• Home
  • 10 Oktober 1992
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Bisnis Sepekan
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Perilaku
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
  • Prelude
    • Surat Dari Redaksi
    • Ralat
    • Album
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Selingan
  • Seni
    • Musik
    • Seni Rupa
    • Tari
    • Seni
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 10 Oktober 1992

    Menonton cong begon menonton

    PERANG Bosnia bahkan mengejutkan Cong Begon. Ketika dia menonton televisi, orang berduyun menonton Begon di Desa Martajasah, Kecamatan Kota, sekitar 3 km di barat Bangkalan, Madura. Yang datang bukan hanya dari seantero Bangkalan, tapi juga dari Surabaya. Cong Begon adalah seekor sapi produk inseminasi buatan yang baru berumur tiga bulan, ternak piaran Mat Sahlan, 35 tahun. Tiap sore, mungkin sehabis mandi, Begon beranjak dari kandang menyelinap lewat pintu belakang menuju ruang tamu juragannya yang 3 x 5 meter. "Kalau kandangnya atau rumah dikunci, Begon marah. Ia akan menanduk sampai pintu dibuka," tutur Sulikhah, istri Mat Sahlan, kepada K. Candra Negara dari TEMPO. Kegemaran ganjil di dunia sapi ini bermula ketika si Begon berumur delapan hari. Di ruang tamu, Begon langsung mengambil posisi paling depan, bergolek atau berdiri seenaknya. Matanya nanar menatap layar kaca hitam putih 14 inci yang menayangkan Dunia dalam Berita. Dar-der-dor di Bosnia membuatnya beberapa kali tersentak. Tak diceritakan apakah Begon ikut bergoyang waktu menyaksikan tayangan musik dangdut. Meski mulutnya tak berhenti memamah biak, hewan ini belum pernah melepas bom dalam asyiknya menonton. Tiap kali kebelet buang hajat, Begon kembali ke kandangnya. Setelah itu balik lagi ke depan TV. Acara demi acara dinikmatinya. Dan begitu mendengar lagu Rayuan Pulau Kelapa, si Begon pun beringsut ke kandangnya, sekitar limat meter dari ruang tamu tadi, tanpa harus di "hushus". Mereka semula tak menyukai kelakuan si Begon. "Mana ada orang yang mau nonton TV bareng sapi," kata Sulikhah, 30 tahun. Jadi selalu diusir. Tapi Begon cerdik. Dilarang non ton di rumah, eh, dia ngeloyor ke rumah tetangga. Wah, malah lebih repot. Tetangga sewot. Ada lagi keanehannya. Kalau lehernya dielus, Begon mengangkat dua kaki depannya seakan mengajak salaman. Dia juga menurut kalau disuruh mengejar ayam. Tapi jangan coba-coba memegang kepalanya. Begon marah, dan mengejar serta menanduk. Amarah Begon hanya bisa diredam dengan lidi. "Kalau kayu atau bambu, buat Begon nggak ada pengaruhnya," kata Sulikhah. Dan seperti biasanya, ada juga yang ingin mengobjekkan keganjilan ini. Misalnya, petugas desa menganjurkan Sahlan mengutip uang dari pengunjung. Digunakan untuk makanan si Begon atau memperbaiki pagar bambu depan rumah yang rusak ditabrak orang. Juga untuk kas desa. "Saya nggak setuju. Orang mau melihat sapi saja kok harus bayar. Malu saya," kata Sulikhah. Buat mereka, kelakuan sapinya ini tak dirasa aneh, sehingga Begon kelak akan diperlakukan sama seperti lima kakaknya: dilego saja. "Sudah ada yang menawar Begon Rp 500 ribu. Belum saya lepas. Kalau sudah besar, kan harganya lebih mahal," ujar Sulikhah. Sementara itu kelakuan ganjil Begon ada yang memperjudikan, yakni menanyakan kode buntut. "Ini sapi biasa, sama seperti sapi yang lain. Masa ditanya nomor," gerutu Sulikhah.

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Surat Dari Redaksi

Persiapan Laporan Utama

Ralat

Dan diah memanggil salim masuk

Sentuh bagian muka saja

Indonesiana

Sumur tanpa aids

Menonton cong begon menonton

Buku

Pergolakan di dua daerah

Seni Rupa

Kritik sosial dan kemelimpah-ruahan

Album

Penghargaan

Penghargaan

Serah Terima

Catatan Pinggir

Tafsir

Tari

Catatan untuk si boi

TEMPO|interaktif

Olahraga

Tim Thomas Indonesia Disingkirkan Jepang  

Tes Doping Piala Eropa Gunakan Taktik Militer  

Nasional

30-an Orang Tahu Identitas TrioMacan2000

Benzema: Tanpa Rooney, Inggris Tetap Hebat

Bisnis

Melemah 98 Poin, Rupiah ke 9.358 per Dolar AS  

Bisnis

Penyatuan Zona Waktu Tingkatkan Transaksi Dagang  

Teknologi

Ini Antivirus Gratisan dari Kaspersky

Nasional

TrioMacan Klaim Cuitnya Info Intelijen  

Olahraga

Tiba di Jakarta, Ini Komentar Zanetti

Bisnis

Gas Tangguh Akan Masuk ke Pasar Domestik  

Bisnis

Semen Gresik Harus Fokus di Dalam Negeri  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif