• Home
  • 09 Oktober 1993
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
    • Bisnis Sepekan
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Perilaku
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
  • Prelude
    • Surat Dari Redaksi
    • Kolom Pembaca
    • Ralat
    • Album
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Selingan
    • Indonesiana
  • Seni
    • Musik
    • Seni Rupa
    • Tari
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 09 Oktober 1993

    Ketika dora emon menelan ramayana

    INI sudah pemandangan sehari-hari di toko buku di kota besar. Anak sekolah, mahasiswa, bahkan terkadang orang tua, merubung tumpukan komik yang biasanya menempati kapling khusus. Tapi sasaran mereka bukan Si Pitung, atau Si Buta dari Gua Hantu, atau komik lokal lainnya, melainkan komik terjemahan dari Jepang atau Hong Kong. Maka, komik seperti Candy-Candy, Kung Fu Boy, Dora Emon, dan Marichan kini merajai hampir di semua toko buku. Malah belakangan Dora Emon dan kawan-kawan sudah merebak dengan cepat ke kios kaki lima. Bukan itu saja. Sekarang komik terjemahan itu ditawarkan berkeliling ke sekolah-sekolah. Para penerbit pun panen. Elex Media Komputindo, anak perusahaan Gramedia, dalam tiga tahun ini sudah mengeluarkan 120 judul, dalam 30 seri komik terjemahan. Di antaranya Candy-Candy dan Kung Fu Boy. Rata-rata per judul terjual 15.000 eksemplar. ''Pasarnya cenderung meningkat,'' kata Retno, editor komik perusahaan itu. Untuk ukuran pasaran buku di Indonesia, jumlah itu termasuk lumayan. Bayangkan, Candy-Candy dan Kung Fu Boy sampai dicetak-ulang tiga kali. Penerbit lain, Rajawali Grafiti, yang menerjemahkan komik asal Hong Kong dan Thailand, dalam dua tahun ini mengeluarkan 30 seri dengan 100 judul lebih. Tiap edisi masa edarnya paling lama dua minggu bisa terjual hingga 15.000 eksemplar. Sementara itu, komik lokal tetap lesu. Banyak komikus yang berubah profesi menjadi pedagang, sopir taksi, dan sebagainya. Harja Suraminata alias Hasmi, 45 tahun, komikus Yogyakarta yang masih bertahan, melihat komik Indonesia memang kalah bersaing meski dijual dengan harga sepertiga komik asing. ''Kualitas visual komik asing lebih baik,'' kata jebolan ASRI yang kini menggambar serial komik di koran Bernas Yogyakarta itu. Sebenarnya, menurut Kepala Toko Buku Gramedia Bandung, M. Boedi Yogipranata, cerita komik lokal lebih hidup, sedangkan komik Jepang monoton. Meski komik asing dibuat berseri dengan macam-macam judul, menurut Boedi, sebetulnya inti ceritanya mirip-mirip belaka. Namun, menurut Hasmi, cerita komik Jepang itu digarap dengan lebih cerdas. Ia membandingkan komik impor Chinmi Si Tangan Baja dengan yang lokal, Si Buta dari Gua Hantu. Penulis Chinmi, menurut Hasmi, kelihatan tahu betul soal kungfu. Itu divisualisasikan dengan menarik, sesuai dengan gerakan silat yang sebenarnya. ''Komik Si Buta kan lebih menekankan drama petualangan. Kalau ada adegan perkelahian, digambar semaunya saja,'' kata komikus yang terkenal dengan seri Gundala Putra Petir tahun 1970-an ini. Ternyata, alur cerita komik impor yang lugas disukai pembaca. Seperti dikatakan Tatang Sonjaya, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Medan, penggemar komik itu, cerita Dora Emon dan sejenisnya ringan, santai, ada humornya, dan ceritanya tak berbelit. Selain itu, ada yang lebih penting tampaknya, banyak di antara serial itu semacam Dora Emon sudah lebih dulu ditayangkan televisi swasta atau TVRI. Itu tentu saja reklame gratis yang amat efektif. ''Begitu Candy-Candy diputar di TV, pasar komik ini melonjak,'' kata Faisal Hadi, Kepala Toko Buku Gunung Agung Plaza Surabaya. Pertimbangan bisnis mempersubur tumbuhnya komik asing itu. Menurut Teguh Santosa, penggambar komik di Suara Merdeka, Suara Pembaruan, dan Republika, untuk menerbitkan komik terjemahan, penerbit cukup membayar royalti. Dengan modal Rp 1 juta saja, sudah bisa diterbitkan empat judul. Padahal, untuk komik lokal, selain harus pusing berurusan dengan hak cipta, jumlah yang Rp 1 juta itu hanya bisa untuk menerbitkan satu judul. Sudah biayanya lebih mahal, menurut seorang penerbit, penerbitan komik lokal seret pula. Itu karena teknis penampilan gambarnya payah dan ide ceritanya lemah. ''Sering tak sesuai dengan dunia anak-anak,'' kata sumber itu. Teguh mengakui, kebanyakan penerbit memandang komik Indonesia di bawah standar. ''Maklum, kerja kami kan home industry,'' katanya. Lain dengan di Jepang atau Hong Kong, di sana komik merupakan produk pabrik. Sehingga, satu judul komik cukup dikerjakan 5 sampai 6 orang: pengarah, tukang sketsa, tukang tinta, tukang warna, dan penulis teks. Kalau sudah begitu, para penggambar komik lokal cuma bisa mengenang masa jaya komik Indonesia periode 19681975. Waktu itu, menurut Teguh, komik hitam putih yang diproduksi penerbit di Pasar Baru, Jakarta, seperti Pancar Kumala dan San Agency, benar-benar merajai pasaran. Banyak produksi komik mereka yang dicetak ulang karena sukses di pasar. Mereka yang semula membuka kios komik di emperan, dengan modal minim, berkembang menjadi penerbit. Tapi, sejak 1975, pasaran komik anjlok. ''Mungkin karena kalah bersaing dengan novel dan acara TV yang makin digemari,'' kata Teguh, yang kini menggarap komik untuk sebuah penerbit di Kanada. Pada 1985, Penerbit Misurin memprakarsai pembuatan komik berwarna dengan cerita tradisional. Teguh Santosa membuat komik Mahabarata, Jan Mintaraga membikin Ramayana, Hasmi menggarap Joko Tingkir, dan yang lainnya. Toh ongkos produksi tak terkejar juga karena penerbit sulit menaikkan oplah. Akhirnya, muncul Dora Emon dan kawan-kawan. Ardian Taufik Gesuri, Nunik Iswardhani, Ida Farida, Kelik M. Nugroho

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Surat Dari Redaksi

Surat dari redaksi

Kolom Pembaca

Korban tabrak lari

Denda Tilang Tertinggi

Kaca Spion Dan UULLAJ

Indonesiana

Izin membangun bingung

Interkom maut

Kredit sim

Buku

Ketika dora emon menelan ramayana

Dewi dan pampasan perang

Agenda Pertunjukan

Lysistrata di samarinda

Seni Rupa

Menyerap kehidupan dengan mata batin

''yang dituju itu damai''

Ralat

Maukah

Album

Kenaikan pangkat

Guru besar

Catatan Pinggir

Di sampang

Agama

Wajah quran khas indonesia

Tari

Merentang batas pandang

DUS

Etalase jenazah di amerika

Remaja gawat di inggris

Cewek penggantung telepon di jepang

TEMPO|interaktif

Nasional

Aksi Kekerasan Jadi Pertimbangan FPI Dibekukan

Calon Independen Tak Cederai Demokrasi

Teknologi

Bagaimana Jika Kutub Bumi Berbalik?

Teknologi

Savana Afrika Ternyata Ciptaan Manusia

Brownies Blondies Koedelos di Hari Valentine

Internasional

Warga Irak Sambut Hari Kasih Sayang

Internasional

Azerbaijan Dituding Ikut Bunuh Ahli Nuklir Iran

Inforial

Servis Mobilnya Raih Hadiahnya

AUTO2000

Internasional

Liga Arab Usulkan Misi Perdamaian ke Suriah

Internasional

ASEAN Anggap India Lebih Terbuka dari Cina

Bisnis

Pemerintah Resmi Keluarkan Perpres Harga Baru BBM

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif