• Home
  • 05 Agustus 1989
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Perilaku
    • Film
    • Hiburan
    • Arsitektur
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
  • Prelude
    • Surat Dari Redaksi
    • Ralat
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Selingan
  • Seni
    • Seni Rupa
    • Tari
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 05 Agustus 1989

    Terbuka

    KETERBUKAAN memang bukan barang baru. Ada seorang teman yang gemar mempelajari kesusastraan Yunani dan mengutip satu cerita tragis karya Sophocles, Antigone. Katanya, dalam cerita itulah manusia pertama kali berbicara tentang keterbukaan - kata lain dari keleluasan yang ada ketika orang tak takut mengemukakan isi pikirannya yang mungkin aneh dan tak menyenangkan. Dalam Anigone - lanjutan terakhir dari cerita Oedipus Rex yang pernah diterjemahkan Rendra - kerajaan Thebes diperintah oleh Creon. Tokoh inilah yang menggantikan Oedipus, sang raja yang telah menusuk matanya dan meninggalkan tahta sehagai hukuman atas dirinya sendiri. Namun, dalam Antigone, Creon berkembang jadi contoh kekuasaan yang tak lagi ingin dibatasi - juga oleh ukuran pekerti yang baik. Ia jadi seorang tua yang harus berhadapan dengan anaknya sendiri, dalam satu dialog termasyhur tentang makna kekuasaan dan peran rakyat. Waktu itu Creon menitahkan agar jasad putra Oedipus yang memberontak dibiarkan tak terkubur di luar tembok kota. Tapi Antigone, putri Oedipus yang masih hidup, melanggar titah itu. Gadis yatim piatu itu mendatangi mayat saudaranya yang tewas itu, untuk menguburkannya . Creon murka. Tapi Haemon, anaknya, menyanggah ayahnya. Dan inilah dialog yang kemudkln jadi salah satu ilham yang sangat kuat tentang hak rakyat sebelum teori demokrasi ditulis orang: Creon: "Bukankah Antigone seorang yang melanggar hukum?" Haemon: "Rakyat Thebes tak sepakat dengan Paduka. " Creon: "Itukah yang kau kehendaki: kota ini mendikte aku tentang segala hal yang akan kutitahkan?" Haemon: "Kini Padukalah yang berbicara seperti anak kecil." Creon: "Haruskah aku memerintah negeri ini menuruti pandangan orang lain?" Haemon: "Sebuah negeri yang diperintah oleh satu orang bukanlah sebuah negeri sama sekali." Creon: ''Bukankah negara milik orang yang memerintahnya?" Haemon: "Hanya di gurun yang tak dihuni kita bisa memerintah sendirian." Baris-baris kalimat itu ditulis bahkan satu abad sebelum Aristoteles, sebelum pemikir Yunani itu menuliskan karyanya tentang politik -- dan itu berarti juga beberapa abad sebelum Injil dan Quran dan Jefferson dan Marx dan Pancasila. Nampaknya, keterbukaan memang soal yang kuno, bukan soal abad ke-19 dan ke-20: sesuatu yang bahkan mungkin tak ada hubungannya dengan mundur majunya zaman sesuatu yang tak selamanya ada kaitannya dengan tingkat kemajuan ekonomi atau industri atau teknologi -- dan barangkali malah tak ada hubungannya dengan derajat pendidikan. Soal "keterbukaan" mungkin berhubungan dengan keadaan manusia sebagai manusia, kapan saja ia berada dalam situasi berhadapan dengan kekuasaan: kapan saja ia harus menentukan pilihan untuk merdeka atau tidak merdeka. Maka, di Yunani kuno pun orang sudah bisa berbicara dengan bangga tentang hakhaknya sebagai warga negara--khususnya tentang parhesiaKata ini konon berarti "kemerdekaan berbicara". Dalam lakon Perawan-Perawan Phoenicia, salah satu karya Euripides, seorang ratu bertanya kepada putranya yang melarikan diri sebagai pemberontak tentang apa yang paling tak menyenangkan menjadi seorang buangan. "Pembuangan," jawab Polyneices, tak memiliki parrhesia. " Sang ibu pun mengerti dan berkata dengan sedih, "Itulah nasib seorang budak --tak mampu mengutarakan isi pikirannya." Aneh memang, dan saya tak tahu apa sebenarnya sebabnya, bahwa dalam zaman seperti itu, jauh sebelum "liberalisme" dirumuskan, orang Yunani telah mengemukakan satu perkara yang kemudian jadi perkara besar di Rusia maupun di Rio, di Tienanmen ataupun di Senayan, di dalam abad ke-20 yang hannpir selesai tapi yang belum juga menemukan jawab. Yang menakjubkan ialah bahwa orang Athena tak cuma mengemukakannya di atas pentas sandiwara yang bisa menggugah ataupun menyindir. Di negeri dari mana kata demokrasi berasal, mereka menjalankannya di dalam kehidupan politik sehari-hari. Memang, tak semua orang, juga di Yunani kuno, setuju dengan hak-hak orang banyak itu. Bahkan Socrates mengejek bahwa di majelis rakyat di Athena siapa saja bisa omong bebas seenaknya. biarpun ia "seorang tukang besi, seorang pembuat sepatu, seorang saudagar, seorang kapten kapal, seorang kaya, seorang miskin, baik dari keluarga terpandang maupun bukan." Demokratia memang bisa menjengkelkan gaduhnya dan sebab itu barangkali Ernbah Den8 tak suka "demokrasi besar" dan lebih baik dengan "demokrasi kecil", setelah menyuruh tembak mati sejumah pemrotes. Tapi rakyat yang tahu mereka punya hak adalah rakyat yang tahu bahwa mereka ikut memiliki negeri tempat hak-hak itu dijamin. Sejarawan Elerodotus (kata teman saya yang suka kesusastraan Yunani itu) pernah mengatakan bahwa "pada saat orang Athena terbebas dari tirani, mereka tampil paling baik dari semuanya" yakni ketika harus berperang mempertahankan tanah air mereka. Goenawan Mohamad

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Ralat

Pelurusan sejarah

Saksi pernikahan

Pestisida sudah dimusnahkan

Surat Dari Redaksi

Terkesan indeks artikel mbm tempo

Seni Rupa

Gugatan setiawan

Bunga dalam 130 lukisan

Bunga dalam 130 lukisan

Pariwara

Dwi dasa warsa memasok sistem ...

Catatan Pinggir

Terbuka

Agama

Baiat setelah nabi muhammad

Indonesiana

Lari telanjang di malam sepi

Lari telanjang di malam sepi

Dokter gadungan

Tari

Pilihan fari

Buku

Kembali, setelah 177 tahun

TEMPO|interaktif

Nasional

Demokrat Copot Mirwan Amir dari Pimpinan Banggar  

Bisnis

Pemegang Saham Setujui Stock Split Kalbe Farma

Gaya Hidup

Tips Cantik Ala Halle Berry  

Nasional

Pendaftar SNMPTN Bandung Salah Isi Formulir  

Olahraga

Juarai Seri-A, Awal buat Juventus Taklukkan Dunia

Olahraga

Dua Trofi Inter Dipamerkan di Senayan

Bisnis

Asia-Pasifik Dimbau Kurangi Ketergantungan Ekspor  

Bisnis

Kalbe Farma Bagikan Dividen Rp 891 Miliar

Olahraga

Taufik Kalah, Indonesia Tertinggal 2-1  

Seni & Hiburan

Indah Dewi Pertiwi Ngebet Nonton Lady Gaga  

Olahraga

Pelatih Inter Milan Janjikan Tampilan Menghibur  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif