• Home
  • 05 Agustus 1989
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Perilaku
    • Film
    • Hiburan
    • Arsitektur
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
  • Prelude
    • Surat Dari Redaksi
    • Ralat
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Selingan
  • Seni
    • Seni Rupa
    • Tari
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 05 Agustus 1989

    Kembali, setelah 177 tahun

    RATUSAN manuskrip langka minggu ini kembali pulang, setelah lebih dari satu setengah abad raib dari Bale Kapujanggan Keraton Yogyakarta. Naskah-naskah dari abad ke-18 dan 19 dalam bahasa Jawa bertulis tangan itu, Rabu siang pekan ini, diserahkan oleh Duta Besar Inggris Kelvin White - disertai Direktur British Council di Indonesia, John Blackwell - kepada Hamengku Buwono X di Bangsal Srimanganti, Keraton Yogyakarta. Ini peristiwa budaya sangat penting. Sebab, meski hadiah itu hanya berupa mikrofilm salinan manuskrip, sebanyak 65 rol, "Itu sudah lumayan, karena kita kan sudah tidak memiliki lagi naskah aslinya," kata Dubes RI di London, Suhartoyo. Naskah aslinya sendiri kini masih tersimpan rapi di berbagai perpustakaan Inggris. "Kalau diangkut ke tanah air, saya khawatir malah rusak," tambah Suhartoyo. Raibnya manuskrip itu terjadi pada 1812, ketika Letnan Gubernur Inggris, Thomas Stamford Raffles, menyerbu Keraton Yogyakarta. Ketika itu sang raja, Hamengku Buwono II, memang dikenal tak pernah mau kompromi dengan Belanda maupun Inggris. Raffles, yang juga ilmuwan itu, menjarah benda-benda pusaka, termasuk ratusan manuskrip. "Selama 20 hari, Inggris mengangkut barang rampasan. Sekali angkut, sampai 12 gerobak," tutur G.B.P.H. Hadiwinoto, adik Hamengku Buwono X. Selama lima tahun pemerintahannya sejak 1811, Raffles rajin mengumpulkan barbagai naskah mengenai sejarah, kebudayaan, dan sastra Indonesia, khususnya Jawa. Ia dibantu bawahannya, John Crawfurd, Residen Yogya, Surabaya, dan Semarang, yang fasih berbahasa Jawa. Kolonel Colin Mackenzie, yang memimpin pasukan zeni di Jawa sampai 1813, juga membantu atasannya itu. Koleksi itu mengantarkan Raffles menulis karya monumentalnya, History of Java, pada 1817. Setelah Raffles meninggal, naskahnaskah itu rupanya dijual oleh ahli warisnya ke berbagai museum. Dan kini tak kurang dari 300-400 manuskrip Jawa tersimpan di berbagai museum di Inggris. Sekitar 90% dari naskah klasik itu berasai dari zaman Hamengku Buwono I sampai III. Namun, menurut pejabat Penerangan dan Pengembangan Buku British Council di Jakarta, Stephen Roman, "Tidak semua manuskrip merupakan hasil sitaan." Dan memang banyak koleksi Raffles berupa salinan, sementara aslinya ia biarkan tetap tersimpan di keraton atau diserahkan ke Batavia Arts Society, cikal bakal Museum Pusat. Kandungan manuskrip itu bermacammacam. Ada sejarah, cerita perwayangan pawukon (astrologi), ajaran Islam, tasawuf, pemerintahan, kamus, adat-istiadat. Misalnya Babad Kartasura, yang menceritakan sejarah pemerintahan Amangkurat II (1678-1680), Wayang Purwa (1812), Bharatayuddha (1842), Kitab Fikh (1812), Bausastra, kamus bahasa Jawa (tanpa tahun), Serat Pepujanipun Tiyang Tengger ingkang Kina-Kina (Buku tentang Agama Orang Tengger yang Kuno), 1842. Yang menarik, ada pula salinan Serat Raja Surya karangan Hamengku Buwono ketika masih jadi putra mahkota pada 1774. Terdiri atas dua jilid, naskah itu berisi kritik halus terhadap situasi politik setelah Mataram pecah akibat Perjanjian Giyanti. Naskah aslinya, yang dianggap keramat, masih disimpan di Dalem Proboyekso - tempat khusus untuk pusaka keraton. Setiap bulan Suro atau Muharam, manuskrip tersebut dikeluarkan, didahului dengan sesaji, untuk dibersihkan. Kalangan ilmuwan dan pihak Keraton Yogyakarta sendiri beranggapan, meski bukan manuskrip aslinya, hadiah mikrofilm itu sudah lumayan. Sebab, pengembalian harta budaya seperti itu memang tidak mudah, menyangkut lika-liku diplomatik. "Lagi pula, perawatannya sulit. Selain memerlukan ruangan khusus dan peralatan canggih, biayanya pun sangat besar," kata dosen Sastra Jawa FS-UI, Budya Pradipta. Menurut Pradipta, mikrofilm sudah cukup untuk penelitian sastra. "Ditulis di mana dan kapan pun, karya sastra yang bernilai selalu bebas ruang dan waktu," tambahnya. Usaha pemulangan manuskrip, meski dalam bentuk mikrofilm, ternyata sudah dirintis sejak dulu. Purek I Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Dr. Sudarsono, misalnya, ketika berkunjung ke Inggris pada 1984 pernah menyaksikan koleksi itu. Karena tak sempat mengusahakan pemulangannya, "yang bisa saya lakukan hanya melapor kepada Sri Sultan H.B. IX. Setelah berobat ke AS dulu itu, rencananya almarhum akan mampir ke Inggris mengurus pemulangan manuskrip," katanya. Pihak Inggris sendiri bukannya tak ada usaha memulangkannya. Seperti diungkapkan Annabel Gallop, Kepala Bagian Koleksi British Oriental Library, London. "Kami akan mengembalikannya dalam bentuk mikrofilm," katanya di depan para peserta Kongres Bahasa Indonesia V di Jakarta, tahun lalu. Sampai ketika Dubes RI di London, Suhartoyo, diundang melihat-lihat koleksi Oxford dan British Library beberapa waktu lalu. Karena ingat pesan almarhum H.B. IX-sebelum mangkat - kepadanya, Suhartoyo segera mengusulkan agar Inggris menghadiahkan mikrofilm manuskrip itu kepada Indonesia. Ketika gagasan itu ia lontarkan kepada Dr. Peter Carey, ahli sejarah Jawa di Trinity College Oxford ini mendukungnya. Selain mikrofilm manuskrip Jawa, menurut rencana juga akan dikirimkan mikrofilm manuskrip yang pernah diboyong dari Pura Mangkunegaran (Solo) dan Madura. Hamengku Buwono X sendiri ternyata juga sering mendengar banyaknya manuskrip milik leluhurnya yang pernah diboyong Raffles. "Dulu Pak Sultan sering bercerita mengenai hal itu," katanya di Lembah Hijau, Puncak, di tengah acara rapat kerja DPP Golkar pekan lalu. Mikrofilm itu akan disimpan di perpustakaan keraton, agar dapat dinikmati masyarakat luas, terutama mahasiswa dan sarjana yang mempelajari sejarah atau budaya Jawa. "Perpustakaan keraton terbuka untuk umum," katanya. B.S.H., Yudhi Soerjoatmodjo, Priyono B. Sumbogo, I Made Suarjana, Hasan Syukur

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Ralat

Pelurusan sejarah

Saksi pernikahan

Pestisida sudah dimusnahkan

Surat Dari Redaksi

Terkesan indeks artikel mbm tempo

Seni Rupa

Gugatan setiawan

Bunga dalam 130 lukisan

Bunga dalam 130 lukisan

Pariwara

Dwi dasa warsa memasok sistem ...

Catatan Pinggir

Terbuka

Agama

Baiat setelah nabi muhammad

Indonesiana

Lari telanjang di malam sepi

Lari telanjang di malam sepi

Dokter gadungan

Tari

Pilihan fari

Buku

Kembali, setelah 177 tahun

TEMPO|interaktif

Nasional

Demokrat Copot Mirwan Amir dari Pimpinan Banggar  

Bisnis

Pemegang Saham Setujui Stock Split Kalbe Farma

Gaya Hidup

Tips Cantik Ala Halle Berry  

Nasional

Pendaftar SNMPTN Bandung Salah Isi Formulir  

Olahraga

Juarai Seri-A, Awal buat Juventus Taklukkan Dunia

Olahraga

Dua Trofi Inter Dipamerkan di Senayan

Bisnis

Asia-Pasifik Dimbau Kurangi Ketergantungan Ekspor  

Bisnis

Kalbe Farma Bagikan Dividen Rp 891 Miliar

Olahraga

Taufik Kalah, Indonesia Tertinggal 2-1  

Seni & Hiburan

Indah Dewi Pertiwi Ngebet Nonton Lady Gaga  

Olahraga

Pelatih Inter Milan Janjikan Tampilan Menghibur  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif