• Home
  • 18 Mei 1991
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Bisnis Sepekan
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Film
    • Gaya Hidup
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
  • Prelude
    • Surat Dari Redaksi
    • Kolom Pembaca
    • Ralat
    • Album
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Indonesiana
  • Seni
    • Musik
    • Teater
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 18 Mei 1991

    Bunga (hanya) 17% untuk bppc

    Belum ada kepastian kredit dari Brunei, tapi pinjaman BI Rp 359 milyar akan segera cair. Juga ada tawaran US$ 500 juta dari Hawaii. BUNGA cengkeh belum seluruhnya dipetik, ketika kepastian kredit untuk BPPC sudah diperoleh pekan silam. Dana Kredit Likuiditas Bank Indonesia (KLBI) untuk mendukung BPPC (Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh) sebanyak Rp 359 milyar segera cair dalam pekan-pekan ini juga. Dalam upaya membenahi tata niaga cengkeh, Pemerintah memang telah memberi kepercayaan pada BPPC -- konsorsium terdiri dari lima perusahaan yang dipimpin Hutomo Mandala Putra alias Tommy Soeharto -- sebagai pelaksananya. Akad kredit sudah ditandatangani Senin pekan lalu oleh PT Kerta Niaga dan Kembang Cengkeh Nasional (KCN), sebagai badan usaha pembentuk BPPC. Untuk penyaluran KLBI tersebut, BI menugasi BBD dan BRI. Sesuai dengan ketentuan Menteri Keuangan Januari 1990, kredit likuiditas yang ditopang BI hanya 75% (Rp 269 milyar). Bank pelaksana ikut menyertakan modal 25%. Bertindak sebagai agen atau pelaksana utama adalah BBD, yang mempersiapkan dana 75% (Rp 80,7 milyar) sementara BRI akan mengisi kekurangannya (25%) sebesar Rp 27 milyar. Kabarnya, kedua bank pemerintah ini memperoleh dana dari BI dengan bunga 10,25% per tahun. Dalam perkara ini, ketika situasi uang ketat sedang menghantui banyak pengusaha, KLBI tersebut tentunya memancing rasa heran di berbagai pihak. Tentang ini Tommy mengatakan, BPPC memperoleh kredit bukan karena diistimewakan, tapi karena bertindak sebagai alat pemerintah pelaksana tata niaga cengkeh. BI sendiri berkilah, mengatakan KLBI bagi pengadaan cengkeh sudah lama diberikan, sejak ketika Menteri Pertanian Tojib Hadiwidjaja. Sebelum ada BPPC, BI melepaskan kredit semacam itu untuk KUD (1970-an) dan kemudian kepada Kerta Niaga (1980-an). KLBI untuk BPPC ini sewarna dengan kredit usaha tani (KUT). Tujuannya untuk menopang penghasilan petani cengkeh. Maka, bunganya pun rendah. Menurut sumber TEMPO di BBD, bunga pinjaman ke BPPC adalah 17% dengan jangka waktu pengembalian setahun. Seorang pejabat Bl mengatakan, KLBI untuk BPPC itu jika dibandingkan dengan total kredit nasional sebesar Rp 80 trilyun, dampak ekonominya kecil. Tommy pernah mengatakan kepada TEMPO, kredit yang dimintanya ke BI sebenarnya Rp 800 milyar. Jumlah tersebut untuk mengantisipasi, jika tidak ada pembelian cengkeh oleh pabrik rokok. Sekarang, kendati hanya memperoleh Rp 359 milyar, Tommy tidak risau benar. Di samping fabrikan kretek -- di antaranya Gudang Garam -- sudah menyatakan kesediaannya membeli cengkeh BPPC, ada pintu pinjaman lain yang terbuka. Salah satu dari Sultan Brunei Hasanah Bolkiah, yang kabarnya tidak berkeberatan meminjamkan US$ 620 juta atau sekitar Rp 1,2 trilyun. Untuk ini pihak Tommy belum sedia berkomentar karena perjanjiannya belum ditandatangani. "Diharapkan dalam waktu dekat dana tersebut bisa cair," kata Sekjen BPPC Yance Worotican. Sampai saat ini, memang belum ada kepastian dari Sultan Brunei. Selain itu, sumber pinjaman lain kabarnya bakal dibuka oleh The International Money Brokers (IMB), berkedudukan di Hawaii yang menawarkan dana sampai satu trilyun rupiah, dengan bunga 8,5%. Tampaknya, para pemberi pinjaman itu tidak khawatir kreditnya terancam macet. Hal ini diungkapkan oleh Direktur Kredit BRI Ir. Sugianto. "Kredit yang disalurkan dijamin dengan stok cengkeh," kata Sugianto. Artinya, kalau BPPC gagal mengembalikan pinjamannya, cengkehnya bisa disita oleh BRI. Di sini pun, BRI tidak perlu bersusah payah karena sudah ada Sucofindo yang bertindak sebagai surveyor dan mengetahui secara persis berapa stok cengkeh BPPC. Paling tidak sudah tercatat, dari stok 87.000 ton yang dimiliki BPPC, 4.000 ton sudah terjual. Mohamad Cholid, Iwan Qodar, dan Indrawan (Jakarta)

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Kolom Pembaca

Akrobat

Liputan lsm, yang tak berpolitik

Kodamar sudah lama tidak ada

Surat Dari Redaksi

Pemenang lomba karya jurnalistik

Buku

Catatan politik kekuasaan hakim

Singkatan yang tidak gila

Singkatan yang tidak gila

Indonesiana

Gila gelas

Salah kubur

Ralat

Foto memggugat

Album

Meninggal

Sakit

Catatan Pinggir

Cemas

TEMPO|interaktif

Bisnis

Gas Tangguh Akan Masuk ke Pasar Domestik

Bisnis

Semen Gresik Harus Fokus di Dalam Negeri  

Olahraga

Allegri: Ibra-Silva Fondasi Milan di Masa Depan

Bisnis

Boleh Impor Banyak Barang, Asalkan...  

Olahraga

Jurus Rahasia Tago untuk Kalahkan Taufik Hidayat  

Olahraga

Tim Thomas Indonesia Samakan Kedudukan 2-2  

Nasional

Demokrat Copot Mirwan Amir dari Pimpinan Banggar  

Bisnis

Pemegang Saham Setujui Stock Split Kalbe Farma

Gaya Hidup

Tips Cantik Ala Halle Berry  

Nasional

Pendaftar SNMPTN Bandung Salah Isi Formulir  

Olahraga

Juarai Seri-A, Awal buat Juventus Taklukkan Dunia

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif