• Home
  • 01 April 1989
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Perilaku
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
  • Prelude
    • Surat Dari Redaksi
    • Album
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Selingan
  • Seni
    • Teater
    • Desain
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 01 April 1989

    Anwar bima, bukan lampung

    ADA apa di Bima? Pada 16 Februari lalu, aparat keamanan di Provinsi Nusa Tenggara Barat, dikabarkan, menangkap 50-an orang yang mencurigakan. Di antara mereka, termasuk seorang tokoh organisasi, dua anggota DPRD, dan seorang pejabat daerah. Adalah Haji Gani Masjkur, 58 tahun, Ketua I Pengurus Muhammadiyah, merangkap Ketua Majelis Tarjih Muhammadiyah Bima. Ia disebut-sebut sebagai tokoh utama gerakan ini dengan jabatan Ketua Wilayah Provinsi NTB. Sehari-hari ia, pensiunan Kepala Kantor Departemen Agama Kabupaten itu, menjadi dosen Bahasa Arab dan tafsir Alquran di Universitas Muhammadiyah Bima. Tokoh yang lain bernama Nur Husen, ketua gerakan untuk Kabupaten Bima, kabupaten di ujung timur Pulau Sumbawa, Provinsi NTB. Nur, 60 tahun, anggota veteran, bekas anggota DPRD NTB mewakili Golkar. Adik Nur, Ahmad Husen, 50 tahun, konon, menjabat wakil ketuanva. Adik ini menjabat Kepala Penilik Kebudayaan Kanwil P dan K Kecamatan Belo. Tokoh gerakan lainnya, Maman H.S., bekas anggota DPRD Bima dari PPP. Soal ini segera menjadi bahan bisik-bisik sampai ke Jakarta. Malah ada suara-suara yang menghubungkan penangkapan di Bima dengan peristiwa GPK Warsidi alias Anwar yang meletus di Lampung, 6 Februari lalu. Tapi Pangab Jenderal Try Sutrisno membantah keterkaitan itu. "Saya tidak melihat itu," katanya kepada wartawan, Kamis pekan lalu. Kepala Penerangan Humas Bakorstanasda Bali Nusa Tenggara Letkol. Anton Tompudung juga tak melihat hubungan Lampung dan Bima. Kata dia, "Sampai saat ini kami belum temukan aktor intelektual di belakang gerakan ini. Kalau dicari kesamaannya dengan Peristiwa Lampung, ya, mereka ini sama anti-Pancasila, anti-RI, ataupun anti-ABRI. Itu secara kebetulan." Malah Humas Bakorstanasda ini membantah kalau orang-orang Bima itu disebut ditangkap. " You salah, mereka bukan ditangkap tapi dimintai keterangan. Kare na namanya diminta keterangan maka jumlahnya belum bisa dihitung. Mungkin diantara mereka yang dimintai keterangan itu ada yang tak tahu duduk soalnya, mereka itu kami lepaskan." Adakah gerakan di Bima meluas ke Bali, karena dikabarkan ada pula penangkapan di Pukau Dewata itu? "Itu sama sekali tak benar," kata Kapendam itu. Mungkin yang membuat orang berpikir bahwa gerakan Bima dan Lampung terkait karena tokoh dalam dua gerakan ini bernama sama: Anwar. Setelah gerakan itu terbongkar, 27 Februari lalu, Anwar (Bima) ditangkap Koramil di rumahnya di Kecamatan Kebun Jeruk, Jakarta Barat. Anwar yang di Bima berusia sekitar 40 tahun, dan asli Bima. Setamat SMA di kampungnya, ia meneruskan belajar di IKIP Muhammadiyah Jakarta. Selesai kuliah, menurut istrinya, kemudian ia menjadi guru geografi di sebuah SMA swasta di Kecamatan Kebun Jeruk, Jakarta Barat. Di samping itu, ia mengajar bahasa Arab di sebuah Madrasah di Tanah Abang, Jakarta Pusat. Di Jakarta, bapak lima anak ini menetap di sebuah rumah kecil di, itu tadi, Kecamatan Kebun Jeruk. Di sini ia dikenal sebagai seorang penceramah agama. Jadi, jelas, dia bukan Anwar, tokoh Peristiwa Lampung itu. Menurut Sumarsih, istrinya, pada Juni 1988, Anwar memang pernah pulang ke Bima, untuk "melihat anaknya." Dua anak mereka memang tinggal bersama kakak Anwar di Bima. Rupanya pada waktu itulah gerakan di Bima itu terbentuk, dan Anwar bersama Haji Gani Masjkur dituduh menjadi tokohnya. Di Bima, Anwar memberikan ceramah-ceramah agama kepada lingkungan terbatas. Yang hadir antara lain guru-guru SD Inpres. Menurut sebuah sumber, gerakan ini eksklusif, tertutup. Para anggota, kabarnya, harus dibaiat. Dalam ceramahnya Anwar, kabarnya, selalu menyerang Pancasila. Juga ceramah-ceramah yang dilakukan oleh H. Gani. Ketuhanan Yang Maha Esa, sila pertama itu, misalnya, diejeknya sebagai bertentangan dengan ajaran tauhid Islam. Sebab Ketuhanan, menurut mereka, berarti bertuhan banyak. Itu dari awalan "ke" dan akhiran "an" pada kata Tuhan yang ia tafsirkan menunjukkan arti banyak. Kesimpulan ini diperoleh lewat kata "kepulauan", yang berarti banyak pulau. Selain itu mereka mengecam kemaksiatan -- perjudian, perampokan, pembunuhan, serta pelacuran dan perzinaan -- yang katanya, kini meraja-lela. Karena itu mereka merencanakan membangun perkampungan sendiri di Dusun Tangga Baru, masih di Kabupaten Bima, agar terbebas dari maksiat. Dari perkampungan inilah, konon, mereka akan menghancurkan kemaksiatan. Caranya? Belum jelas. Panah, bom molotov, ataupun golok-golok yang terasah tajam seperti di Cihideung, Rajabasa Lama, Lampung Tengah, itu belum ditemukan di sini. Ceramah-ceramah "keras" ini diketahui mulai berlansung efektif di berbagai tem pat di Kabupaten Bima, sejak 20 Juni tahun lalu. Materi ceramah biasanya tentang aqidah, syariah, sejarah Islam, dan sejarah Indonesia. Untuk sejarah Indonesia, misalnya, diajarkan bahwa kemerdekaan negeri ini adalah hasil rintisan Haji Oemar Said Tjokroaminoto. Kata mereka, Tjokroaminoto mempunyai tiga kader yang kafir, munafik, dan mukmin. Yang pertama Semaun, tokoh PKI yang terlibat pemberontakn PKI di Madiun, 1948. Kemudian Soekarno, Presiden RI pertama, sebagai seorang nasionalis, digolongkan munafik. Adapun kader yang mukmin itu tak lain adalah Kartosuwiryo, tokoh DI-TII yang sudah dihukum mati. Menurut Bupati Bima Oemar Harun, motif gerakan ini, "Kalau bukan frustrasi, mereka itu petualang." Nur Husen tadi, misalnya, menurut sinyalemen Bupati, kecewa karena adiknya, Ahmad Husen, yang menjabat penilik kebudayaan, gagal menjadi anggota DPRD Bima. Beberapa tokoh yang disebut memang masih punya kaitan famili. Anwar misalnya, adalah adik ipar Haji Gani. Tak berarti bahwa Muhammadiyah, kata M. Nur Wahab, Ketua II Muhammadiyah Bima, terlibat dalam gerakan itu. "Gerakan itu dilakukan oknum, dan tak sesuai dengan kepribadian Muhammadiyah," katanya. Untuk menjelaskan soal itu, 27 Februari yang lalu, Komandan Kodim Bima Letkol. M. Pudjo mengumpulkan pengurus Muhammadiyah kecamatan se-Kabupaten Bima. Sementara itu, nasib Anwar, menurut istrinya, "Kami belum boleh mengunjunginya." Amran Nasution & Liston Siregar

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Surat Dari Redaksi

Pengumpulan bahan

Album

Pelantikan

Menerima penghargaan pramuka

Menerima piagam dari fuad hassan

Catatan Pinggir

Remigio

DUS

Komunisme di kerah baju

Serangan mangkir polisi italia

Agama

Ahmadiyah tak bertemu ruas

Sekte lelucon santo antonius

Indonesiana

Raja uang dari tomohon

Guru PMP, Ayam, dan SDSB

Buku

Ketrampilan membajak buku janur

Baitul hikmah atau amal jariah

TEMPO|interaktif

Nasional

Demokrat Copot Mirwan Amir dari Pimpinan Banggar  

Bisnis

Pemegang Saham Setujui Stock Split Kalbe Farma  

Gaya Hidup

Tips Cantik Ala Halle Berry

Nasional

Pendaftar SNMPTN Bandung Salah Isi Formulir  

Olahraga

Juarai Seri-A, Awal buat Juventus Taklukan Dunia

Olahraga

Dua Trofi Inter Dipamerkan di Senayan

Bisnis

Asia-Pasifik Dimbau Kurangi Ketergantungan Ekspor  

Bisnis

Kalbe Farma Bagikan Dividen Rp 891 Miliar

Olahraga

Taufik Kalah, Indonesia Tertinggal 2-1  

Seni & Hiburan

Indah Dewi Pertiwi Ngebet Nonton Lady Gaga  

Olahraga

Pelatih Inter Milan Janjikan Tampilan Menghibur  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif