• Home
  • 05 Agustus 1989
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Perilaku
    • Film
    • Hiburan
    • Arsitektur
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
  • Prelude
    • Surat Dari Redaksi
    • Ralat
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Selingan
  • Seni
    • Seni Rupa
    • Tari
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 05 Agustus 1989

    Pilihan fari

    Karya utama: "Pilihan Sinta " (70 menit) Penata tari: Farida Feisol Penata musik: Sugeng Pratikno Penata artistik: Rudjito Tempat: Gedung Kesenian Jakarta Waktu: 28, 29, dan 30 Juli 1989. DALAM penyajiannya kali ini, Farida eisol memperlihatkan suatu, penjelajahan teknik, khususnya dua kali. Pertama, penggunaan topeng bagi seluruh penarinya (kecuali para penari "api" pada adegan terakhir), yang dasar teknik tarinya adalah balet. Kedua, penggunaan dialog oleh penari-penari pemegang peran. Dialog itu hanya mementingkan intonasi untuk mengisyaratkan apa yang sedang dipercakapkan, tanpa pengucapan yang jelas. Untuk tokoh-tokoh utama tertentu Sinta, Rama, Laksmana, dan kijang digunakan topeng yang bergaya Jawa. Sedangkan untuk Rahwana, pendeta, Ibu Pertiwi, kelompok "garis sakti" dan "rakyat", serta kera-kera, digunakan topeng yang dirancang bebas. Adanya dua gaya topeng ini selanjutnya tidak bertaut dalam penggarapan gerak dari karya tari ini. Pertautan itu ada muncul dalam penggarapan suara: yang bertopeng Jawa suaranya seperti bicara, sedangkan yang bertopeng gaya bebas suaranya hanya berupa penggalan-penggalan bunyi seperti "iit, iiik, hah, huh". Dilihat secara keseluruhan, sulit menemukan kesatuan desain dalam koreografi Pilihan Sinta ini. Irama dari karya ini tidak jelas. Adegan-adegan berlalu tanpa sanggup membentuk kesan yang tegas mengenai suasana masingmasing. Bahkan terdapat adegan yang tentunya sedih, pengusiran Sinta oleh Rama, yang malahan menimbulkan suasana main-main. Kesan ini terutama ditimbulkan oleh musik dengan tingkahan yang lincah pada silofon. Juga Rama dan Laksmana dalam adegan itu bersama orang-orang berjubah membuat gerakan-gerakan naik-turun pada kedua bahu, dan sambil duduk kedua tungkai yang dibuka ke samping membuat seperti langkah-langkah ke kiri dan ke kanan. Kesannya adalah bercanda. Kesan-kesan yang kuat dalam karya ini ditimbulkan oleh tata cahaya dan tata rupa pentas. Rama-Sinta-Laksmana di hutan muncul mengesankan di ujung kegelapan ("gua" di pertengahan pentas yang gelap, ketiga tokoh di kedalaman terjauh diterangi cahaya kehijauan samar-samar). Mereka bergerak bersama dalam garis-garis lentur, pelan menuju ke depan. Namun, setelah efek tata pentas ini usai, dan ketiga penari dalam cahaya normal berada di tengah pentas untuk berungkap sepenuhnya dengan tari, maka usai pulalah kesan yang kuat itu. Tokoh-tokoh tidak diteguhkan dengan karakterisasi, suasana tak ditegaskan dengan komposisi yang memadai.Cukup mengesankan pula adalah tata pentas untuk Sinta dimakan api. Sinta masuk ke seonggok sosok-sosok merah yang merapat ke tanah, lalu kain-kain merah menyala dengan panjang juluran yang berbeda-beda turun dari langit-langit. Lalu tarian api, dengan Sinta di tengah atau tersembunyi di belakangnya. Ini berkepanjangan. Komposisinya tak dibuat memikat, baik dalam penggarapan ruang maupun ritme. Dan ternyata pada akhir tarian ini Sinta muncul dari dalam api sudah berganti baju, dari putih cerah ke kelabu kehijauan. Perubahan kostum itu memang dapat melambangkan titik balik cerita. Tak adakah cara yang lebih ringkas? Tata visual yang baik pula adalah pada adegan Sinta ditelan bumi, yang dinyatakan dengan kain hitam hampir selebar pentas yang dimainkan, hingga membuat gelombang dari rendah ke hampir setinggi pentas. Di sini bumi tak hanya dilambangkan dengan bentangan kain hitam itu, juga dimunculkan dalam wujud tokoh nenek tua berjubah putih berat berlapis-lapis. Dalam buku acara, tokoh ini disebut "Dewi Pertiwi". Inilah salah satu interpretasi Farida yang melawan arus. Dalam buku acara, interpretasi cerita yang diberinya tekanan: Sinta masuk ke api dan kemudian ke bumi bukan semata-mata memenuhi tuntutan masyarakat, melainkan ia sengaja menolak diajak kembali ke kerajaan oleh Rama karena ia "sadar akan martabatnya" dan "kecewa atas perlakuan Rama". Cerita Rama dan Sinta, yang di dalam tradisi bertahan sebagai garapan perlambangan berkenaan dengan nilai kebenaran dan kesetiaan, di tangan Farida beralih ke tataran keseharian. Dengan memahami inilah barangkali penonton jadi harus dapat menerima bahwa Sinta bertingkah kekanakan. Suaranya yang merajuk kolokan, teriakan dan geraknya yang genit jika terpegang oleh tokoh-tokoh berjubah hitam yang kemudian jadi"garis sakti" yang melindunginya, gamitan tangannya yang tak sabar ketika hendak memegang tangan pendeta samaran Rahwana, kakinya yang meronta-ronta dalam gendongan Rahwana, dan tingkahnya main gelitik dengan kijang kencana. Garapan Pilihan Sinta tidak cukup memunculkan kemampuan tari yang sebenarnya terkandung di dalam perkumpulan Sumber Cipta. Kemampuan yang baik itu ada, ini justru terlihat pada acara yang mendahuluinya: The Dance Foyer, Vibrasi, dan Haer. Yang disebut pertama cukup dapat dinikmati dengan tenang (meskipun 30 menit agak terlalu lama juga) karena niatnya sederhana, yaitu memamerkan hasil latihan teknik. Karya kedua dan ketiga, ciptaan Yanti Arandito, yang bertumpu tegas pada "balet jazz", mampu menampilkan kemahiran penari-penarinya serta menghadirkan komposisi-komposisi yang kuat. Dalam kedua tarian rambut penari dijadikan alat ungkap. Pada karya yang pertama rambut diikat di puncak kepala, pada karya kedua diurai. Pada kedua karya ini pun dukungan tata pentas sangat penting. Misalnya, penari terbaring pada sekelumit bagian pentas yang ditinggikan, kain putih terentang ke arah tubuhnya dari langit-langit, diberi pencahayaan di baliknya. Maka, tungkai penari yang bermain di balik kain itu menghasilkan distorsi yang menunjang kesan umum. Getaran anggota-anggota badan, liukan tubuh seperti ular, putaran-putaran di daerah pinggul, adalah bahan dasar yang digunakan untuk melapisi teknik balet para penari. Tanpa konsep tematik yang jelas, teknik ini dapat menjebak ke ungkapan-ungkapan yang vulgar. Edi Sedyawati

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Ralat

Pelurusan sejarah

Saksi pernikahan

Pestisida sudah dimusnahkan

Surat Dari Redaksi

Terkesan indeks artikel mbm tempo

Seni Rupa

Gugatan setiawan

Bunga dalam 130 lukisan

Bunga dalam 130 lukisan

Pariwara

Dwi dasa warsa memasok sistem ...

Catatan Pinggir

Terbuka

Agama

Baiat setelah nabi muhammad

Indonesiana

Lari telanjang di malam sepi

Lari telanjang di malam sepi

Dokter gadungan

Tari

Pilihan fari

Buku

Kembali, setelah 177 tahun

TEMPO|interaktif

Olahraga

Allegri: Ibra-Silva Pondasi Milan di Masa Depan

Bisnis

Boleh Impor Banyak Barang, Asalkan...

Olahraga

Jurus Rahasia Tago untuk Kalahkan Taufik Hidayat

Olahraga

Tim Thomas Indonesia Samakan Kedudukan 2-2

Nasional

Demokrat Copot Mirwan Amir dari Pimpinan Banggar  

Bisnis

Pemegang Saham Setujui Stock Split Kalbe Farma

Gaya Hidup

Tips Cantik Ala Halle Berry  

Nasional

Pendaftar SNMPTN Bandung Salah Isi Formulir  

Olahraga

Juarai Seri-A, Awal buat Juventus Taklukkan Dunia

Olahraga

Dua Trofi Inter Dipamerkan di Senayan

Bisnis

Asia-Pasifik Dimbau Kurangi Ketergantungan Ekspor  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif