• Home
  • 20 Januari 1990
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Perilaku
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
  • Prelude
    • Surat Dari Redaksi
    • Ralat
    • Album
  • Sains
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Selingan
    • Selingan
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 20 Januari 1990

    Derita Kusta Terlunta Di Mahat

    MEMANG mengejutkan, karena penderita kusta di Provinsi Sumatera Barat kini tercatat 1.129. Untuk Pulau Sumatera, angka tertinggi selama ini hanya Daerah Istimewa Aceh, yang pada 1986 berjumlah 1.736. Hasil registrasi 1988, angka di Aceh turun menjadi 775. Menteri Sosial Prof. Dr. Haryati Subadyo akhir Desember silam mengunjungi Kecamatan Kenagarian Mahat, satu daerah konsentrasi kusta di Kabupaten 50 Koto, Sumatera Barat. Kunjungannya itu sebetulnya untuk melihat-lihat menhir (pahatan batu purba), yang banyak di kawasan tersebut. Tapi pada kesempatan itu ada pemuka masyarakat kemudian mengutarakan kegelisahannya, karena penderita kusta semakin banyak di sana. Jumlah dimaksud memang mencolok di kecamatan yang berpenduduk 9.600 jiwa itu. Pada 1987 ada 40 penderita kusta. Angka itu melompat menjadi 69 pada Desember barusan. Lebih dari separuhnya, mereka itu menderita kusta lepratoma yang menular. Sisanya menderita kusta tuberkuloid yang relatif tidak ganas. Wakil Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten 50 Kuto, dr. Salim Setiawan, membenarkan membengkaknya angka penderita kusta yang tak biasa di kecamatan yang 180 km dari Kota Padang itu. Salah satu penyebabnya adalah buruknya kondisi kesehatan. "Penduduk rata-rata kekurangan gizi dan tidak punya kesadaran memelihara kesehatan," ujar Salim. Kecamatan Kenagarian Mahat, yang terdiri dari 8 desa, hingga kini masih terisolasi. Kendaraan utama untuk mencapai Desa Mahat, misalnya, sampai kini masih kuda beban. Kendaraan bermotor hanya bisa mencapai kawasan pinggir. Karena itu, dua petugas kesehatan dari puskesmas pembantu terdekat harus berjalan kaki 30 kilometer untuk membagikan obat dan memberikan penyuluhan di desa itu. Penanganan kusta di Kecamatan Mahat, kata Salim, memang tidak maksimal. Para penderita belum mendapat paket pengobatan multidrug therapy (MDT). Padahal, sistem pengobatan ini ampuh dalam mengatasi kusta, dan si penderita bisa sembuh setelah menjalani pengobatan 6 sampai 24 bulan. Secara reguler, hingga sekarang dinas kesehatan kabupaten cuma memberikan obat Dapsone. Fungsi obat ini merangsang produksi sel-sel darah putih yang meningkatkan daya tahan tubuh dalam mencegah perkembangan kusta. Namun, obat ini hanya terbatas menyembuhkan kusta pada stadium ringan. MDT yang ampuh itu sebenarnya sudah diterapkan oleh Departemen Kesehatan RI untuk mengatasi kusta secara nasional. Program ini dilaksanakan dengan bantuan Yayasan Ryoichi Sasakawa -- lembaga bantuan kusta internasional -- yang rasionya 1 paket untuk 1 penderita. Dalam registrasi 1988, di Indonesia terjaring 126.221 penderita kusta dari yang sebenarnya sekitar 400.000. Penderita kusta di dunia ada 12 juta orang. Konsentrasinya yang terbesar memang di Asia Tenggara: 4,5 juta. Bandingkan, angka seluruh Eropa hanya 25.000. Di Indonesia daerah konsentrasi kusta terbesar adalah Sulawesi Selatan (30.752) dan Jawa Timur (30.752). Angka di provinsi lain yang masih tergolong tinggi (1.000-10.000) terdapat di Daerah Istimewa Aceh (tahun 1986), DKI Jakarta, dan Jawa Barat. Angka di Sumatera Barat, karena itu, berada di batas kategori rendah dan tinggi. "Dibandingkan dengan daerah lain, angka di Sumatera Barat toh masih kecil," kata dr. Juslin Katin, Kepala Kantor Wilayah Departemen Kesehatan (Kanwil Depkes) Sumatera Barat. Karena itu, kusta di daerahnya belum dilihatnya sebagai persoalan serius. Program MDT, menurut Juslin, baru akan dilaksanakan tahun ini. Selama ini, pihak Kanwil Depkes masih terus mengumpulkan data. "Angkanya berubah terus," kata dr. Rinal Fendy, yang mencatat angka penderita. "Setiap tahun kami menemukan 15 kasus baru." Juslin juga mengiyakan: belum perlu sebuah pusat rehabilitasi kusta di Kecamatan Kenagarian Mahat. "Penderita kusta tidak perlu diisolasikan. Penyakit ini tak menular seperti yang kita bayangkan," katanya. Membangun permukiman yang terpisah, menurut Juslin, mungkin mengundang masalah sosial. "Pengobatan cukup dilakukan melalui puskesmas," ujar Juslin lagi. Tapi kenyataannya tak mudah merawat penderita yang terpencar. Dari 69 penderita di Kecamatan Mahat, hanya 30 yang secara tetap menjalani perawatan dengan Dapsone. Sebagian besar dari penderita juga masih tinggal bersama keluarga. Dan ini bukannya tanpa masalah. Penularan kusta terjadi terutama karena kontak terus-menerus di antara keluarga dekat. Penularan dari ibu pada anaknya, dalam banyak hal, memang sulit dihindarkan. Walau dalam lingkaran keluarga besar penularan itu sebenarnya masih bisa dicegah. Kisah Efil, 13 tahun, penduduk Desa Tigo Sakato, adalah sebuah contoh. Penderita kusta sejak kecil ini memperoleh penyakit itu dari bibinya, Asnimar, yang mengasuhnya. Efil sempat sekolah sampai lulus SD. Kini, ketika kusta sudah merambat ke seluruh tubuhnya, khususnya di mukanya, Efil tak meneruskan sekolahnya. "Ia sakit-sakitan dan tidak lagi kuat olahraga," kata ibunya. Idris, 35 tahun, juga penduduk desa itu, adalah contoh lainnya. Kini pemuda ini tinggal di pinggir desa, karena keluarganya sepakat mengasingkannya. Idris, yang mendapat kusta dari pamannya yang telah meninggal 5 tahun silam, sempat menulari keponakannya, Nazril, 18 tahun. Di tempat pengasingan, Idris, yang jari-jari kakinya sudah buntung dimakan kusta, beternak ayam dan berkebun singkong. Di Desa Ronah, Emiwarti, 23 tahun, menderita kusta sejak usia 11 tahun. Ia sempat menikah dan kini mempunyai dua orang anak. Kendati penduduk Desa Ronah tahu bahwa Emi menderita kusta, ia masih diperbolehkan membuka warung di sebuah SD di desa itu. Namun, kusta pada tahun-tahun terakhir menyerang seluruh tubuh Emi. Pipinya sampai bolong dan bernanah. Penduduk Desa Ronah belakangan gelisah, sebab ada beberapa murid SD, tempat Emi berjualan, terkena kusta. Memang belum jelas bagaimana mereka tertular penyakit itu, tetapi penduduk minta agar Emi berhenti berdagang di sekolah tadi. Emi tidak punya pilihan lain. Ia menutup warungnya. "Saya sudah berusaha berobat, tapi tidak sembuh-sembuh," katanya penuh sesal. Padahal, ia pasrah dan menyangka kusta di Sumatera Barat disebut "penyakit canggu" -- sudah tak ada obatnya. Emi memang belum dengar ada paket pengobatan MDT. Jim Supangkat (Jakarta) dan Fachrul Rasyid (Padang)

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Ralat

Manai sophiaan meluruskan

Foto keliru

Mgr. justinus kardinal darmojuwono

Surat Dari Redaksi

Meraih gelar lomba karikatur

Album

Peringatan mangkunagoro i dihadiri sekitar 1.500 orang tamu

Meninggal

Meninggal

Catatan Pinggir

Merah, biru

Agama

Ayasofia menyusul jilbab boleh

Buku

Surga yang menghilang

TEMPO|interaktif

Bisnis

Gas Tangguh Akan Masuk ke Pasar Domestik

Bisnis

Semen Gresik Harus Fokus di Dalam Negeri

Olahraga

Allegri: Ibra-Silva Pondasi Milan di Masa Depan

Bisnis

Boleh Impor Banyak Barang, Asalkan...  

Olahraga

Jurus Rahasia Tago untuk Kalahkan Taufik Hidayat  

Olahraga

Tim Thomas Indonesia Samakan Kedudukan 2-2  

Nasional

Demokrat Copot Mirwan Amir dari Pimpinan Banggar  

Bisnis

Pemegang Saham Setujui Stock Split Kalbe Farma

Gaya Hidup

Tips Cantik Ala Halle Berry  

Nasional

Pendaftar SNMPTN Bandung Salah Isi Formulir  

Olahraga

Juarai Seri-A, Awal buat Juventus Taklukkan Dunia

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif