• Home
  • 06 Juli 1991
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Bisnis Sepekan
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Perilaku
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Laporan Khusus
    • Laporan Khusus
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
  • Prelude
    • Surat Dari Redaksi
    • Kolom Pembaca
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Selingan
  • Seni
    • Musik
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 06 Juli 1991

    Cinta di tangan kakek

    Seorang gadis dikabarkan mati bunuh diri. Ternyata, ia dibunuh kakeknya sendiri, yang kepala desa. Hanya gara-gara kepergok berpacaran. DI bawah pohon kelapa di lereng bukit kapur, sepasang remaja lagi asyik memadu cinta. Yang lelaki Suprapto, 23 tahun, pasangannya Dian Puspitawati, 19 tahun. Di bawah lereng itu terhampar pemandangan indah, riak air Waduk Gajah Mungkur, Wonogiri, Jawa Tengah. Saking asyiknya, pasangan itu tak sadar bahwa seseorang mengendap-endap mendekati tempat itu. "Bajingan ...," terdengar suara menggelegar. Seorang lelaki 60 tahun, yang tidak lain kakek Dian sendiri, Martosuyono telah berdiri dengan muka garang di samping mereka. Gadis manis ini buru-buru memasang kancing bajunya di hadapan kakeknya. Sedangkan Suprapto bengong. "Bajingan, keparat kalian ...," kembali Kakek Marto, yang Kepala Desa Gumiwang Lor, mengumpat sambil menjambak rambut gondrong Suprapto. Bak pesilat, kaki kakek itu menghantam punggung Suprapto. "Saya sengaja tidak membalas, dia orangtua dan kepala desa lagi," ujar Suprapto, memberi alasan. Tapi, ketika kepala desa itu akan menghantam kepala Suprapto dengan batu, Dian menjerit. Batu memang urung menimpuk kepala Suprapto, tapi kini giliran Dian menjadi sasaran. Kakek yang sedang naik pitam itu menyeret Dian pulang. Di rumahnya, gadis yang berkulit bersih ini dihajar habis-habisan. Ia ditempeleng, dipukul dengan tangan kosong, dan inilah klimaksnya, leher Dian dijerat dengan seutas tali plastik. Akhirnya, gadis yang baru saja lulus SMA Pancasila Wonogiri itu terkulai lemas. Dian tewas pada Ahad siang dua pekan lalu. Kini giliran kakek Marto yang bingung. Tokoh yang sangat dihormati di desanya itu lari ke luar rumah sambil berteriak, "Tolong, tolong ..., Dian mau bunuh diri." Penduduk desa segera berdatangan memenuhi rumah bergaya joglo berdinding kayu itu. Mereka menemukan Dian tergantung pada seutas tali dan sudah tak bernyawa. Rencana penguburan segera disiapkan penduduk. Berita duka pun disebarkan ke seluruh pelosok desa. Ketika itulah seseorang menyelipkan surat kaleng ke Muspika Wuryantoro. Isinya menyebutkan kematian Dian tidak wajar. Polsek Wuryantoro segera mengusut kematian Dian. Ternyata, pada bagian kepala gadis malang ini terdapat luka memar dan pada lehernya ada bekas jeratan tali. Menurut visum tim dokter dari Fakultas Kedokteran UNS Solo, Dian tewas akibat kesulitan bernapas. Tentu saja, tidak sulit mencari pelakunya. Kini Pak Marto, yang telah 14 tahun menjabat Kepala Desa Gumiwang Lor, ditahan di Polres Wonogiri. Kepada penyidik, Pak Marto menyatakan bahwa ia sangat menyayangi cucunya. Sejak orangtua gadis itu bercerai, 1987, Dian dan adiknya tinggal bersama kakeknya. Martosuyono sebenarnya menginginkan agar cucunya menyelesaikan sekolah lebih dulu sebelum berpacaran. Tapi si gadis ingin lain. Kuping kakek itu sempat panas mendengar gunjingan orang desanya. Konon, Suprapto sering menyelinap ke kamar Dian pada malam hari. "Saya tidak bermaksud untuk membunuhnya. Saya hanya ingin menghajarnya, demi masa depannya sendiri," ucap Pak Marto, menyesal. Suprapto, lelaki hitam manis bertubuh lencir ini, kepada TEMPO mengaku sudah beberapa kali melakukan hubungan badan dengan Dian di kamar pacarnya itu. Ia juga mengaku suka menyelinap ke kamar gadis itu pada malam hari, di saat kakeknya sedang tidak di rumah. Terakhir, terjadi Sabtu malam, 15 Juni lalu. Malam itu, menurut pria lulusan STM ini, mereka berjanji akan bertemu lagi esoknya di kebun kosong di tepian waduk itu. Ternyata, itulah pertemuan terakhir mereka. Sebenarnya, Suprapto sudah berniat meminang kekasihnya yang sudah dua tahun dipacarinya itu. Tapi Dian, yang baru saja lulus SMA, ingin lebih dulu kursus komputer. Ternyata, semua itu hanya rancangan. Kini Suprapto, yang bekerja di sebuah perusahaan mebel di Solo, sering termangu di pinggir sawah. "Rasanya saya ingin ikut mati tapi tak bisa," ujar Suprapto, anak seorang pamong desa. Kastoyo Ramelan dan Syahril Chili

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Kolom Pembaca

Menggeser tema film nasional

Masih soal hotel chitra

Catatan pinggir berubah

Surat Dari Redaksi

Lokakarya pemasaran tempo

Buku

Antologi yang interesting

Antologi yang "interesting"

Merekam india dengan kreatif

Indonesiana

Kleptomania di denpasar

Musuh yahudi di purwakarta

Agama

Bukan haji politik

Bukan haji politik umat islam dan pak harto

Sujud syukur, semoga mabrur

Catatan Pinggir

Sejarah

TEMPO|interaktif

Nasional

Gara-gara Kakak Nazar, Empat Pejabat Dicopot

Metro

Sopir Bus Karunia Bakti Jadi Tersangka  

Mantan Suami Whitney Tuai Kecaman di Twitter

Nasional

Partai Aceh Sebut Irwandi Yusuf Gagal Sejahterakan Rakyat Aceh

Nasional

Gus Solah: Saatnya FPI Introspeksi

Jadi Gubernur, Jokowi Tunggu Panggilan Zaman  

Nasional

Istri Korban Tabrakan Bus di Cisarua Belum Ketemu  

Nasional

Rektor Udayana Tak Tahu Komisi untuk Nazaruddin  

Olahraga

Kata Neville, Tindakan Luis Suarez Tidak Bijak  

Nasional

Pembersihan Kader Demokrat Tak Boleh Pandang Bulu  

Olahraga

Penggawa Barcelona Akui Sulit Kejar Madrid

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif