• Home
  • 09 Oktober 1993
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
    • Bisnis Sepekan
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Perilaku
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
  • Prelude
    • Surat Dari Redaksi
    • Kolom Pembaca
    • Ralat
    • Album
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Selingan
    • Indonesiana
  • Seni
    • Musik
    • Seni Rupa
    • Tari
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 09 Oktober 1993

    Di sampang

    DI Sampang orang mati kena peluru. Di mana lagi orang mati kena peluru, dalam satu jumlah sekaligus? Tanjungpriok. Lampung. Aceh. Dili .... Apa gerangan yang terjadi dalam hubungan antara negara dan nyawa orang di sini? Sebuah jawab: peristiwa-peristiwa itu tak bisa dimasukkan dalam kategori yang sama. Yang terjadi di Sampang, yang terjadi di Dili, sama sekali tak ada hubungannya dengan negara: keduanya tak diarahkan dari atas, sebagai suatu beleid. Yang terjadi mungkin hanya satu pasukan pemerintah yang terpisah, gugup, atau marah, atau tak terkendali, ketika menghadapi segerombolan orang yang mereka sangka mengancam atau memprovokasi atau merusak. Saya kira itu benar. Saya ingin tidur nyenyak. Tapi di luar kamar, sesuatu telah membuat banyak orang tak boleh tidur, tak bisa pulas. Insiden Dili atau Sampang memang kejadian yang terpisah, tanpa satu desain, tapi tampaknya ada sebuah pola yang mungkin terbentuk tanpa disadari: sejenis proses brutalisasi telah terjadi dalam kehidupan kita. Proses itu berkecamuk diam-diam, menyebar, entah sejak kapan, mungkin sejak 35 tahun terakhir, mungkin sejak 1965. Yang kita ketahui ialah bahwa bahasa kita telah berisi sejumlah kosa kata yang agresif, penuh kebencian dan sebaliknya kita sendiri telah dibentuk oleh bahasa yang seperti itu, kurang-lebih. Kita berbicara dengan dikotomi ''kawan'' dan ''lawan'', ''progresif'' dan ''kontrarevolusioner'', ''Pancasialis'' dan ''antipancasilais'', ''Timur'' dan ''Barat''. Atau kita melontarkan kata ''ekstrem kanan'' dan ''ekstrem kiri'' ''oknum'', ''penghasut'', ''subversif'', ''kafir'', ''PKI'', ''fundamentalis'', ''Cina'', ''Yahudi'', ''banci'', dan lain-lain. Kita berbicara tentang ''ganyang'', ''kremus'', atau ''gebuk'' dan ''libas'': kita seakan-akan selalu perlu merumuskan kehidupan sosial dan politik dengan antagonisme, kecurigaan, dan akhirnya kekerasan. Kita tak bertanya lagi, apa memang harus demikian. Di Sampang orang mati tertembak. Kita tak tahu (karena mereka sudah tak bisa membela diri lagi) bersalahkah mereka atau tidak. Artinya, yang tewas telah diberi kata akhir, ketika kita tak sepenuhnya insyaf bahwa kata akhir yang brutal itu bermula pada brutalisasi dalam diri kita, dalam kesadaran kita, dalam cara kita merumuskan kenyataan. Ketika seorang pejabat menyebutkan kata ''penghasut'' dan ''subversif'' (atau ketika seorang agitator mengatakan ''kafir'' dan ''lintah darah''), ia mungkin mengira ia menyatakan sesuatu yang sudah jelas. Atau ia menyembunyikan ketidakpastian makna, dengan berpedoman pada asumsi bahwa kata-kata bukan diciptakannya sendiri kemarin petang, melainkan sesuatu yang ia pungut dari sebuah khazanah, dan ia bisa menyatakan bahwa khazanah itu dengan sendirinya punya otoritas. Dengan demikian pernyataannya sah, dan bila ia bertindak berdasarkan sahnya pernyataan itu, ia pun mengira ia telah bertindak yang benar meskipun korban jatuh mati. Maka, di Sampang empat orang tertembak, tapi kita belum mendengar seorang pejabat di Sampang pun yang berkata, ''Jangan-jangan saya yang salah ....'' Yang kita dengar ialah bahwa ada pejabat yang justru ingin mengusut orang-orang yang jadi sasaran tembakan. Yang kita dengar ialah bahwa ada seorang pejabat yang tak setuju bila dibentuk tim khusus untuk menyelidiki peristiwa itu baginya aparat yang dibawahkannya masih bisa meneliti dan melapor. Mungkin ia benar, dan saya harap ia benar. Tetapi sekiranyapun begitu, dalam ucapannya jelas ada sikap untuk tidak bisa diragukan. Kontrol ada di tangannya, tapi sadarkah ia bahwa kebenaran yang diungkapkannya bisa terasa represif? Ada tokoh Humpty Dumpty dalam Alice Through Looking Glass: ''Jika aku gunakan sebuah kata, kata itu berarti apa yang aku maksudkan, tak kurang, tak lebih ...''. Ia tak tahu, sebuah kata tak bisa selamanya ia kontrol sendiri sepenuhnya. Justru karena si kata berasal dari satu khazanah yang tak jelas lagi sumbernya, orang lain (dengan acuan yang berbeda, dengan maksud dan purbasangka yang berbeda pula) pun pada hakikatnya merupakan peserta yang menyumbang dalam pengendalian arti kata itu dan sebab itu ada sesuatu yang kena pancung bila mereka tak didengar. Brutalisasi kehidupan sosial politik kita tampaknya bukan hanya disebabkan oleh lahirnya kata-kata yang keras, macho, agresif, melainkan juga karena kekuatan yang memonopoli alat-alat kekerasan (tak hanya senjata, tapi juga massa), yang punya prasarana kontrol, merasa juga mampu memegang monopoli atas pengendalian arti kata. Di Sampang orang mati tertembak, dan membisu. Malam ini tak ada seorang pun yang bisa tidur nyenyak, banyak yang tak bisa dianggap bisu. Goenawan Mohamad

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Surat Dari Redaksi

Surat dari redaksi

Kolom Pembaca

Korban tabrak lari

Denda Tilang Tertinggi

Kaca Spion Dan UULLAJ

Indonesiana

Izin membangun bingung

Interkom maut

Kredit sim

Buku

Ketika dora emon menelan ramayana

Dewi dan pampasan perang

Agenda Pertunjukan

Lysistrata di samarinda

Seni Rupa

Menyerap kehidupan dengan mata batin

''yang dituju itu damai''

Ralat

Maukah

Album

Kenaikan pangkat

Guru besar

Catatan Pinggir

Di sampang

Agama

Wajah quran khas indonesia

Tari

Merentang batas pandang

DUS

Etalase jenazah di amerika

Remaja gawat di inggris

Cewek penggantung telepon di jepang

TEMPO|interaktif

9 Kesalahan Menulis Surat Lamaran

4 Cara Sehat Agar Pengeluaran Pasangan Terpisah

Nasional

Polisi Berhenti Cari Amunisi Teroris di Kampus UI

Olahraga

Mancini Tegaskan City Pantas di Puncak

Nasional

Cici Tegal Ingin Kasusnya Cepat Tuntas

Nasional

Taufiq Kiemas Minta FPI Hormati Kearifan Lokal Dayak

Nasional

Tak Mau Kecolongan, Sejumlah Penjara Ditambah CCTV

Olahraga

CAF Sumbang US$150.000 untuk Korban Tragedi Mesir

Nasional

Umar Patek Tak Dijerat Undang-Undang Terorisme

Nasional

Setara: FPI Ditolak Bukti Masyarakat Kecewa

Olahraga

Valencia Petik Kemenangan Pertama di 2012

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif