• Home
  • 10 Oktober 1992
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Bisnis Sepekan
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Perilaku
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
  • Prelude
    • Surat Dari Redaksi
    • Ralat
    • Album
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Selingan
  • Seni
    • Musik
    • Seni Rupa
    • Tari
    • Seni
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 10 Oktober 1992

    Catatan untuk si boi

    PADA 2 dan 3 Oktober malam lalu, Penata Tari Boi G. Sakti tampil dalam Jakarta International Festival of the Perform ing Arts (JIFPA) ke-2 di Gedung Kesenian Jakarta, dengan empat buah karya: Batagak (1989), Baitulah (1990), Dongeng yang Berlari (1991), dan Amai-Amai (1992). Nomor pembuka, Baitulah (Begitulah), pertama kali saya lihat dalam pentas "Sumber Cipta", bersama penata tari Maxine Heppner dari Kanada, pada 30 Agustus 1991. Garapan ini memanfaatkan berbagai elemen tradisi Minangkabau dan ditarikan oleh tiga pria dan empat wanita. Inspirasinya datang dari suasana permainan yang selalu hadir dalam pertunjukan tari Minang tradisional di desadesa. Elemen tradisi yang tampil kuat adalah musik pengiring yang ditata oleh M.P. Halim dan Epi Martison untuk instrumen lokal (pupuik, saluang, gandang, vokal) dan celoteh penari: ciek, duo, tigo, dan seterusnya. Ada pula gerak dan sikap tari tradisi: entakan kaki, tepukan paha, lompatan harimau, posisi tangan lurus tajam, sikap mematung, tagak itiak (ber diri seperti bebek), dan lainlain. Cepat dan mengalir adalah ciri garapan Boi. Bloking penari berganti cepat: 1-6, 4-2, serempak, 4-3, 3 keluar 1 masuk, 2 pergi 5 datang, susul-menyusul. Dua kelompok berpapasan, yang satu berbalik bergabung dengan yang lain adalah kebiasaan Boi mempersingkat transisi. Boi juga suka gerak berputar pada poros, bergulung di lantai, menendangkan kaki lurus tinggi ke depan, bergerak sambil mendesah, melenguh, dan berteriak. Amai-Amai (pertunjukan kedua) dan Dongeng yang Berlari (pertunjukan penutup) samasama memasalahkan wanita, dan digarap dengan pendekatan yang tak jauh beda dengan nomor pertama. Lihat saja, misalnya, adegan seorang penari meloncat dan ditangkap hinggap di tubuh pasangannya. Gerakan ini dilakukan dengan variasi posisi, tetapi melihatnya berulang di tiga nomor terasa berlebih. Upaya memecah monotoni dengan memberikan iringan nontradisi pada nomor terakhir tak banyak membantu. Dalam suasana semacam ini, Batagak, yang tampil sesudah jedah, membawa cerah seperti kostumnya: garis tepi dan bercak merah di atas latar hitam yang luas. Nomor ini paling dekat dengan tradisi, dan jika Boi memang memandang tradisi sebagai "tambang emas yang tidak habis-habisnya untuk digarap", ke sanalah ia harus pergi. Dengan catatan: bukan sekadar untuk "menyiasati" tetapi untuk "menggali dan memahami". Beberapa bulan lalu, Boi menjelaskan perubahan namanya kepada saya: bukan Boy tetapi Boi. "Memangnya kenapa?" tanya saya. "Boy terlampau berbau Barat," jawabnya. Saya membaca hal tersebut sebagai ungkapan keinginan Boi untuk "berubah" dewasa, dan hasrat mendalami akar budaya. Kisah munculnya Yandi Yasin (nama asli Boi), si anak ajaib yang tak penurut, di dunia tari Indonesia memang menarik. Dahulu Boi menganggap tari hanya cocok untuk wanita. Di rumah, ia bahkan suka mencemooh anak-anak lelaki yang setiap hari belajar tari dari ibunya (Gusmiati Suid). Baru pada usia 18 tahun, setelah biru lembam di jalanan, Boi tergerak dan tekun berlatih. Setahun kemudian ia masuk Institut Kesenian Jakarta, dan langsung meraih beberapa penghargaan koreografi. Boi yang sigap dan penuh energi memang dianugerahi kepekaan menata gerak. Lebih dari itu ia mempunyai kemampuan untuk "bermain" dengan elemen-elemen yang familiar, dan menatanya secara tidak familiar dan menarik. Kebaruan dalam garapan Boi muncul karena kombinasi tak wajar dari elemen-elemen yang kita akrabi. Inilah yang membawa beberapa karyanya tampil di forum internasional: India, Prancis, Hong Kong, Kanada, dan Amerika Serikat. Tetapi kelebihan ini bisa menjebak, terutama jika tidak diimbangi dengan upaya mencari kedalaman dan akar. Karena permainan adalah kegiatan yang "ringan" dan "permukaan." Ini terasa dalam pertunjukan Boi di Gedung Kesenian Jakarta ketika harus tampil sendirian mengisi seluruh acara malam pergelaran. Bermain dengan bentuk memang dapat memikat tetapi hanya sesaat. Permainan memang menyenangkan tetapi tak boleh menyita seluruh hidup. Boi perlu memperkaya bukan saja pendekatan tetapi juga pengalaman. Yang paling wigati adalah memantapkan isi dan jati diri. Sudah saatnya Boi mengisi batere dengan menggali dan mendalami tradisi sendiri. Tidak untuk bersikap tradisional tetapi kreatif menciptakan dasar latihan untuk mendidik penari-penarinya sendiri. Ini perlu agar jurang antara keinginan kreatif penata tari dan keragaman teknik penari, yang sampai sekarang selalu diambil dari sana-sini, terjembatani. Sal Murgiyanto

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Surat Dari Redaksi

Persiapan Laporan Utama

Ralat

Dan diah memanggil salim masuk

Sentuh bagian muka saja

Indonesiana

Sumur tanpa aids

Menonton cong begon menonton

Buku

Pergolakan di dua daerah

Seni Rupa

Kritik sosial dan kemelimpah-ruahan

Album

Penghargaan

Penghargaan

Serah Terima

Catatan Pinggir

Tafsir

Tari

Catatan untuk si boi

TEMPO|interaktif

Olahraga

Tim Thomas Indonesia Disingkirkan Jepang  

Tes Doping Piala Eropa Gunakan Taktik Militer  

Nasional

30-an Orang Tahu Identitas TrioMacan2000

Benzema: Tanpa Rooney, Inggris Tetap Hebat

Bisnis

Melemah 98 Poin, Rupiah ke 9.358 per Dolar AS  

Bisnis

Penyatuan Zona Waktu Tingkatkan Transaksi Dagang  

Teknologi

Ini Antivirus Gratisan dari Kaspersky

Nasional

TrioMacan Klaim Cuitnya Info Intelijen  

Olahraga

Tiba di Jakarta, Ini Komentar Zanetti

Bisnis

Gas Tangguh Akan Masuk ke Pasar Domestik  

Bisnis

Semen Gresik Harus Fokus di Dalam Negeri  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif