• Home
  • 29 Oktober 1988
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Perilaku
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
  • Prelude
    • Surat Dari Redaksi
    • Ralat
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Selingan
  • Seni
    • Musik
    • Teater
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 29 Oktober 1988

    Daun-daun baru beringin

    HUJAN bulan Oktober mulai turun, pucuk beringin pun bersemi. Daun-daun baru beringin itu pun tampak tertera dalam kepengurusan DPP Golkar 1988-1993. Sekitar separuh dari 45 pengurus DPP terdiri atas wajah baru. Mereka tak hanya pada lapis terbawah. Tapi juga di pucuk tertinggi: Wahono sebagai Ketua Umum. Sedang Rachmat Witoelar, yang terpilih sebagai Sekjen, merupakan wajah lama. Di DPP sebelumnya ia duduk di Departemen Organisasi. Di jajaran ketua, juga ada muka baru. Sebelumnya, Ny. A.S. Murpratomo menjadi satu-satunya wanita yang menduduki posisi ketua. Tetapi pengangkatannya sebagai Menteri Negara Urusan Peranan Wanita jelas tak memungkinkan baginya untuk langsung aktif di kepengurusan Golkar. Tak heran bila kemudian Nyonya Mien Sugandhi naik ke atas pentas menjadi salah satu ketua. Yang menarik, begitu Ny. Mien masuk, suaminya, R. Sugandhi, mengakhiri masa baktinya sebagai salah satu ketua Golkar. Buat Ny. Mien Sugandhi, 53 tahun, giat dalam organisasi sudah menjadi "makanannya" sejak dulu. Sampai saat ini ia masih duduk sebagai anggota DPR di Komisi VIII. Ia juga menjabat sebagai Ketua Umum DPP Wanita HKTI (Himpunan Kerukunan Tani Indonesia). Ia juga menjadi Ketua Umum IKKH (Ikatan Kesejahteraan Keluarga Hankam). Sejak 1970 ia juga menjabat Ketua MKGR. Lalu beberapa pekan lalu ia terpilih sebagai Ketua Umum DPP Kowani. Lahir dengan nama Siti Aminah, Ny. Mien, yang punya seorang putri yang memberinya tiga cucu, masih gemar joging bersama suaminya. Kepindahan nama dari kepengurusan Golkar ke kabinet tak hanya buat Ny. A.S. Murpratomo. Sarwono Kusumaatmadaja, Akbar Tanjung, dan Siswono Judho Husodo pula. Maka, nama mereka pun tercoret dari daftar pengurus baru. Yang tak banyak disangka orang luar adalah pemunculan M. Soegeng Widjaja. Ia pun masuk jajaran ketua. Kakek 4 cucu yang kini berusia 63 tahun ini selama ini lebih dikenal sebagai juru bicara Fraksi ABRI di DPR/ MPR. Kepensiunannya dari ABRI memungkinkan Soegeng aktif di Golkar. Dan langsung menduduki posisi ketua. Perjalanan karier Soegeng cukup panjang. Dia berasal dari jajaran Kodam Brawijaya. Dari masa kemerdekaan hingga tahun 1959, ia di Malang. Tapi kemudian ia menjadi Kepala Staf Korem Nusa Tenggara Barat. Dari posisi ini, ketika pangkatnya letnan kolonel ia menyeberang ke "dunia sipil", tahun 1962. Yakni menjadi Ketua DPRD Nusa Tenggara Barat. Anehnya, lima tahun kemudian ia kembali masuk lingkungan militer. Berangsur, jabatan Soegeng pun meningkat. Sampai akhirnya pada tahun 1980 ia menjadi orang pertama yang mengurusi pembinaan mental di ABRI -- Kapusbintal. Setelah itu, Soegeng menjadi anggota DPR. Kini, selain di DPR, ia pun menjadi Pemimpin Redaksi Harian Berita Yudha. Salah satu ketua Golkar yang baru adalah Waskito, 54 tahun. Di kepengurusan Golkar yang lalu, ia sebelumnya berada di Departemen Seni Budaya. Uniknya, orang Semarang ini selalu membayang-bayangi langkah pendahulunya, A.E. Manihuruk. Ketika Manihuruk menjadi Kepala BAKN (Badan Administrasi Kepegawaian Negara) Waskito )adi wakilnya. Ketika Arsennius Elias Manihuruk tetap menjadi orang kuat Golkar sebagai ketua -- kini Waskito pun menjadi ketua pula. Waskito sendiri mengaku baru aktif di Golkar tihun 1983. Menjadi simpatisannya sudah lama. "Namanya juga pegawai negeri," katanya. Tapi lebih dari itu, "jiwa saya memang sudah Golkar." Tentang cara kerjanya, sarjana ekonomi UI ini punya kiat tersendiri -- cepat, tepat, aman. Yang juga duduk di papan atas adalah Eric F.H. Samola. Pria kelahiran Manado 52 tahun lalu itu kini terpilih menjadi bendahara -- jabatan yang memang cocok bagi pengusaha. Sebab, di Golkar pun, pengertian bendahara bukan hanya mengelola dana tapi yang lebih penting adalah mencari dana. Itu agaknya yang menyebabkan Samola Direktur PT Pembangunan Jaya dan Direktur Utama PT Grafitipers -- dianggap tepat menggantikan Zarlons Zaghlul. Di keorganisasian, untuk bidang yang "nyerempet-nyerempet" uang, Samola bukan orang baru. Sebelum ini, ia mengetuai Departemen Koperasi dan Wiraswasta DPP Golkar. Selain itu, ia pernah menjadi Ketua Persatuan Pengusaha Real Estate Indonesia, dan aktif di Kadin. Masa kecilnya, dengan uang pas-pasan -- yatim, beribu seorang guru -- menempanya untuk piawai mengurus keuangan. Sedang prinsipnya, "Saya tak bisa bekerja setengah-setengah." Selain Soegeng Widjaja, lingkungan ABRI uga mengantarkan orangnya yang lain ke lapis atas Golkar. Yakni dr. R. Suhadi. Pertama kali masuk kepengurusan, R. Suhadi sudah terpilih mendampingi Rachmat Witoelar sebagai Wakil Sekjen. Di DPR Suhadi menjabat Ketua Komisi VIII, yang berurusan dengan bidang kesehatan dan sosial. Wakil Sekjen yang lain adalah Usman Hasan. Usman tentulah orang Golkar paling getol bicara soal tani dan nelayan. Sebelum ini, ia adalah Ketua Departemen Tani dan Nelayan. Organisasi akarnya adalah HKTI (Himpunan Kerukunan Tani Indonesia), sebagai ketua. Sejak muda ia bergelimang dengan dunia tani. "Lingkungan saya adalah masyarakat petani yang tak pernah berkecukupan," katanya. Karena itu, ia yakin, untuk bisa memperjuangkan nasib petani haruslah lewat jalur politik. Pada karier politiknya, Usman pernah menjadi salah satu ketua DPD Golkar Sumatera Utara, 1977-1982. Yang juga bangkit adalah Jacob Tobing, politikus yang menerjuni dunianya sejak masih mahasiswa. Mulanya ia mahasiswa arsitektur ITB, tapi "keburu turun ke jalan". Gegap-gempita kegiatan KAMI menyeretnya ke panggung politik. Aktif di Golkar sejak sembilan belas tahun lalu, Jacob mulai tampil di kepengurusan DPP tahun 1978. Periode lalu ia mendapat posisi penting: Ketua Departemen Organisasi, Keanggotaan, Kaderisasi. Itulah yang agaknya melontarkannya ke atas, menjadi salah seorang ketua. Orang baru yang lain adalah Andi Mochtar, yang dalam DPP baru ini menjabat Wakil Sekjen. Buat Andi 53 tahun, aktif di Golkar sudah dijalaninya sejak 1971, saat ia menjabat Sekretaris DPD Golkar Tingkat I Sul-Sel. Di Ujungpandang, ia menjabat Ketua Pengadilan Negeri setempat. Andi memang lulusan Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin pada 1965. Pada 1981 ia hijrah ke Jakarta, untuk menjadi anggota DPR, yang dijalaninya hingga kini. Rekan Andi sebagai Wakil Sekjen adalah Freddy Latumahina. Freddy, kelahiran Nusa Laut, Maluku, 43 tahun silam ini dalam DPP sebelumnya duduk di Departemen Pemuda. Sarjana Filsafat UI ini mengaku, Almarhum Ali Moertopo-lah yang pertama memperkenalkannya kepada Golkar. Sampai kini ia masih mengingat salah satu nasihat Pak Ali. "Beliau mengatakan, setiap menghadapi tantangan, supaya bertahan dan tidak mundur," ujarnya. DPP Golkar yang baru ini tampaknya "dikuasai" penggemar tenis. Wahono senang tenis. Rachmat Witoelar malah menjabat Sekjen Pelti. Hobi Soegeng Widjaja juga tenis. Deretan ini kini ditambah lagi dengan hadirnya Ketua Bidang Pembinaan Pelti, Pontjo Nugroho Sutowo, sebagai Wakil Bendahara. Pontjo, 38 tahun, sudah dikenal sebagai pengusaha muda yang sukses sejak terjun ke bidang bisnis pada usia 20 tahun. Putra bekas Dirut Pertamina Ibnu Sutowo ini sekarang menjabat pimpinan beberapa perusahaan, yang antara lain bergerak di bidang galangan kapal, kontraktor, bangunan, perbankan, asuransi, dan peternakan. Salah satu jabatan Pontjo adalah sebagai Dirut PT Indobuildco, yang memiliki Hotel Hilton. Di antara para wajah baru, sejumlah wajah lama pun bertahan. A.E. Manihuruk ternyata tetap bertahan sebagai ketua. Begitu juga Imam Soedarwo, yang Ketua Umum Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI), dan Oetojo Oesman dari SOKSI -- salah satu organisasi pendiri Golkar. Sedang Ny. Tati Sumiyati Darsoyo juga tetap menduduki jabatan yang telah 10 tahun dipegangnya, Wakil Bendahara. Yang tak banyak diduga adalah masih bertahannya K.H. Mochamad Tarmudji. Pimpinan Pesantren Sabilil Muttaqien (PSM), Takeran, Madiun ini agaknya diperlukan mewakili kalangan pesantren di jajaran ketua. PSM memang korban hancurhancuran pemberontakan PKI 1948. Dan pesantren ini salah satu pesantren pertama yang mendukung Golkar -- tahun 1969. Usai pemilu 1971, Tarmudji menjadi anggota DPRD Jawa Timur. Lalu pulang ke Takeran, "Menjadi juru kunci masjid dan makam." Setelah Pemilu 1977, ia menjadi anggota DPR dan terus-menerus terpakai di DPP Golkar. WAHONO Semasa kecil, Wahono dijuluki "jenderal" oleh orangtuanya. Soerodidjojo dan Moedjilah, keduanya almarhum, memang kerap menjumpai sifat "lain" dari anak ke-10 (dari 12 bersaudara) mereka dibanding teman sebayanya. Anak mantri polisi ini selalu mengerjakan sesuatu tepat pada waktunya. Pada pukul 19.00 tepat, ia akan mulai belajar, tak peduli di rumah ada tamu. "Waduh, No, kowe iki kok koyo jendral ae (Kamu ini kok seperti jenderal saja)," begitu ibunya selalu berkata. Dan pekan ini, siapa yang menyangka si jenderal kecil yang dilahirkan di Desa Mayangan, Ngantru, Tulungagung, Jawa Timur, pada 25 Maret 1925 itu terpilih sebagai Ketua Umum Golongan Karya. Ya, Wahono akhirnya duduk sebagai "jenderal", orang pertama, partai terbesar Indonesia itu. Dikenal sederhaha, disiplin, dan jujur, tak suka menonjolkan diri, apalagi berambisi. "Saya akan mengutamakan kerja kolektif dan melupakan popularitas diri," ujarnya tentang jabatannya di Golkar nanti. Hidupnya rutin dan disiplin. Seusai nonton Dunia Dalam Berita di TVRI, ia tidur. "Jam empat pagi saya sudah bangun," katanya. Langsung ia menyetel radio, mendengarkan siaran bahasa Indonesia Radio Australia. Lalu, ganti Voice of America didengarnya. "Setelah itu, saya membaca bahan yang harus saya kerjakan hari itu," katanya lagi. Sebelum pukul 8 pagi ia sudah berada di kantornya. Wahono tak gemar nonton film. "Paling-paling nonton video anak-anak bersama cucu saya," katanya. Ia juga tak merokok, juga tak minum minuman keras. Hiburan satu-satunya bagi Wahono adalah tenis. "Di lapangan tenis saya bisa bercanda, bersantai, dan sejenak melupakan urusan kantor," tuturnya tentang olahraga yang dimainkannya sejak tahun 1950 itu. Itu sebabnya, tubuhnya -- tinggi 171 cm, dan berat 70 kg -- tampak selalu sehat. Istrinya, Mientarsih Syahbandar, terkadang juga mendampinginya bermain tenis. "Saya kenal Ibu dulu ketika sedang dinas di Bandung," cerita Wahono. Ketika itu, ia adalah Kepala Staf Yon 504 Merak, Kediri, yang tengah menumpas pemberontakan DI/TII di Bandung, Garut, dan