• Home
  • 09 Oktober 1993
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
    • Bisnis Sepekan
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Perilaku
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
  • Prelude
    • Surat Dari Redaksi
    • Kolom Pembaca
    • Ralat
    • Album
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Selingan
    • Indonesiana
  • Seni
    • Musik
    • Seni Rupa
    • Tari
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 09 Oktober 1993

    Panen raya saham barito

    INVESTOR di pasar modal, Jumat lalu, ketawa lebar. Mereka tak bisa menyembunyikan kegembiraan karena investasinya dalam tempo sebulan sudah menghasilkan laba 52%. Rezeki nomplok tersebut dipanen dari saham PT Barito Pacific Timber (BPT), yang kini diperdagangkan di pasar bebas. Penampilan saham BPT memang sangat prima. Ketika dijual di pasar perdana, Agustus lalu, harganya dipatok Rp 7.200. Ketika mulai diperdagangkan secara bebas, harganya melejit ke Rp 9.500, dan dalam dua jam melesat naik hingga Rp 11.000. Saat lonceng bursa berdering Jumat lalu, para pialang langsung berkerumun di papan BPT untuk melakukan pesanan pembelian. Tapi pemegang saham BPT tak siap melepas, sehingga harga terus meruncing hingga mencapai Rp 11.000. Apa yang menyebabkan saham perusahaan konglomerat Prajogo Pangestu tadi berkibar tinggi? Jawabnya, para cukong dari luar negeri diharapkan akan memborong saham ini. Soalnya, jumlah saham Barito (700 juta lembar) kini paling besar di bursa, yang tentu saja sangat likuid dan akan menentukan irama bursa. Dengan demikian, setiap manajer dana harus memilikinya. Lagi pula, sejak 1 Oktober Barito telah mencatatkan semua sahamnya. Otomatis, investor asing bisa menguasai 49% atau 343 juta lembar. Sedangkan saham yang telah dilepas ke masyarakat baru berjumlah 85 juta lembar. Itu berarti, semua saham publik tersebut bisa dibeli asing. Satu hal lagi yang membuat investor asing berniat membeli saham Barito, ''Karena mereka melihat ada aset perusahaan yang tidak dihitung,'' kata Prajogo Pangestu. Yang dimaksudkannya adalah hak pengusahaan hutan (HPH) serta areal pabrik-pabrik kayu lapis. Kendati aset tersebut milik negara, yang jelas kekayaan ini dititipkan ke Barito. Kalau nilai HPH itu dihitung, kata Prajogo, aset BPT tak kurang dari Rp 40 triliun. Padahal kini, aset Barito cuma dinilai Rp 2 triliun. Berapa harga saham Barito yang wajar, pasarlah yang menentukan. Untuk ukuran Indonesia, itu semua akan tergantung investor asing. Selagi permintaan asing masih ada, otomatis harga akan naik. Tapi begitu jatah untuk asing terbentur plafon, otomatis harga akan tetap, atau bahkan melorot. Buktinya sudah terlihat pada saham PT Astra International. Saham Astra (242 juta lembar) kini semuanya tercatat di bursa. Dua pekan lalu harganya sempat berkibar pada Rp 17.000, tapi pekan lalu hanya mencapai Rp 15.300 per lembar. Penyebabnya tak lain karena jatah investor asing memang sudah habis. Kamis dua pekan lalu, transaksi saham Astra bahkan hampir menimbulkan drama. Ketika pasar saham dibuka 23 September silam, pihak asing masih boleh membeli sekitar 22,9 juta lembar. Beberapa pialang bagaikan berpacu membeli secara besar-besaran. Pada putaran pertama, di BEJ terjadi transaksi 4.3 juta lembar, sedangkan di BES juga ada 10 juta lembar yang jatuh ke tangan asing. Praktis jatah asing tinggal 8,6 juta. Pada sesi kedua, pialang PT Kapita Sekurindo membeli 5,1 juta lembar saham Astra untuk klien asingnya dari PT Indovest. Sedangkan di BES, PT Lippo Securitas melakukan transaksi untuk asing sebanyak 5,4 juta. BES, yang sudah melakukan sistem transaksi lewat komputer, otomatis langsung ketahuan data-data transkasi, termasuk waktunya. Transaksi oleh Lippo tadi tercatat pukul 13.50 dan 13.53. Sedangkan BEJ, yang masih menggunakan sistem tangan, tentu saja lebih lambat dan sulit mencari data akurasi. Syarif dari Kapita Sekurindo mengaku telah melakukan transaksi, tak lama setelah bursa dimulai lagi pukul 14.00. Sebelum transaksi, katanya, ia sempat mengecek dulu ke mandor pasar, apakah masih ada jatah asing. Jawaban dari pertugas BEJ: ''Masih ada''. Tapi transaksinya baru dicatat pukul 14.28. Jelas kalah cepat 45 menit dengan transaksi di BES. Jika bursa ingin konsekuen menerapkan ketentuan bahwa jatah asing hanya 49%, tentu saja salah satu dari transaksi di BEJ atau di BES harus dibatalkan. Tapi siapa yang harus dibatalkan? Keesokan harinya, pengurus BEJ dan BES menghadap Bapepam (Badan Pengawas Pasar Modal). Dalam pembicaraan antara Agus Muhammad (Kepala Biro Transaksi dan Pengawas Perusahaan Sekuritas dari Bapepam), Daniri dari BEJ, dan Basiruddin A. Sarida dari BES, akhirnya ditemukan jalan keluar. ''Semua transkasi yang sudah terjadi adalah sah,'' kata Agus. Akan tetapi pihak pembeli dan penjual diam-diam dianjurkan untuk tidak membaliknamakan pemilikan saham tersebut. Solusi itu barangkali lebih baik daripada membiarkan citra bursa efek Indonesia rusak di mata asing. Menurut Agus, selain saham Astra, ada 10 saham lagi yang mendekati garis batas. Jika ketentuan jatah asing diterapkan secara kaku, likuiditas saham-saham yang sudah mencapai plafon itu bisa beku. Max Wangkar, Bambang Sujatmoko (Jakarta), dan Biro Surabaya

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Surat Dari Redaksi

Surat dari redaksi

Kolom Pembaca

Korban tabrak lari

Denda Tilang Tertinggi

Kaca Spion Dan UULLAJ

Indonesiana

Izin membangun bingung

Interkom maut

Kredit sim

Buku

Ketika dora emon menelan ramayana

Dewi dan pampasan perang

Agenda Pertunjukan

Lysistrata di samarinda

Seni Rupa

Menyerap kehidupan dengan mata batin

''yang dituju itu damai''

Ralat

Maukah

Album

Kenaikan pangkat

Guru besar

Catatan Pinggir

Di sampang

Agama

Wajah quran khas indonesia

Tari

Merentang batas pandang

DUS

Etalase jenazah di amerika

Remaja gawat di inggris

Cewek penggantung telepon di jepang

TEMPO|interaktif

Banyuwangi Tuan Rumah Jatim Travel Mart 2012

Olahraga

Tim Thomas Indonesia Disingkirkan Jepang  

Tes Doping Piala Eropa Gunakan Taktik Militer  

Nasional

30-an Orang Tahu Identitas TrioMacan2000

Benzema: Tanpa Rooney, Inggris Tetap Hebat

Bisnis

Melemah 98 Poin, Rupiah ke 9.358 per Dolar AS  

Bisnis

Penyatuan Zona Waktu Tingkatkan Transaksi Dagang  

Teknologi

Ini Antivirus Gratisan dari Kaspersky

Nasional

TrioMacan Klaim Cuitnya Info Intelijen  

Olahraga

Tiba di Jakarta, Ini Komentar Zanetti

Bisnis

Gas Tangguh Akan Masuk ke Pasar Domestik  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif