• Home
  • 06 Juli 1991
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Bisnis Sepekan
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Perilaku
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Khusus
    • Laporan Khusus
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
  • Prelude
    • Surat Dari Redaksi
    • Kolom Pembaca
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Selingan
  • Seni
    • Musik
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 06 Juli 1991

    Bom nuklir penolak kiamat

    Kiamat mungkin akan datang dalam kurun 50 tahun. Gara-garanya: ada asteroid menghantam bumi. Tapi bisa dibelokkan dengan bom nuklir. HARI kiamat, konon, bisa datang lebih cepat. Sebuah batu asteroid berukuran 1 km, atau mungkin 10 kali lebih besar, kini dalam perjalanan untuk memotong orbit bumi. Benturan antara bumi dan meteor raksasa itu, "ada kemungkinan bakal terjadi dalam kurun 50 tahun mendatang," kata Prof. Tom Gehrel, pakar ilmu keplanetan dari Universitas Arizona, Amerika Serikat. Benturan itu akan menyalakan ledakan mahadahsyat, yang bisa membuat bumi luluh-lantak. Ledakannya itu akan bermilyar kali lebih besar dari letusan bom atom di Hiroshima, 46 tahun yang lalu. Kematian seketika, sampai radius ribuan kilometer, sulit dihindarkan. "Peluang kematiannya lebih besar dibandingkan pesawat jet yang menubruk gunung," kata Prof. Gehrel, seperti dikutip The New York Times dua pekan lalu. Asteroid memang sering lancang masuk ke jalur orbit bumi. Pada 1989, misalnya, sebuah asteroid bergaris tengah 250 meter memotong lintasan bumi. Kalau saja bumi terlambat enam jam dalam gerak evolusinya, benturan dipastikan terjadi. Dan akibatnya setara dengan letusan 1.000 megaton bahan peledak TNT. Batu asteroid itu bermilyar jumlahnya, yang mengedari matahari pada jalur di antara planet bumi, Mars, dan Yupiter. Ukurannya macam-macam, dari yang sekecil debu sampai sebesar planet mini berdiameter 700 km. Celakanya, orbitnya paling kacau, sehingga bumi, Yupiter, dan Mars sering jadi sasaran tubrukan. Para pengamat asteroid semacam Tom Gehrel rajin mencatat frekuensi munculnya batuan angkasa luar itu, dan memetakan orbitnya. Sejauh ini, telah terdokumentasi 183 buah asteroid berbahaya, yang kerap berada dekat bumi. Dari jumlah itu, sekitar 20 buah berukuran lebih dari 1,5 km garis tengahnya. Menurut statistik, asteroid raksasa itu menabrak bumi sekali dalam setiap 300 ribu juta tahun. Musibah yang diakibatkan tumbukan asteroid bukan saja lantaran dia keras dan besar. Kecepatan geraknya pun luar biasa. Ada yang menyebut angka 90 ribu km/jam, ada pula yang memperkirakan 250 ribu km/jam. Ketika masuk ke atmosfer bumi, asteroid disebut meteor, bintang jatuh. Serpihan batuannya dinamai meteorit. Benturan meteor ini menimbulkan luka khas pada tubuh bumi, berupa cekungan mirip kawah. Dan kini tercatat sedikitnya ada 131 buah kawah yang terbentuk dari bintang jatuh. Di antara kawah-kawah bermeteorit itu, yang sering disebut-sebut adalah di Arizona Utara (Amerika), di Australia Selatan, di Ontario (Kanada), dan di lembah Sunai Tunuska, Siberia, Uni Soviet. Di antara kasus kecelakaan lalu lintas asteroid itu, benturan yang disebut-sebut paling dahsyat terjadi 65 juta tahun lampau. Ketika itu, sebuah meteor bergaris tengah 8 km menerjang planet bumi dengan kecepatan 250 ribu km per jam. Akibatnya, konon, meteor itu ambles sedalam 40 km. Guncangan yang muncul tak terkirakan dahsyatnya. Hujan batu terjadi sampai ribuan km dari titik benturan. Laut pun bergolak, menimbulkan gelombang yang 5 km tingginya. Sekitar 1.700 km batuan berubah jadi debu halus, yang menutup atmosfer bumi. Sinar matahari tertutup bumi gelap-gulita, bahkan sampai beberapa tahun. Sebagian besar makhluk penghuni bumi diperkirakan musnah. Ada yang mati karena tertimpa batu, tertelan air samudera, namun sebagian besar musnah karena habitatnya porak-poranda. Makhluk herbivora kehilangan daun dan buah-buahan, karnivora kehilangan hewan-hewan buruan. Dalam kondisi yang amat buruk itu, menurut perkiraan, keluarga besar hewan raksasa purba Dinosaurus mengalami kepunahan. Pusat benturan itu sendiri masih belum diketahui secara persis. Ada yang memperkirakan terjadi di Laut Karibia atau di Pasifik. Belakangan pandangan-pandangan itu makin menyatu, dan menunjuk pada sebuah basin (cekungan) bergaris tengah 180 km, yang terkubur nun 1.100 meter di bawah tanah Semenanjung Yucatan, Meksiko. Cekungan itu diduga terbentuk 65 juta tahun lalu. Kalaupun dugaan itu benar, tapak di Yucatan bukanlah jejak kawah meteor terbesar yang bisa diidentifikasi. Kawah meteor yang ditemukan di Ontario mencapai garis tengah 200 km. Sedangkan kawah di Australia Selatan lebarnya 160 km. Lebar kawah itu memang bisa 25 kali lipat dari ukuran meteor yang jatuh. Kawah di Arizona, misalnya, lebarnya 1.200 meter dan ia dibentuk oleh meteor berukuran 45 meter, 50 ribu tahun lalu. Kasus meteor jatuh yang terbaru, dalam catatan, terjadi 1908 di lembah Sungai Tungusta, Uni Soviet. Ledakannya membuat hutan di tanah sekitarnya, sampai radius puluhan km, porak-poranda. Bahkan binatang-binatang yang ada pada jarak 600 km mengalami cedera. Kekuatan ledakannya setara dengan 12 megaton TNT, padahal meteor yang jatuh konon hanya berukuran kurang dari 10 meter. Melihat peta lalu lintas asteroid itu, Prof. Gehrel menaksir bahwa ancaman tabrakan bisa terjadi pada kurun 50 tahun ke depan. Mengingat banyaknya kombinasi gerak asteroid itu, dalam taksiran Gehrel, peluang bintang jatuh itu memang kecil, hanya 0,00005 sampai 0,00016 persen. "Tapi harus waspada," ujarnya. Dia bertekad menyelidiki lebih dalam soal orbit asteroid itu, agar kedatangannya bisa diketahui lebih dini. Sesudah itu, asteroid mungkin tak lagi jadi ancaman besar. Bapak bom hidrogen Amerika, Prof. Edward Teller, yakin bahwa gerak asteroid menuju bumi itu bisa dibelokkan. Caranya: menembaknya dengan bom nuklir berukuran besar. Biayanya pun, kata Prof. Teller, cuma Rp 200 milyar -- murah kalau ditanggung renteng umat sebumi. Putut Trihusodo

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Kolom Pembaca

Menggeser tema film nasional

Masih soal hotel chitra

Catatan pinggir berubah

Surat Dari Redaksi

Lokakarya pemasaran tempo

Buku

Antologi yang interesting

Antologi yang "interesting"

Merekam india dengan kreatif

Indonesiana

Kleptomania di denpasar

Musuh yahudi di purwakarta

Agama

Bukan haji politik

Bukan haji politik umat islam dan pak harto

Sujud syukur, semoga mabrur

Catatan Pinggir

Sejarah

TEMPO|interaktif

Olahraga

Tiba di Jakarta, Ini Komentar Zanetti

Bisnis

Gas Tangguh Akan Masuk ke Pasar Domestik  

Bisnis

Semen Gresik Harus Fokus di Dalam Negeri  

Olahraga

Allegri: Ibra-Silva Fondasi Milan di Masa Depan

Bisnis

Boleh Impor Banyak Barang, Asalkan...  

Olahraga

Jurus Rahasia Tago untuk Kalahkan Taufik Hidayat  

Olahraga

Tim Thomas Indonesia Samakan Kedudukan 2-2  

Nasional

Demokrat Copot Mirwan Amir dari Pimpinan Banggar  

Bisnis

Pemegang Saham Setujui Stock Split Kalbe Farma

Gaya Hidup

Tips Cantik Ala Halle Berry  

Nasional

Pendaftar SNMPTN Bandung Salah Isi Formulir  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif