• Home
  • 05 Agustus 1989
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Perilaku
    • Film
    • Hiburan
    • Arsitektur
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
  • Prelude
    • Surat Dari Redaksi
    • Ralat
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Selingan
  • Seni
    • Seni Rupa
    • Tari
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 05 Agustus 1989

    Bunga dalam 130 lukisan

    PESONA bunga dapat disaksikan 28 Juli-6 Agustus di Edwin's Gallery Jakarta. Seratus tiga puluh lukisan, kebanyakan cat minyak, karya 48 pelukis, dipamerkan di sana. Macam-macam bunga mereka sajikan. Mawar, terutama oleh pelukis angkatan tua. Bunga matahari, anggrek, teratai, kana, bakung, anyelir, seruni, dan lain-lain. Jadi, itulah bunga dilihat melalui lukisan: dilihat melalui penglihatan, gagasan, teknik - melalui gaya - berbagai pelukis. Tak heran jika Edwin menyajikan hidangan yang kaya. Apalagi, konon, kali ini ia bersikap sangat terbuka terhadap pelukis yang menyatakan keinginan untuk turut serta dalam pameran, juga terhadap pemilik lukisan yang ingin menitipkan miliknya. Penonton dapat menikmati mawar Lee Man Fong atau mawar Dezentje, yang warnanya suram. Tetapi juga bunga-bunga Siauw Tik Kwie dan Lim Wa Sim yang lebih terang, bahkan bunga Tatang Kuntjoro dan Robby yang gilang-gemilang. Salah satu hal yang menarik pada pelukis-pelukis ini, seperti juga pada beberapa pelukis lain, ialah bahwa jambangan bunga mereka ditemani oleh keramik: kepada citarasa akan alam (bunga) berpadu citarasa budaya, terutama jika kita ingat kedudukan keramik dalam tradisi Cina dan Jepang. Kadang kita melihat kerang atau buah dekat jambangan bunga: perasaan akan alam, bertambah. Kelopak bunga atau daun yang gugur berserak, setangkai bunga yang tertinggal di meja, tentunya dapat menimbulkan perasaan akan kefanaan dan kesunyian. Bersama tata gubah, susun-menyusun benda, menyusup gagasan dan perasaan. Bunga disinari dari suatu arah, ada bagian terang, ada bagian kelam, begitu pula latar belakang. Tidak ada yang menyamai Dullah dalam menggunakan kesempatan ini untuk menciptakan suasana yang lembut menyelimuti bunga. Sejumlah pelukis melihat bunga-bunga itu sendiri sebagai sumber cahaya. Teratai Maria Tjui dan bunga matahari Arief Sudarsono, misalnya, tampak menyalanyala. Mengapa tidak menghubungkan bunga dan Bodhisatwa - yang juga sumber terang--seperti dilakukan Lim Wa Sim ù dan Tatang Ganar? Lukisan Hidayat, Siklus Bunga, menggambarkan sebatang pohon dengan bunga-bunga merah dan kupu-kupu putih. Siklus bunga adalah siklus kehidupan, dan pohon Hidayat, tentunya, adalah Pohon Hayat. Hubungan bunga dan cahaya memberi peluang kepada sementara pelukis untuk menggambar jambangan kaca transparan, yang menyodorkan soal rumit. Jambangan berkilau, memantulkan sinar. Jambangan juga memperlihatkan sekaligus benda yang ada di belakangnya, benda yang ada di dalamnya, tetapi juga bayangan benda yang tercermin pada jambangan itu. Siauw Tik Kwie memecahkan soal ini dengan baik dalam salah satu lukisannya. Bunga krisan S. Sudjojono resah bergerak-gerak di jambangan, dan, tentunya, berada dalam ruangan. Beberapa pelukis memilih bunga sedang ditangani manusia: bunga dalam perspektif maksud-maksud manusia. Demikianlah misalnya Mochtar Apin, Nana Banna, dan Chris Suharto. Dengan diromantikkan sedikit atau banyak. Gadis, yang sedang menghadapi kelompok bunga dan memegangnya setangkai dengan kedua tangannya, dalam lukisan Mochtar Apin, ia bertelanjang bulat. Gadis-gadis pemetik bunga dalam karya Chris, cantik dan muda belia, mengenakan pakaian tradisional. Anak gadis dan bunga dalam pekerjaan Nana Banna halus dan lembut, terutama karena perlakuan pelukis ini terhadap pewarnaan (cat) dan nuansa. Tidak sedikit pelukis memilih bungabunga di alam. Salah satu contoh yang menarik ialah Bunga di Telaga Herry Dim. Pelukis ini mengetengahkan pemandangan telaga kebiruan. Di sudut kanan bawah, di latar depan, tampak tumbuhan kecil dengan tiga kuntum bunga putih. Bunga dipulangkan ke tempatnya yang besar -- alam--sunyi dan tanpa saksi, kecuali tentunya si pelukis sendiri, yang menemukannya, dan penonton yang mengamati karya pelukis. Ada pula pelukis yang melihat bunga secara keseluruhan saja, tidak melihat rinci, misalnya Sam Bimbo, Toyib, dan Irawan Karseno. Mereka melihat bidang berwarna, bercak warna, coretan dan coretan, serta irama. Bunga mereka, bagi banyak orang, tampak "abstrak". Dalam pameran ini penonton juga dapat melihat karya Win Peor, Arie Smit, Popo Iskandar, Barli, Abas Alibasyah, dan banyak lagi lainnya. Inilah jasa sebuah pameran "bertema", yang amat jarang diselenggarakan di negeri kita. Pameran ini memperlihatkan, melalui palet dan kanvas, macam-macam penglihatan pelukis, termasuk penglihatan simbolis, seperti kita kemukakan di muka. Pameran lukisan bunga baru kali ini diselenggarakan. Galeri lain yang pernah menyelenggarakan pameran bertema ialah Galeri Duta - memamerkan lukisan potret diri para pelukis. Pameran bertema seperti itu akan membantu kita mengamati lebih teliti karya para pelukis dan memahami lebih dalam daya cipta dan gagasan-gagasan mereka. Sanento Yuliman

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Ralat

Pelurusan sejarah

Saksi pernikahan

Pestisida sudah dimusnahkan

Surat Dari Redaksi

Terkesan indeks artikel mbm tempo

Seni Rupa

Gugatan setiawan

Bunga dalam 130 lukisan

Bunga dalam 130 lukisan

Pariwara

Dwi dasa warsa memasok sistem ...

Catatan Pinggir

Terbuka

Agama

Baiat setelah nabi muhammad

Indonesiana

Lari telanjang di malam sepi

Lari telanjang di malam sepi

Dokter gadungan

Tari

Pilihan fari

Buku

Kembali, setelah 177 tahun

TEMPO|interaktif

Nasional

Demokrat Copot Mirwan Amir dari Pimpinan Banggar  

Bisnis

Pemegang Saham Setujui Stock Split Kalbe Farma

Gaya Hidup

Tips Cantik Ala Halle Berry  

Nasional

Pendaftar SNMPTN Bandung Salah Isi Formulir  

Olahraga

Juarai Seri-A, Awal buat Juventus Taklukkan Dunia

Olahraga

Dua Trofi Inter Dipamerkan di Senayan

Bisnis

Asia-Pasifik Dimbau Kurangi Ketergantungan Ekspor  

Bisnis

Kalbe Farma Bagikan Dividen Rp 891 Miliar

Olahraga

Taufik Kalah, Indonesia Tertinggal 2-1  

Seni & Hiburan

Indah Dewi Pertiwi Ngebet Nonton Lady Gaga  

Olahraga

Pelatih Inter Milan Janjikan Tampilan Menghibur  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif