• Home
  • 05 Agustus 1989
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Perilaku
    • Film
    • Hiburan
    • Arsitektur
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
  • Prelude
    • Surat Dari Redaksi
    • Ralat
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Selingan
  • Seni
    • Seni Rupa
    • Tari
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 05 Agustus 1989

    Dokter gadungan

    MALING ditipu maling, itu biasa. Wartawan dikibuli wartawan, juga sering, apalagi kalau lagi bercanda. Tapi dokter betulan ditipu dokter gadungan, ini bukan lagi soal canda-bercanda. Adalah Bambang Suryanto, yang mengaku bergelar dokter dan sekaligus Ph.D. untuk spesialis jantung. Gelar dokter katanya, disabet dari UI. Gelar Ph.D. didapat dari Universitas Boston, AS. "Saya ahli penyakit dalam yang bekerja di RSCM Jakarta," kata Suryanto pula kepada setiap pasiennya. Laki-laki berusia 42 tahun itu juga tak lupa mengeluarkan kartu namanya yang mentereng. Dengan penampilan seperti itu, siapa yang meragukannya? Suatu hari Suryanto berkenalan dengan dr. Asih - bukan nama sebenarnya, tetapi gelar dokternya dijamin tidak palsu. Atas desakan ibunya, dr. Asih tak keberatan berhubungan dengan Suryanto. Sebab, menurut sang ibu, Suryanto itu ahli Hepatitis B. Sementara itu, dr. Asih lagi sakit. "Kamu kan dokter muda, dia dokter senior, lulusan luar negeri lagi," demikian bujukan sang ibu. Akhirnya Asih, yang bekerja di sebuah rumah sakit swasta di Temanggung, Jawa Tengah, bersedia disuntik. Tak terjadi apa-apa. Setelah Asih, giliran Heru Suprapto, S.H., 34 tahun, jadi korban tipu. Dosen Unisri Solo yang juga pengacara terkenal ini resah, karena penyakit livernya tak kunjung sembuh, kendati dia sudah berobat ke sana-kemari. Dari seorang rekannya, Heru mendengar ada seorang dokter ahli penyakit liver lulusan luar negeri, yang kebetulan berada di Solo. April lalu, ia bertemu Suryanto. Melihat tongkrongan dokter itu, ia langsung percaya. Tak heran kalau dengan enteng ia mengeluarkan uang Rp 100 ribu untuk sekali suntik anti-Hepatitis B. Belakangan Heru mulai curiga. Cara Suryanto memberikan suntikan tidak lazim. "Saya tidak pernah melihat ampul obat, karena cairan obat sudah terisi di alat suntik," ujar Heru. Kecurigaannya makin mengental ketika ia diajak ke rumah Pak Dokter di Surabaya. Di sana Heru menemukan papan nama dr. Suryanto tanpa dilengkapi izin praktek. Lebih dari itu, di ruang prakteknya tak sebiji pun tercium alat kedokteran. Ketika ditanya, dengan tenang Suryanto mengatakan bahwa semua peralatannya hancur dirusak istrinya. Karena waswas, akhirnya Heru, yang selama berobat sudah mengeluarkan Rp 1,7 juta, lapor pada polisi. Pertengahan Juni lalu, Suryanto dibekuk. Ternyata, bukan hanya Asih dan Heru yang jadi korban. Sedikitnya ada empat orang lain yang sempat dilalapnya. Dari keempat korban, Suryanto berhasil menggaet Rp 3,5 juta. Ketika perkaranya disidangkan bleh Pengadilan Negeri Solo, akhir Juni lalu, Suryanto tampak tenang. Di depan majelis hakim ia mengaku tak pernah sekali pun mencicipi pendidikan kedokteran. "Tapi saya sedikit banyak tahu juga soal medis," kata lelaki yang menguasai sejumlah bahasa asing itu. Tentang obat anti-Hepatitis B, "itu memang hasil ramuan saya sendiri," katanya kalem. Bahkan ia berniat hendak mematenkannya. Astaga.

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Ralat

Pelurusan sejarah

Saksi pernikahan

Pestisida sudah dimusnahkan

Surat Dari Redaksi

Terkesan indeks artikel mbm tempo

Seni Rupa

Gugatan setiawan

Bunga dalam 130 lukisan

Bunga dalam 130 lukisan

Pariwara

Dwi dasa warsa memasok sistem ...

Catatan Pinggir

Terbuka

Agama

Baiat setelah nabi muhammad

Indonesiana

Lari telanjang di malam sepi

Lari telanjang di malam sepi

Dokter gadungan

Tari

Pilihan fari

Buku

Kembali, setelah 177 tahun

TEMPO|interaktif

Nasional

Demokrat Copot Mirwan Amir dari Pimpinan Banggar  

Bisnis

Pemegang Saham Setujui Stock Split Kalbe Farma

Gaya Hidup

Tips Cantik Ala Halle Berry  

Nasional

Pendaftar SNMPTN Bandung Salah Isi Formulir  

Olahraga

Juarai Seri-A, Awal buat Juventus Taklukkan Dunia

Olahraga

Dua Trofi Inter Dipamerkan di Senayan

Bisnis

Asia-Pasifik Dimbau Kurangi Ketergantungan Ekspor  

Bisnis

Kalbe Farma Bagikan Dividen Rp 891 Miliar

Olahraga

Taufik Kalah, Indonesia Tertinggal 2-1  

Seni & Hiburan

Indah Dewi Pertiwi Ngebet Nonton Lady Gaga  

Olahraga

Pelatih Inter Milan Janjikan Tampilan Menghibur  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif