• Home
  • 11 Juli 1992
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Bisnis Sepekan
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Perilaku
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
  • Prelude
    • Surat Dari Redaksi
    • Kolom Pembaca
    • Album
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Selingan
  • Seni
    • Seni Rupa
    • Tari
    • Seni
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Obituari
  • Arsip
  • 11 Juli 1992

    Tumpulnya strategi mata tombak

    AKHIR-AKHIR ini bermunculan terbitan di Nederland mengenai kebijaksanaan Belanda selama tahun 1945-1950 di Indonesia. Namun, baru kali ini ada studi yang serius tentang strategi militer dalam kurun waktu itu. Bagi Indonesia, periode ini disebut "perjuangan" atau "revolusi fisik". Sedang Belanda menganggapnya sebagai "perang", yakni "perang revolusioner", sama seperti yang terjadi di Vietnam, Cina, Malaya, dan lain-lain dalam periode pascakolonial. Studi Groen dalam buku ini sangat rinci dan informatif. Fokusnya adalah strategi militer Belanda 1945-1949. Masalah militer dalam menghadapi revolusi Indonesia ini tampaknya serba paling besar. Dalam perspektif sejarah militer Belanda, mesin perang kolonial 1945-1950 itu adalah yang terbesar yang pernah dibangunnya sejak perang melawan Raja Prancis, Louis XIV, pada abad ke17. Perang di Indonesia itu bisa pula dilihat sebagai pembangunan dan ujicoba militer terbesar sejak perang Napoleon awal abad ke-19, dan pembangunan mesin perang terbesar di Indonesia sejak menjadi koloninya 350 tahun sebelumnya. Tentara yang dikerahkan bukan semacam KNIL, tentara bayaran, atau profesional. Belanda mengirim konskrip atau pemuda wajib militernya. Ini pula yang kemudian mewarnai politik militer Belanda, politik dalam dan luar negerinya. Pada Agustus 1945 Nederland baru dibebaskan dari Jerman seusai Perang Dunia II. Ia miskin dan hampir tak punya satu divisi atau bahkan brigade militer yang tangguh untuk membantu sekutunya di Eropa atau "membebaskan" kembali koloninya Hindia Belanda dari Jepang. Kebetulan tanggal 15 Agustus 1945 Jepang menyerah, disusul Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945. Van Mook, letnan gubernur jenderal, penguasa Belanda tertinggi di Indonesia, dinasihati oleh Jenderal Schilling yang berpengalaman pada perang gerilya Aceh awal abad ini, bahwa Nederland perlu ratusan ribu tentara selama bertahun-tahun untuk memulihkan ketenteraman seperti sebelum 1941. Van Mook dan beberapa pejabat Belanda di Jakarta berpendapat sama, yakni Nederland tak akan mampu memenangkan "Perang Jawa" atau Pax Neerlandica. Namun, yang memimpin perang adalah Jenderal Spoor, bukan Schilling yang sudah tua dan baru saja bebas dari penjara Jepang. KNIL atau aparatnya, dan birokrasi kolonial tak bisa dipakai. Singkat kata, modal militer dan politik Belanda dalam menghadapi revolusi Indonesia sangat minim. Van Mook dan para pejabat Belanda bertambah pesimistis setelah mendapat perlawanan keras di Surabaya, Ambarawa, dan tempat-tempat lain pada tahun 1945. Fanatisme revolusioner dari Indonesia ini lebih meyakinkan Van Mook bahwa tak ada jalan lain kecuali lewat perundingan. Dan Inggris, yang secara militer dalam Perang Pasifik kebagian tugas di Indonesia, juga ikut mendorong Belanda ke meja perundingan. Terpaksa Van Mook menempuh jalan Hoge Veluwe, Linggarjati, dan lainlain. Sekali ada jalan diplomasi dan pengakuan terhadap Republik, tentunya tak ada jalan lain kecuali dekolonisasi. Jalan dekolonisasi memang sudah disetujui oleh Nederland dari awal Desember 1945. Namun, proses itu perlu diawasi dan kepentingan Belanda harus tetap terjamin. Tujuan Belanda pun, dalam penggunaan kekuatan militernya, bukan semata-mata untuk mengembalikan pemerintahan kolonial seperti sebelum 1942. Strategi militer yang dikenal dengan speerpuntenstrategie (strategi mata tombak), untuk melakukan pendudukan sebagian atau menyeluruh, disusun oleh Jenderal Spoor, kepala staf angkatan darat Nederland. Ia memerlukan 75.000 tentara untuk menguasai Jawa, yang kemudian dikembangkan menjadi 120.000. Kalau tak ada Perjanjian RoemwVan Royen, entah berapa ratus ribu tentara lagi dan berapa tahun diperlukan untuk menguasai Indonesia. Masalah terakhir ini sangat penting bagi Belanda karena biaya perang yang tinggi dalam keadaan ekonominya yang lemah. Strategi Spoor, kecuali menduduki tempat-tempat strategis dengan pasukan mobil yang sigap bergerak, adalah melumpuhkan pimpinan politik/militer Republik yang disebutnya kaum "pemberontak nasionalis". Namun Van Mook, kaum liberal dan progresif Belanda melihat bahwa pemberontakan nasionalis Indonesia ini berakar dalam sejak zaman kolonial. Untuk menenteramkan keadaan, Belanda perlu waktu lama dan dana yang besar. Maka, mereka mendesak ke meja perundingan. Menurut Groen, kepercayaan militer Belanda menguat sebagai kekuatan superior atas perlawanan Republik pada pertengahan 1946. Pada waktu itu tentara Republik lewat aksiaksi militer besar dan kecil (gerilya) gagal mengusir Belanda dari pospos mereka di pantai utara Jawa. Sejak itu mereka bertahan dan bergerilya. Ini yang dianggap enteng oleh Belanda. Van Mook memang menyetujui rencana militer Spoor. Ia dan kaum kiri Belanda setuju penggunaan kekerasan untuk mengakhiri konflik Indonesia-Belanda. Namun, secara politis ia berusaha membatasi kekerasan itu. Apakah Groen menilai aksiaksi militer Belanda I (1947) untuk menguasai daerah produktif Jawa dan melumpuhkan pimpinan politik Indonesia berhasil? Ternyata tidak. Penulis buku ini menunjukkan bukti kegagalan Belanda itu berupa banyaknya korban dan biaya, diplomasi dan kecaman internasional. Onghokham

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Surat Dari Redaksi

Pengembangan karier

Kolom Pembaca

Beberapa catatan untuk tempo

Taksi di bandara soekarno hatta

Mengharapkan perbaikan dari pimpinan

Indonesiana

Sepotong onderdil

Wibawa dan tenteram

Buku

Tumpulnya strategi mata tombak

Tari

Sekedar buat cuci mata

Catatan Pinggir

Burr

Album

Meninggal

Seni Rupa

Museum gemerlap di tengah sawah

TEMPO|interaktif

Tes Doping Piala Eropa Gunakan Taktik Militer

Nasional

30-an Orang Tahu Identitas TrioMacan2000

Benzema: Tanpa Rooney, Inggris Tetap Hebat

Bisnis

Melemah 98 Poin, Rupiah ke 9.358 per Dolar AS

Bisnis

Penyatuan Zona Waktu Tingkatkan Transaksi Dagang  

Teknologi

Ini Antivirus Gratisan dari Kaspersky

Nasional

TrioMacan Klaim Cuitnya Info Intelijen  

Olahraga

Tiba di Jakarta, Ini Komentar Zanetti

Bisnis

Gas Tangguh Akan Masuk ke Pasar Domestik  

Bisnis

Semen Gresik Harus Fokus di Dalam Negeri  

Olahraga

Allegri: Ibra-Silva Fondasi Milan di Masa Depan

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif