• Home
  • 05 Agustus 1989
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Perilaku
    • Film
    • Hiburan
    • Arsitektur
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
  • Prelude
    • Surat Dari Redaksi
    • Ralat
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Selingan
  • Seni
    • Seni Rupa
    • Tari
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 05 Agustus 1989

    Baiat setelah nabi muhammad

    MENGAPA baiat? Abdul Muin Salim tahu. Senin pekan silam, guru ini meraih gelar doktor di IAIN Jakarta dengan nilai amat baik. Disertasinya yang berjudul Konsepsi Kekuasaan Politik dalam Al-Qur'an banyak menguraikan soal baiat. Prof. Dr. Deliar Noer dan Dr. M. Quraisy Shihab menjadi promotornya. Muin, 45 tahun, sudah lama tertarik mengkaji soal kekuasaan politik. Selama enam tahun ia pernah menjadi pengurus Syarikat Islam di Ujungpandang. Tapi yang paling menggelitiknya Justru "munculnya kekecewaan banyak orang sehingga mereka berusaha mendirikan negara Islam". Dan kekecewaan yang dimaksudkan itu bersangkut paut dengan kekuasaan. Quran menyebut kekuasaan sebagai al-hukm. Al-hukm adalah sesuatu yang perlu, demi tegaknya suatu sistem masyarakat yang ingin mencapai tujuan dan cita-cita tertentu. "Jadi, kekuasaan haruslah terwujud menjadi sebuah negara atau institusi politik lain " kata Muin Inilah yang dibentuk Nabi Muhammad saw. di Madinah, dan kemudian juga di Mekah. Upaya Nabi menegakkan negara bermula dari proses sosial yang disebut mubaya'at. Asal istilah ini dari kata Arab ba-ya-'a yang berarti "menjual sesuatu". Tapi artinya secara khusus disebut Quran dalam Surat Taubat ayat (111): "mengadakan perjanjian kepemimpinan". Baiat adalah penaklukan diri dan penerimaan Islam sebagai agama. Keadaan ini lalu melahirkan hubungan hukum yang berisi hak dan kewajiban semua pihak. Inilah pangkal negara. Dengan membaiat Islam sebagai agamanya - pertama kali dimulai oleh Siti Khadijah, istri Nabi - masyarakat sekaligus membaiat Rasulullah menjadi pemimpin ulil amr, pemangku kekuasaan. Dan sejak itu lahirlah suatu masyarakat baru yang kelak memiliki struktur sosial politik tersendiri - dan menggusur struktur yang sudah ada. "Jadi, tanpa baiat, struktur itu tidak akan pernah terwujud," kata Muin. Sebagai ulil amr, Nabi tidak menyelenggarakan pemerintahan secara otokratis, sehingga bisa otoriter. Nabi melibatkan para sahabatnya dengan mendelegasikan tugas-tugas pemerintahan, baik eksekutif maupun yudikatif, sesuai dengan kemampuan. Dapat dikatakan pemerintahan Rasulullah bersifat "monokrasi konstitusional". Kekuasaan ada di tangannya karena mendapat baiat - tapi dijalankan menurut hukum Allah dan hukum hasil musyawarah. Dari penelaahannya, Muin merasa menemukan satu kerangka teori politik yang Qurani. Yakni kekuasaan berasal dari Allah yang memberikan legitimasi kekuasaan-Nya pada penguasa melalui risalah (ini untuk Nabi) berupa Quran yang berisi perintah agar manusia menegakkan hukum. Setelah Nabi wafat, Quran berada di tangan rakyat. Maka, rakyatlah yang punya hak untuk memberikan legitimasi kekuasaan mereka pada sang penguasa. Caranya: baiat. Masalahnya, rakyat sangat banyak jumlahnya. Karena itu, cukup wakilwakil rakyat saja - terhimpun dalam Majelis Umat yang berhak melakukan baiat. "Jadi, hampir sama dengan Majelis Permusyawaratan Rakyat di sini," kata Muin. Bedanya, anggota Majelis Umat bukanlah anggota DPR seperti yang ada di sini. Ada pemisahan antara keduanya. Majelis Umat berfungsi memilih atau mencopot ulil amr atau presiden, membaiatnya, serta melakukan kontrol politik. Jadi, lembaga itu dapat mengontrol sekaligus memperbaiki langkah politik ulil amr. Inilah yang membedakannya dengan sistem politik yang sedang berlaku di Indonesia. Anggota MPR tak dapat memperbaiki langkah pemerintah, karena ia juga anggota DPR yang hanya punya hak mengontrol tetapi tanpa memperbaiki. Yang juga membedakan, menurut konsep ini, setiap pemimpin yang terpilih harus mienyatakan janji melaksanakan kehendak rakyat. Baru kemudian rakyat (atau Majelis Umat) ganti berbaiat mendukungnya. Di sini hanya pemimpin yang menyatakan sumpah setia. Tapi tanpa baiat sebagai pernyataan sosial. Yang pasti, menurut Muin, sistem pemerintahan dunia terus mengalamai degradasi. Idealnya, adalah sistem politik pada zaman Nabi. Muhammad selain sebagai rasul juga sebagai kepala negara. Begitu juga halnya Daud dan Sulaiman. Pada zaman bani Israil, Nabi memberi fatwa pada kepala negara. "Seperti Iran sekarang," kata Muin. Sedangkan berikutnya, kekuasaan kaum agama dan pemimpin politik terpisah sama sekali. Mengenai teori baiat yang dikemukakan Muin, Menteri Aama Munawir Sjadzali menanggapi. Ia dosen hukum politik (fiqh siyasah) di Fakultas Pascasarjana IAIN Jakarta. "Teori baiat itu sama dengan kontrak sosial John Lock," kata Munawir. Alasannya, dalam baiat kontraknya terjadi timbal balik. Di dalam Islam, menurut Munawir, Al-Mawardilah yang mengeluarkan teori baiat alias kontrak sosial yang pertama. Itu pada abad ke-14 atau sekitar dua abad sebelum teori kontrak sosial muncul di Barat. Baru kemudian muncul sejumlah nama, seperti Thomas Hobes, John Lock, dan Jack Rosseau. Dalam pandangan Hobes, kontrak sosial hanya ada pada rakyat. Rakyat memberikan kekuasaan sepenuhnya pada raja. Dan raja tidak bertanggung jawab pada rakyat. "Jadi sifatnya absolut," kata Munawir. Rakyat tak boleh memprotes raja, sebab ia telah menyerahkan seluruh kekuasaan mereka pada raja. Pendapat yang lebih manis - yang serupa dengan teori baiat - juga dikemukakan oleh T.ock. Menurut dia, kontrak terjadi antara rakyat danraja. Jadi, ada kewajiban timbal balik. Sedangkan gagasan Rosseau lain lagi. Kontrak sosial cuma terjadi pada setiap individu yang menyerahkan kekuasaan pada totalitas masyarakat itu sendiri. Dan itu tak bisa diberikan atau didelegasikan pada orang lain. Betapapun dekat dan serupa teori baiat dengan teori kontrak sosial (terutama yang dikemukakan Lock), Muin menolak anggapan bahwa keduanya sama. Kontrak sosial, menurut Muin, beranggapan bahwa sebelum ada negara yang ada hanya kehidupan liar. "Ini cuma hipotetis. Tak dapat dibuktikan." Itu sebabnya ia menolak kalau dikatakan Islam itu menganut teori kontrak sosial. Yang terjadi dalam sejarah Islam adalah restrukturisasi masyarakat, dari masyarakat non-Islam yang sering diistilahkan jahiliah ke masyarakat Islam. Munawir sebenarnya sepemikiran dengan Muin. Ia mengemukakan bahwa teori baiat Al-Mawardi bertitik tolak dari kenyataan, sudah terbukti dalam pengalaman. Sedangkan teori kontrak sosial yang muncul di Barat lebih bersifat imajinatif. Munawir dan Muin hanya berbeda dalam menggunakan istilah "sama" atau "berbeda" untuk membandingkan antara kontrak sosial dan baiat. Bagi kebanyakan umat Islam, istilah baiat bukanlah barang asing. Terutama baiat yang dilakukan sekelompok orang yang ingin mendirikan negara yang mereka sebut "negara Islam". Dalam pandangan Muin, baiat semacam ini adalah tindakan makar. Dalam Islam, sebuah negara dibutuhkan untuk mencapai cita-cita politik. Bila cita-cita itu tercapai, dan warga lain mencoba menegakkan negara lain di dalamnya, maka tindakan itu termasuk bughat, subversif - dan itu boleh dihukum mati. Diakuinya, bughat itu sering lahir karena ketidakpuasan, karena cita-cita politik mereka tak'tercapai. Itu sebabnya, yang juga menyangkut masalah Indonesia, Muin mengusulkan adanya suatu sistem keterbukaan politik yang memungkinkan adanya kontrol dan sekaligus perbaikan dari masyarakat. Misalnya, dengan Majelis Umat yang disebutnya tadi. Muin juga sependapat masih adanya baiat intern yang ada di Indonesia. Kebanyakan baiat seperti itu terjadi di kalangan tarekat, dan terkadang mengikat anggotanya sangat keras. Pada masa penjajahan, banyak pemberontakan yang muncul dari kalangan tarekat. Apalagi kalau pemimpin mereka telah mengeluarkan instruksi untuk menentang penguasa. "Banyak anggota tarekat yang lebih tunduk kepada pemimpinnya daripada terhadap pemerintah," kata Muin. Untungnya, kini tak ada guru tarekat yang memerintahkan anggotanya menjadi pemberontak. Abdul Muin Salim, yang gemuk pendek dan berjenggot bagai bola putih kecil yang menggelantung ini, memang tertarik pada masalah politik. Hanya saja ia merasa lebih suka menjadi guru ketimbang berpolitik praktis. "Lebih baik saya bekerja memberi kesadaran politik kepada orang," katanya. Zaim Uchrowi, Ahmadie Thaha, Priyono B. Sumbogo

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Ralat

Pelurusan sejarah

Saksi pernikahan

Pestisida sudah dimusnahkan

Surat Dari Redaksi

Terkesan indeks artikel mbm tempo

Seni Rupa

Gugatan setiawan

Bunga dalam 130 lukisan

Bunga dalam 130 lukisan

Pariwara

Dwi dasa warsa memasok sistem ...

Catatan Pinggir

Terbuka

Agama

Baiat setelah nabi muhammad

Indonesiana

Lari telanjang di malam sepi

Lari telanjang di malam sepi

Dokter gadungan

Tari

Pilihan fari

Buku

Kembali, setelah 177 tahun

TEMPO|interaktif

Nasional

Demokrat Copot Mirwan Amir dari Pimpinan Banggar  

Bisnis

Pemegang Saham Setujui Stock Split Kalbe Farma

Gaya Hidup

Tips Cantik Ala Halle Berry

Nasional

Pendaftar SNMPTN Bandung Salah Isi Formulir  

Olahraga

Juarai Seri-A, Awal buat Juventus Taklukkan Dunia

Olahraga

Dua Trofi Inter Dipamerkan di Senayan

Bisnis

Asia-Pasifik Dimbau Kurangi Ketergantungan Ekspor  

Bisnis

Kalbe Farma Bagikan Dividen Rp 891 Miliar

Olahraga

Taufik Kalah, Indonesia Tertinggal 2-1  

Seni & Hiburan

Indah Dewi Pertiwi Ngebet Nonton Lady Gaga  

Olahraga

Pelatih Inter Milan Janjikan Tampilan Menghibur  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif