• Home
  • 20 Februari 1993
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
    • Bisnis Sepekan
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
  • Prelude
    • Surat Dari Redaksi
    • Kolom Pembaca
    • Ralat
    • Album
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Selingan
  • Seni
    • Musik
    • Seni Rupa
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 20 Februari 1993

    Penyerbuan di sarang walet

    DUA gua sarang burung walet di pantai terjal itu lengang. Letaknya memang jauh dari keramaian, kira-kira 50 km dari pusat kota Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat, atau 25 km dari Desa Parado Kuta. Tapi empat belas pekerja CV Walet Mas Lestari, pengelola gua tersebut, tetap siaga penuh di tiga pos jaga, lengkap dengan senjata tajam. Mereka sadar bahwa sewaktu-waktu insiden lama akan terulang. Dan benar saja, Sabtu senja 19 September 1992 silam batu beterbangan ke arah mereka. Lalu datang serbuan lebih dari 20 orang yang bersenjatakan parang dan panah. Bak pertarungan antarperguruan silat, kedua kelompok itu bertarung di bibir tebing gua. Parang berkelebat. Namun perlawanan para petugas Walet Mas sia-sia. Lawan terlalu banyak. Ahmad Daeng Edi, 40 tahun, salah seorang penjaga gua, kepalanya diparang. Pipi, lengan, dan pinggangnya dibabat. Ahmad sempoyongan dan jatuh ke laut. Empat hari kemudian mayat penduduk Desa Parado Kuta, Kecamatan Monta, Kabupaten Bima, ini ditemukan kira-kira lima kilometer dari gua. Kamaluddin, juga penduduk Parado Kuta, bernasib sama. Ia dikeroyok. Dalam keadaan tak berdaya tubuhnya digotong, lalu dilemparkan ke laut. Sampai tulisan ini dibuat ia belum ditemukan. Ia diduga tewas dan jasadnya terselip di jurang yang dalam. Melihat dua kawannya tewas, petugas Walet Mas lainnya ambil langkah seribu. Beberapa di antaranya membawa luka-luka. Ada pula yang ditawan. Tiga penjaga gua tertangkap dalam keadaan luka. Mereka akan dibunuh bila tidak menunjukkan tempat bertenggernya sarang walet. Peristiwa berdarah itu baru dilaporkan tiga hari kemudian. Maklum, untuk mencapai keramaian, petugas Walet Mas harus berjalan kaki. Ismail Abdullah, si petugas itu misalnya, berjalan selama dua hari ke kampung terdekat. Setelah menginap semalam di sebuah dusun, ia melaporkan kejadian itu ke polisi. Polisi bertindak dan berhasil menangkap 19 pelaku. Sejak Senin pekan lalu mereka menjadi terdakwa di Pengadilan Negeri Raba, Bima. Sementara itu Taufik, yang dituduh polisi sebagai pimpinannya, dan empat pelaku lain masih buron. Sidang ini mengundang perhatian warga Bima. Mereka berbondong-bondong untuk melihat para pelaku peristiwa yang menghebohkan itu. ''Ini memang peristiwa berdarah terbesar di Bima,'' kata Taufik Hantabi, SH, Jaksa Penuntut Umum, kepada Supriyanto Khafid dari TEMPO. Makanya Pengadilan Negeri Bima memasukkannya dalam perkara penting. Kalau saja para terdakwa itu tidak tertangkap, mungkin mereka masih akan beraksi merampok sarang burung yang berharga Rp 2,3 juta per kilogram itu. Sejak CV Walet Mas mengontrak gua sarang walet tadi dari Pemda Bima, akhir tahun 1991, ancaman perampokan sudah mengintip. Sebelum kejadian 19 September itu peristiwa serupa sudah terjadi berulang kali. tanggal 27 Juli 1992 mereka juga dipimpin Taufik mencoba merampok sarang burung walet, tapi berhasil dihalau penjaga. Awal Agustus tahun lalu Taufik kembali lagi bersama kawan-kawannya. Juga gagal. Tanggal 22 Agustus 1992 dicoba lagi, dan kali ini mereka menggondol empat kilogram sarang. Rupanya mereka ketagihan. Maka 19 September lalu mereka datang lagi dan membawa 5 kg sarang walet plus dua nyawa manusia. Motif dan latar belakang perampokan itu, menurut berbagai pihak, tidak ada kaitannya dengan keputusan Pemda untuk menyerahkan gua walet kepada swasta. Artinya bukan semacam tindakan protes penduduk sekitar Desa Parado Kuta yang dulu memetik sarang burung atas izin Pemda. Sebab, perampok itu berasal dari Desa Soriutu, 70 kilometer dari Desa Parado Kuta. Para terdakwa mengaku bahwa mereka umumnya penganggur. ''Taufik sendiri tidak memiliki pekerjaan tetap,'' ujar seorang terdakwa. Priyono B. Sumbogo

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Surat Dari Redaksi

Mengenal balkan lewat karl may

Ralat

Penjelasan dari batan

Kolom Pembaca

Gbkp bukan pecahan hkbp

Titipan buat wakil rakyat

Lagi, tentang dua buku berbeda

Agenda Pertunjukan

Kebebasan hitam putih

Lukisan kertas arene

Pameran di koi

Indonesiana

Kaus pilu

Pernikahan air

Buku

Negara mencari jati diri

Spanyol di tidore

Album

Pergantian

Penghargaan

Meninggal

Catatan Pinggir

Servetus

Seni Rupa

Made sama tak ingin sama

TEMPO|interaktif

Olahraga

Tim Thomas Indonesia Disingkirkan Jepang  

Tes Doping Piala Eropa Gunakan Taktik Militer  

Nasional

30-an Orang Tahu Identitas TrioMacan2000

Benzema: Tanpa Rooney, Inggris Tetap Hebat

Bisnis

Melemah 98 Poin, Rupiah ke 9.358 per Dolar AS  

Bisnis

Penyatuan Zona Waktu Tingkatkan Transaksi Dagang  

Teknologi

Ini Antivirus Gratisan dari Kaspersky

Nasional

TrioMacan Klaim Cuitnya Info Intelijen  

Olahraga

Tiba di Jakarta, Ini Komentar Zanetti

Bisnis

Gas Tangguh Akan Masuk ke Pasar Domestik  

Bisnis

Semen Gresik Harus Fokus di Dalam Negeri  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif