• Home
  • 05 Agustus 1989
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Perilaku
    • Film
    • Hiburan
    • Arsitektur
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
  • Prelude
    • Surat Dari Redaksi
    • Ralat
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Selingan
  • Seni
    • Seni Rupa
    • Tari
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 05 Agustus 1989

    Misteri kematian zia ul-haq

    TANGGAL 17 Agustus 1988. Pakistan Satu - sebuah pesawat Hercules C-130 - bertolak dari pangkalan militer di luar Kota Bahawalpur, Pakistan. Waktu itu pukul 3.46 sore, persis dengan jadwal. Para penumpang, di antaranya Mohammad Zia ul-Haq, pemimpin tertinggi militer dan sekaligus Presiden Pakistan. Ia hendak kembali ke Ibu Kota Islamabad, setelah menyaksikan demonstrasi tank Abrams bikinan Amerika, pada siang yang panas dan berdebu itu. Ini perjalanan Zia pertama dengan Pak Satu (Pakistan Satu), dalam dua setengah bulan terakhir. Dengan berat hati ia bersedia terbang ke Bahawalpur pagi itu untuk menyaksikan sendiri uji coba penembakan oleh tank di gurun. Dalam pembicaraan telepon, Mayor Jenderal Mehmood Durrani - komandan korps lapis baja dan mantan sekretaris militemya - tak biasanya bersikeras membujuk Zia. Durani mengatakan bahwa semua komandan militer akan berada di sana hari itu. Dan secara tak langsung mengatakan bahwa jika Zia tak hadir, sama halnya dengan meremehkan mereka. Pamer keampuhan itu ternyata gagal total. Banyak bidikan tank Amerika itu yang luput dari sasaran. Keterlaluan memang. Zia lalu makan siang di mes perwira. Ia melalap es krim dan bercanda dengan para jenderal top. Sekembali ke lapangan udara, Zia salat, dan, sebelum naik ke pesawat, ia merangkul hangat para perwira yang masih tertinggal di situ. Yang duduk di sampingnya dalam penerbangan balik ke Islamabad itu sahabat dekatnya, Jenderal Akhtar Abdul Rehman. Akhtar adalah Ketua Joint Chiefs oS Staff dan orang paling berkuasa di Pakistan setelah Zia. Ia mengepalai Inter-Seruices Intellience (ISI) - ClA-nya Pakistan - selama delapan tahun. Ia pulalah yang mengotaki dukungan Zia terhadap kelompok Mujahidin Afghanistan - kalangan Islam yang beroposisi pada pemerintahan komunis (setidaknya dianggap demikian) di Kabul. ISI-lah yang mengorganisasikan kaum Mujahidin dalam penyerbuan, melatih mereka, membagi senjata, memperkuat mereka dengan intelijen, dan kadang bahkan memilihkan sasaran. Mujahidin nampaknya memang meraih kemenangan. Soviet telah kabur dan Afghanistan. Seperti Zia, Akhtar pun tak bermaksud menyaksikan demonstrasi tank. Soalnya, ia punya janji lain hari itu. Ia memutuskan pergi hanya karena wakilnya terdahulu di ISI membujuknya: Zia hendak melakukan perubahan besar pada komando tertinggi militer dan intelijen, sehingga pertimbangan Akhtar amat diperlukan. Maka, ia membatalkan janjinya, dan bergabung dengan Zia di dalam Pak Satu. Naik kembali ke pesawat sore itu, ia mengenakan topi atribut tertinggi kejenderalannya, disertai oleh Letnan Jenderal Mian Mohammad Afzaal, Kepala Staf Jenderal. Zia dan dua jenderal utamanya duduk di depan, di bagian VIP dari kapsul penumpang ber-AC, yang dipasang dalam tubuh C-130. Dua kursi lain di bagian itu diperuntukkan bagi dua orang Amerika tamu Zia. Yakni Duta Besar Amold L. Raphel seorang teman lama Pakistan yang sudah dua belas tahun kenal Zia, serta Jenderal Herbert M. Wassom, kepala misi bantuan militer AS ke Pakistan. Mereka sama-sama menyaksikan demonstrasi tank yang mengecewakan itu. Raphel sempat berbelasungkawa di Biara Bahawalpur, tempat seorang suster Amerika tewas terbunuh minggu sebelumnya. Di bagian belakang kapsul, delapan jenderal Pakistan duduk pada dua lajur bangku berhadapan. Sewaktu pesawat berada di jalur pacu, Letnan Jenderal Mirza Aslam Beg, Wakil Kepala Staf Angkatan Bersenjata, melambaikan tangan. Dia satu-satunya jenderal penting dalam jajaran komando yang tidak berada di Pak Satu hari itu. Zia mengajaknya naik pada saat-saat terakhir. Tapi Beg menampik dan mengatakan bahwa ia punya acara yang harus disinggahi dalam perjalanannya pulang. Ia naik turbojet kecil yang menanti giliran terbang setelah Pak Satu. Sebuah pesawat keamanan Cessna telah selesai memeriksa seluruh area. Pemeriksaan itu adalah kegiatan rutin sejak teroris menembakkan peluru kendali, dan gagal, pada Pak Satu enam tahun lalu. Menara pengawas juga sudah memberikan sinyal pada pesawat Zia untuk take off. Dalam kokpit, yang dipisahkan dari kapsul dengan sebuah pintu dan tiga anak tangga, ada empat orang awak penerbangan. Sang pilot, Perwira Penerbang Mash'hood Hassan, adalah orang pilihan Zia. Kopilot, navigator, serta teknisi adalah orang-orang yang sudah lolos dari seleksi Angkatan Udara. Sehari sebelumnya, pesawat tersebut juga sudah terbang bolak-balik Islamabad-Bahawalpur. Mereka hendak memastikan bahwa tak bakal ada sesuatu yang mengejutkan sewaktu Zia dan para jenderalnya menumpang pesawat itu, esoknya. Setelah Pak Satu mengudara, petugas menara kontrol di Bahawalpur menanyai Mash'hood posisi pesawatnya. Mash'hood ganti mengontak, "Pakistan Satu stand by." Namun, tidak ada kontak lebih lanjut. Di darat, tanda bahaya menyala, dan upaya menghubungi Mash'hood terus diupayakan. Pak Satu hilang hanya beberapa menit setelah mengudara. Saat itu pula, di sebuah sungai sejauh sembilan mil dari lapangan udara, penduduk melihat sebuah pesawat melesat tak menentu di angkasa, sebagaimana sebuah roller coaster. Setelah puntiran ketiga, pesawat itu menukik lurus menghunjam gurun dan mengubur dirinya ke dalam tanah. Begitu bahan bakarnya terbakar, pesawat itu lalu meledak, dan menjadi gumpalan bola api. Ke-31 orang penumpang Pak Satu tewas. Saat itu pukul 15.51. Turbojet Jenderal Beg mengitari puing-puing yang terbakar sesaat, sebelum kemudian menuju Islamabad. Lewat radio, Beg minta agar semua pimpinan tertinggi militer bertemu dengannya, begitu pesawat mendarat. Dengan mengasumsikan Zia dan Akhtar tewas, dialah - sebagai wakil kepala staf - yang memegang komando militer. Sore itu pula, satuan-satuan militer segera bergerak menjaga rumah-rumah kediaman resmi, gedunggedung pemerintah, stasiun televisi, serta berbagai tempat strategis di ibu kota. Apa yang terjadi, yang menjadikan pesawat Zia rontok dari langit? Benazir Bhutto, pemimpin oposisi paling terkemuka, menawarkan kemungkinan jawaban yang paling tepat: campur tangan Tuhan. Pada pengantar otobiografinya, Daughter .of Destiny, Benazir menulis bahwa "kematian Zia tentulah merupakan aksi Tuhan." Zia, sepanjang gambaran Benazir, adalah inkamasi setan. Sewaktu bersua pertama dengan Zia, Januari 1977, Benazir memandangnya hanya sebagai seorang "pendek, penggugup, laki-laki yang mengesankan tidak berguna, yang minyak rambutnya menggumpal di bagian tengah dan mengkilapkan kepalanya." Ia tidak mengerti mengapa ayahnya, Zulfikar Ali Bhutto, yang kemudian menjadi perdana menteri, memakai Zia untuk mengepalai angkatan bersenjata. Pada bulan Juli tahun itu pula, Zia pun merebut kekuasaan. Dua puluh satu bulan berikutnya, Zia - di mata Benazir - melakukan "pembunuhan yang disahkan" dengan menggantun ayah Benazir atas dasar tuduhan palsu. Zia mengukuhkan kekuasaannya dengan menggunakan strategi "Islamisasi". Ia memberlakukan hukum Quran. Kaidah hukum yang berusia ribuan tahun itu ditegakkan berdampingan dengan mesin militer ultramodern, yang dilengkapi dengan pesawat tempur F-16, rudal-rudal penjaga, serta skema pengembangar nuklir buat militer. Zia pun memberangus partai politik Benazir, Partai Rakyat Pakistan. Benazir dan ibunya dipenjarakan. Dua saudara lelaki Benazir, Shah Nawaz dan Mir Murtaza, diadili dan divonis secara in absentia. Shah Nawaz tewas secara misterius di Prancis tahun 1985, dan Benazir menduga bahwa saudaranya itu diracun oleh agen Zia. Zia telah menghancurkan keluarganya. Benazir nampak puas mendengar berita bahwa tubuh Zia terbakar sehingga tak dikenali iagi dalam kecelakaan itu. "Zia telah mengeksploitasi nama Islam sedemikian rupa, sehingga orang-orang berkata, jika ia meninggal, Tuhan tak bakal membuat jiplakannya." Namun, ada pula bukan tangan Tuhan yang berupaya. Misalnya tangan Mir Murtaza Bhutto. Dalam sembilan tahun yang lewat, saudara lelaki Benazir yang berusia 34 tahun ini mengepalai kelompok gerilya anti-Zia. Kelompok ini bergandengan tangan dengan PLO di Kabul - dan kemudian beroperasi pula di Damaskus. Mereka menamai diri Al-Zulfikar, yang berarti "pedang", dan sungguh-sungguh berniat menghancurkan pemerintahan Zia. Baik dengan cara sabotase, pembajakan, maupun pembunuhan. Al-Zuffikar memperlihatkan kapasitasnya sebagai teroris tingkat dunia dengan membajak Boeing 720 Pakistan Airlines pada tahun 1981. Seratus penumpang disandera. Salah seorang di antaranya dibunuh di Kabul, sebelum kemudian pesawat bertolak menuju Damaskus. Didukung oleh Pemerintah Syria, Al-Zulfikar berhasil memaksa Zia menukar sandera dengan 44 tahanan politik. Pada awalnya, Al-Zulfikar sempat mengaku bahwa pihaknyalah yang merontokkan Pak Satu. Hanya saja, begitu diumumkan bahwa duta besar Amerika ikut tewas dalam tragedi tersebut, pengakuan tadi mereka cabut. Namun, Mir Murtaza Bhutto menegaskan bahwa ia telah berupaya membunuh Zia dalam lima kejadian terdahulu. Salah satunya adalah dengan menembakkan rudal darat-ke-udara ke Pak Satu yang sedang ditumpangi Zia. Pada peristiwa itu, rudal mereka nyasar. Dengan adanya pemilihan umum yang direncanakan berlangsung akhir tahun itu, dan karena saudara perempuannya dalam posisi bagus untuk menjadi perdana menteri sekiranya Zia tersingkir dari kekuasaan, Mir Murtaza punya alasan tambahan untuk menjalankan misinya. Ia jelas bukan satu-satunya orang yang punya motif. Tersangka iain adalah Uni Soviet. Pada awal Agustus, Soviet menghentikan sejenak penarikan tentaranya dari Afghanistan, sebagai protes atas pelanggaran Zia terhadap perjanjian Jenewa yang ditandatangani bulan April. Soviet menuduh Zia terus mempersenjatai Mujahidin - hal yang menyalahi perjanjian sekaligus mengotaki rencana sabotase di Kabul. Setelah menyampaikan protes pada Menteri Luar Negeri Pakistan, Soviet menempuh jalan yang tak lazim. Yakni memanggil Duta Besar Amerika di Moskow, Jack Matlock, dan memberitahunya bahwa Moskow hendak memberi "pelajaran" pada Zia. KGB secara aktif melatih, menyubsidi, serta mengendalikan lembaga intelijen Afghanistan, WAD. Lembaga inilah - menurut pihak Amerika yang menyatakannya pada minggu tragedi - yang merancang hujan bom yang menewaskan dan mencederai 1.400 orang penduduk Pakistan. Adakah Pak Satu merupakan sasaran lain Soviet? Agaknya, Pak Satu tak dikehendaki Soviet. Sebab, nyatanya duta besar Amerika adalah salah seorang korban. Soviet tentu tak mau mengambil risiko dengan membunuh seorang Amerika setingkat itu. Namun, harus diingat bahwa, rencananya, Duta Besar Raphel maupun Jenderal Wassom tidak hendak terbang balik dengan pesawat Zia. Hingga sehari sebelum demonstrasi tank, mereka berdua dijadwalkan pulang dengan pesawat atase militer Soviet yang dipiloti Jenderal Wassom sendiri. Maka, para pelaku kejahatan mungkin tak merasa perlu mengamati kehadiran orang Amerika di pesawat yang dibidik. Uni Soviet bukan satu-satunya negara yang mengancam Zia. Di New Delhi, Perdana Menteri India Rajiv Gandhi mengingatkan Pakistan pada tanggal 15 Agustus. Kata Rajiv, ulahnya sendiri dapat menyebabkan Pakistan "menyesali kelakuannya" untuk memasok senjata secara rahasia pada teroris Sikh. Kaum Sikh adalah urusan Rajiv yang paling memuncratkan darah. Merekalah yang membunuh ibunya (Indira Gandhi), sewaktu Indira menjadi perdana menteri. Dan kini sekitar dua ribu gerilyawan Sikh menyusup ke negeri itu, terutama di sekitar perbatasan Pakistan. Menurut Rajiv, Zia telah bertemu dengan pemimpin Sikh dan membantu gerilyawan dengan senapan AK-47, pelontar roket, dan tempat berlindung. Sebagai balasan, India mengorganisasikan unit spesial dalam jaringan intelijen, yang dikenal dengan nama RAW, menghadapi Pakistan. Kisah ini mengingatkan Pembunuhan di Orient Express-nya Agatha Christie. Dalam cerita itu, setiap orang di atas kereta nampaknya punya motif untuk melakukan pembunuhan. Yang serupa muncul pada kematian Zia. Menjelang berakhirnya perang Afghanistan, Zia sempat khawatir terhadap segala sesuatu yang mungkin dapat menggerus kekuasaanya. Bulan April, sebuah depot besar militer untuk menyimpan persenjataan bagi orang Afghanistan meledak di pinggiran Islamabad. Paling kurang 93 orang tewas. Zia menuding WAD di balik ledakan itu. Namun, para politikus Pakistan mengkritik Zia dan Jenderal Akhtar telah sembrono menempatkan depot itu sehingga membahayakan penduduk sipil. Zia bereaksi terhadap penyelidikan yang hendak dilaksanakan, dengan cara segera mencopot perdanamenterinya, Mohammad Khan Junejo, dan membubarkan parlemen. Anak sulung Zia, Ijaz ul-Haq - seorang yang santun, berpakaian rapi, yang sekarang bermukim di Bahrain - menjelaskan padaku bagaimana ayahnya dibujuk untuk pergi menghadiri demonstrasi tank, kendati tetap dengan perasaan waswas. Anak Jenderal Akhtar pun mengisahkan bagaimana ayah mereka diakali untuk naik pesawat yang sama. Pernyataan itu memunculkan kemungkinan bahwa pembunuhan tersebut adalah kerja sekelompok tertentu kalangan militer yang melancarkan kudeta tersamar - suatu kelompok yang tahu persis gerakan Zia. Jelas terlihat, banyak orang senang mendengar kematian Zia. Ia telah menyakitkan Amerika Serikat, sekalipun ia meyakini dirinya sendiri sebagai sekutu terbesar Amerika di Asia. Zia menyelewengkan senjata Amerika yang diperuntukkan bagi pejuang Afghanistan, sehingga sebagian besar jatuh ke tangan kelompok Mujahidin fundamentalis pimpinan Gulbuddin Hekmatyar. Bukan saja kelompok ini anti-Amerika, tapi strateginya memecah pejuang sehingga mereka sendiri dapat menguasai Kabul dengan dukungan Zia. Kecemasan Amerika semakin meningkat sehubungan dengan rencana Zia membangun "bom nuklir Islam pertama". Upaya Zia terlihat sewaktu ia berupaya menyelundupkan mekanisme pemicu kryton dan komponen lainnya ke luar Amerika. Sepeninggal Zia, AS dapat meramalkan datangnya alternatif yang lebih menyenangkan. Yakni menggantikan apa yang mereka sebut sebagai kediktatoran Zia dan intrik Machiavellinya dengan pemerintahan hasil pemilu yang dipimpin tokoh menarik berpendidikan Harvard, Benazir Bhutto. Singkat kata, Amerika tak banyak lagi kepentingan untuk ikut "menggoyang perahu" seusai tragedi itu. Balik ke soal kematian, hanya beberapa jam setelah enguburan jenazah Zia, Menteri Luar Negeri Shultz merekomendasikan agar FBI tak mengurusi Pakistan. Badan ini punya kewenangan untuk melacak kecelakaan pesawat yang melibatkan warga Amerika Serikat yang mencurigakan. Seksi Serangan Balik Terorisme mereka pun dilengkapi dengan ahli forensik yang mampu menelusuri fakta. Namun, mereka harus patuh pada perintah. Hasilnya, penyelidikan tak tuntas. Tim yang dikirim Pemerintah AS ke Pakistan untuk melacak peristiwa kecelakaan Pak Satu hanya melibatkan enam invesffgator kecelakaan dari angkatan udara. Mereka mengabaikan ahli terorisme, sabotase, dan tindak kriminal lain. Suatu pelacakan tak terbatas oleh FBI tentu dapat membuka Kotak Pandora peta bumi persoalan. Mengapa kesempatan mengungkap itu diabaikan, sementara peralihan kekuasaan dapat dikesankan sebagai "kecelakaan" dan "aksi Tuhan"? Departemen Luar Negeri (AS) juga mengontrol persepsi publik perihal apa yang menyebabkan kecelakaan itu. Telegram resmi yang beredar memperlihatkan adanya "pengarahan pers". Juga menyatakan bahwa "penting sekali juru bicara Pemerintah AS" mendapat "pengarahan sebelum berkomentar pada media". Tanggal 14 Oktober, pada headline koran The New York Times tertulis Malfunchon Seen as Cause of Zia Crash. Tulisan itu dimulai, "Para ahli dikirim ke Pakistan .... telah menyimpulkan bahwa kecelakaan itu disebabkan oleh tidak berfungsinya suatu bagian di pesawat." Namun, pada tanggal 17 Oktober, sewaktu ringkasan laporan resmi diungkapkan, koran tersebut berbalik suara. Pada headline-nya kini tertulis Pakistan Points to Sabotaye in Zia Crash. Times secara tepat melaporkan bahwa komisi penyelidik menyimpulkan bahwa "kecelakaan itu paling mungkin disebabkan oleh tindak kriminal atau sabotase". Namun, seorang juru bicara yang tak menyebutkan namanya ternyata menjalankan keinginan pemerintah untuk "mengarahkan pers". Ia menambahkan bahwa "penemuan Pakistan tidak sama dengan penemuan Amerika". Juru bicara itu juga mengatakan, keadaan itu mencerminkan mind-set kalangan pejabat militer Pakistan yang menginginkan stabilitas. Sehingga, mereka punya alasan agar dimaafkan, untuk dapat meneruskan kekuasaan militer. zuc.