sekitarnya. Mereka menikah pada 3 Juni 1951 dan kini dikaruniai enam putra-putri dan seorang cucu. Karier militer Wahono dimulai dengan bergabung dalam Peta, selepas dari HIS di Tulungagung dan MULO di Kediri. Ia kemudian ikut perjuangan fisik melawan Belanda di Surabaya, Kediri, dan Madiun. Pada 1961 sampai 1962 ia masuk Seskoad angkatan I -- antara lain seangkatan dengan bekas Menko Polkam Surono. Kemudian, Wahono ikut dalam penumpasan G-30-S/ PKI pada 1965. "Ketika itu Pak Harto adalah Pangkostrad dan saya Asisten II Kostrad," kisahnya. Pada 1970-1972, Wahono bertugas sebagai Pangdam V Brawijaya di Jawa Timur. Kemudian, ia kembali ke Jakarta: sebagai Pangkostrad. Karier militer terakhirnya adalah Deputi Kasad. "Pak Try, Pak Rudini, dan Pak Benny itu pernah jadi anak buah saya," ujarnya. Selepas dari militer, dengan pangkat terakhir letnan jenderal, pada 1977, Wahono bertugas sebagai dubes di Burma selama empat tahun. Pulang ke tanah air, ia menjabat sebagai Dirjen Bea Cukai sampai 1983. Setelah itu, ia menjadi Gubernur Jawa Timur. Dan sukses. Yang unik, Wahono sesungguhnya tak suka pidato. Ia lebih suka langsung berbicara dengan rakyat dan, "melihat sinar mata mereka," katanya. Dengan begitu, ia memang "mengakar" di Jawa Timur. Sampai-sampai, sekelompok orang yang kebetulan punya nama Wahono sengaja membuat kelompok "Wahono" yang sampai kini masih aktif mengikuti langkah Pak Wahono. RACHMAT WITOELAR Menjelang pengumuman susunan Kabinet RI akhir Maret lalu, Rachmat Witoelar santer disebut-sebut sebagai calon Menteri Pertambangan dan Energi. Dugaan itu ternyata meleset. Akhirnya, yang ditunjuk Presiden Soeharto sebagai Menteri Pertambangan dan Energi adalah Ginandjar Kartasasmita. Namun, itu tak berarti karier politik Rachmat sudah berakhir. Hanya empat bulan kemudian, pria kelahiran Tasikmalaya itu sudah kembali menarik perhatian media massa. Sebagai juru bicara F-KP, ia membacakan pernyataan yang cukup "keras" terhadap dampak buruk penjualan KSOB dan TSSB, yang konon tak dikonsultasikan lebih dahulu dengan DPP Golkar. Kini nama Rachmat kembali memancar. Dengan terpilihnya dia sebagai Sekjen DPP Gokar, menggantikan teman akrabnya Sarwono Kusumaatmadja, berarti ia akan berduet dengan Ketua Umum Wahono, mengendalikan organisasi politik yang beranggotakan 32 juta orang itu. Minggu pagi pekan lalu, pasangan itu sudah mulai mengadakan uji coba untuk bekerja sama. Tempatnya di lapangan tenis hotel Hilton, Jakarta. Hasilnya ternyata memuaskan. Ganda Wahono - Rachmat mampu mengalahkan pasangan Saiful Sulun - Makadada dengan angka mutlak 7-0. "Saya memang orang yang suka kompetisi yang fair," ujar Rachmat, 47 tahun yang beristrikan Ketua Yayasan Lembaga Konsumen, Erna Witoelar. Boleh jadi, ini pertanda bahwa duet Wahono-Rachmat yang sudah kompak di lapangan tenis itu akan dilanjutkan di kantor Golkar yang terletak di Slipi, Jakarta Barat. Rachmat sudah lama berkubang di kancah politik Orde Baru. Ia mulai naik panggung politik ketika menjabat sebagai Ketua DM ITB di pertengahan tahun 1960-an. Setamat dari Jurusan Arsitektur ITB pada tahun 1970, ia kemudian terpilih menjadi anggota DPR-RI, mewakili Golkar. Kini ia menjabat Sekretaris F-KP. Dalam DPP lama ia duduk di Departemen Organisasi, Keanggotaan, dan Kaderisasi. "Saya sendiri tidak tahu, apa saya masuk politik, atau politik yang masuk ke saya," katanya. Di samping bermain politik, anak keempat dari lima bersaudara putra diplomat Achmad Witoelar Kartaadipoetra ini juga gemar berolahraga. Hobinya main bola, catur, tenis, dan menyelam.

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Ralat

Kebocoran di chernobyl

Surat Dari Redaksi

Wawancara dengan mick jagger

Catatan Pinggir

W

Agama

Halal, Walau Berlemak Babi ?

Ragu-ragu dalam permisif

Buku

Usaha mengejar ketinggalan

Indonesiana

K.r.t. (kanjeng raden tangkil) ...

Tarwo tarwi menang perkara

Ular sawah komersial

TEMPO|interaktif

Nasional

Demokrat Copot Mirwan Amir dari Pimpinan Banggar

Bisnis

Pemegang Saham Setujui Stock Split Kalbe Farma  

Gaya Hidup

Tips Cantik Ala Halle Berry

Nasional

Pendaftar SNMPTN Bandung Salah Isi Formulir

Olahraga

Juarai Seri-A, Awal buat Juventus Taklukan Dunia

Olahraga

Dua Trofi Inter Dipamerkan di Senayan  

Bisnis

Asia-Pasifik Dimbau Kurangi Ketergantungan Ekspor

Bisnis

Kalbe Farma Bagikan Dividen Rp 891 Miliar

Olahraga

Taufik Kalah, Indonesia Tertinggal 2-1  

Seni & Hiburan

Indah Dewi Pertiwi Ngebet Nonton Lady Gaga  

Olahraga

Pelatih Inter Milan Janjikan Tampilan Menghibur  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif