa hukum yang menyatakan Tiolina menunjuk Daulat dan Thoni sebagai pembela. Dengan kata lain, Daulat dan Jhoni tak pernah mengurus Sabung. Jadi, honor itu cuma alasan. "Cara menggertak kedua pengacara itu adalah pemerasan psikologis kata Hakim Simanjuntak.

Benar-tidaknya kisah uang pelicin itu memang belum pasti. Sebab, hingga Sabtu malam pekan lalu, kedua pengacara itu tak berada di kediaman mereka untuk dimintai tanggapan. Tapi siapa tahu, kasus itu akan jelas setelah mereka memberikan keterangan di persidangan, yang sedianya dibuka pekan ini.
POKOK & TOKOH

Lelang benda koleksi

Elton john melelang berbagai benda koleksinya senilai hampir us$ 5 juta. ada sekitar 2000 benda yang dilelangnya melalui tempat pelelangan sotheby, london elton mengumpulkan koleksi baru & tetap menyanyi.

KOLOM

Dua kali bersama bung karno

Pengalaman umar kayam berjabat tangan dua kali dengan bung karno mempunyai arti tersendiri. ketika ia ditawari memerankan bung karno, ternyata tidak cukup untuk bahan penghayatan yang mendalam.

CATATAN PINGGIR

Bung Karno

Di masa Bung Karno, Indonesia punya citra seorang kesatria, tak butuh uang dan kemewahan. Kini lebih mencari kekayaan daripada keagungan. Sebagai wilayah yang berpenduduk hidup dgn pamrih & kegelisahan.

TempoInteraktif

Luarnegeri
PBB Serukan Penghapusan Hukuman Mati
-----------------
Kesehatan
Di Jerman, Sepeda Statis Bisa Menyebabkan Kanker
-----------------
F1_moto_gp
Rossi: Saya Bisa Jadi Pembalap Formula Satu yang Bagus
-----------------
Musik
Placebo Akan Konser di Biara Angkor Wat
-----------------
Sepakbola
Diego Milito Abaikan Real Madrid
-----------------
Sepakbola
Gallas Kecam Temperamen Pemain Muda Arsenal
-----------------
Sains
Operasi Cangkok Batang Tenggorokan Sukses
-----------------
Hukum
Yusril Tinggalkan Gedung Bundar
-----------------
F1_moto_gp
Valentino Rossi Menguji Mobil Formula Satu
-----------------
Ekbis
Negara Kurang Berkembang Minta Tambahan Bantuan
-----------------