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Ralat

Pelurusan sejarah

Saksi pernikahan

Pestisida sudah dimusnahkan

Surat Dari Redaksi

Terkesan indeks artikel mbm tempo

Seni Rupa

Gugatan setiawan

Bunga dalam 130 lukisan

Bunga dalam 130 lukisan

Pariwara

Dwi dasa warsa memasok sistem ...

Catatan Pinggir

Terbuka

Agama

Baiat setelah nabi muhammad

Indonesiana

Lari telanjang di malam sepi

Lari telanjang di malam sepi

Dokter gadungan

Tari

Pilihan fari

Buku

Kembali, setelah 177 tahun

TEMPO|interaktif

Olahraga

Takluk dari Zambia, Ghana Gagal ke Partai Puncak

Olahraga

Dzeko Optimistis City Juara Liga Inggris

Olahraga

Edin Dzeko Betah di Inggris

Teknologi

Bagaimana Gunung Sadahurip Terbentuk Alami

Nasional

Di Kantornya, Nazar Dipanggil Babe

Nasional

Anas: Saya Bukan Terdakwa, Saksi Pun Tidak

Olahraga

Demi ke Final, Valencia Harus Kalahkan Barcelona

Pemilihan Gubernur Banten Terancam Diulang  

Hatta Minta Jambi Bangun Infrastruktur Pendukung

Hendak Ditangkap Jaksa, Pejabat Kediri Menghilang

Ikang dan Grup Solid Fawzi

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif