• Home
  • 09 Oktober 1993
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
    • Bisnis Sepekan
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Perilaku
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
  • Prelude
    • Surat Dari Redaksi
    • Kolom Pembaca
    • Ralat
    • Album
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Selingan
    • Indonesiana
  • Seni
    • Musik
    • Seni Rupa
    • Tari
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 09 Oktober 1993

    Film pendek, atau apa pun namanya

    UPACARA itu berwarna hitam-putih. Pemain-pemainnya terdiri dari manusia dan lumpur. Inilah, kalau Anda pernah menontonnya, karya tari kontroversial Sardono W. Kusumo, Metaekologi, di Teater Halaman Taman Ismail Marzuki, 14 tahun silam. Dulu, lama pertunjukan menari bersama dan di dalam lumpur itu berlangsung sekitar delapan jam. Oleh sineas Gotot Prakosa direkam dan dimampatkan menjadi hanya 13 menit, dalam bentuk sebuah film dokumenter. Film itulah, bersama delapan film pendek Gotot yang lain, diputar di Theaterrete Kedutaan Besar Australia, Jakarta, akhir pekan lalu. Tentu saja karya Gotot kemudian berdiri sendiri, bukan replika dari karya tari Sardono. Ketika orang menonton Metaekologi Sardono, pandangan mata mencapai seluas pertunjukan itu. Dalam film Gotot, yang memfokuskan warna kelam lumpur dan sosok para aktor yang mandi di kubangan lumpur, penonton tak bisa memilih, selain yang direkam oleh kamera Gotot. Kecuali itu, film Gotot adalah gabungan Metaekologi yang di Teater Halaman TIM dan ketika para pemain latihan di sebuah sawah di luar Jakarta. Dengan kata lain, kita menonton karya itu dengan mata kamera Gotot. Dan mata kamera Gotot, antara lain, membawa kita melihat wajah salah satu aktor yang berhasil mencapai ''daratan'' dari dekat. Atau kita disuruh melihat hanya kaki-kaki penuh lumpur yang mencoba memanjat batang-batang kayu. Atau suasana latihan di sawah di malam hari: obor-obor kelihatan seperti kunang-kunang yang berkeliaran di sawah, karena kamera merekam dari kejauhan. Jenis film seperti ini sejauh ini mustahil ditemukan di gedung bioskop di Indonesia. Namun, bukan hanya Gotot yang rela ''membuang'' uang untuk sebuah film yang sulit diputar untuk umum ini. Gotot sendiri menyebut karyanya sebagai film eksperimental, lebih ''mengutarakan ekspresi daripada cerita dan bentuk.'' Objeknya bisa peristiwa kesenian, peristiwa sehari-hari, atau gambar-gambar kartun. Misalnya, A=Absolute..? Z=Zen..?, film Gotot terbaik malam itu. Film sepanjang 14 menit ini bercerita tentang pertumbuhan Jepang yang melesat. Adegan-adegan awal menyuguhkan beberapa gambar Jepang kuno. Lalu muncul sosok Bodhisatwa yang agung. Lantas coretan-coretan kartun karya Gotot yang menggambarkan wajah-wajah Jepang yang beragam, bengis, pemalu, keras. Wajah-wajah itulah yang belakangan menghasilkan barang-barang elektronik yang dilahap habis-habis an di seluruh dunia. Sebagai akhir cerita, Gotot menampilkan Sang Budha yang tertidur lelap. Sutradara Garin Nugroho menyebut film jenis ini sebagai film pendek. ''Dari segi bentuk, paling mudah menyebutnya sebagai film pendek,'' kata dosen Pengantar Analisa Film di Institut Kesenian Jakarta ini. ''Film-film itu berukuran 16 mm, sedangkan film di bioskop berukuran 35 mm. Juga film Gotot bermasa putar pendek.'' Tentu saja, jenis film pendek tak cuma yang berekspresi, bisa juga bercerita. Umpamanya Sonata Kampung Bata karya Riri Riza. Film yang akan diputar Selasa dan Rabu pekan ini di Institut Kesenian Jakarta ini adalah sebuah film dengan masa putar 13 menit. Ceritanya sederhana, seorang anak bernama Bun tumbuh di perkampungan pekerja batu bata. Ia anak yang akrab dengan sepi dan panasnya api yang membakar batu-batu bata buatan ayahnya. Dalam kesepian itu ia menonton teman-temannya yang asyik bermain komidi putar, sementara itu jari-jari Bun sibuk membuat boneka dari sisa-sisa bata. Di penutup cerita terlihat Bun ikut mendorong komidi putar itu bersama salah seorang teman wanitanya. Sebuah penutup yang optimistis. Film ini dibuat tanpa dialog dan tanpa bintang film. ''Saya merekam dan mendokumentasikan realita yang ada di kampung bata di Bekasi. Aktor-aktornya penduduk kampung setempat karena saya ingin mengulang sebuah realita meski jalan ceritanya rekaan,'' tutur Riri, yang tahun silam baru saja lulus dari Fakultas Film dan Televisi Insitut Kesenian Jakarta. Sebenarnya, dalam Festival Film Indonesia dinilai juga film pendek noncerita. Tapi film itu pun tak diputar untuk masyarakat luas. Padahal, film pendek macam ini, selain merupakan karya film utuh, bisa juga dianggap sebagai laboratorium. Pencarian artistik, trik-trik kamera bisa dijadikan masukan bagi pembuatan film 35 mm. Di beberapa negara, film pendek diputar untuk masyarakat luas, antara lain lewat televisi. Film-film Gotot, misalnya, sudah diputar di Televisi SBS Australia, dan mendapat sambutan hangat. Jangan-jangan, perkembangan film kita yang seret, salah satunya karena dunia film kita mengabaikan film pendek. Leila S. Chudori

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Surat Dari Redaksi

Surat dari redaksi

Kolom Pembaca

Korban tabrak lari

Denda Tilang Tertinggi

Kaca Spion Dan UULLAJ

Indonesiana

Izin membangun bingung

Interkom maut

Kredit sim

Buku

Ketika dora emon menelan ramayana

Dewi dan pampasan perang

Agenda Pertunjukan

Lysistrata di samarinda

Seni Rupa

Menyerap kehidupan dengan mata batin

''yang dituju itu damai''

Ralat

Maukah

Album

Kenaikan pangkat

Guru besar

Catatan Pinggir

Di sampang

Agama

Wajah quran khas indonesia

Tari

Merentang batas pandang

DUS

Etalase jenazah di amerika

Remaja gawat di inggris

Cewek penggantung telepon di jepang

TEMPO|interaktif

Banyuwangi Tuan Rumah Jatim Travel Mart 2012

Olahraga

Tim Thomas Indonesia Disingkirkan Jepang  

Tes Doping Piala Eropa Gunakan Taktik Militer  

Nasional

30-an Orang Tahu Identitas TrioMacan2000

Benzema: Tanpa Rooney, Inggris Tetap Hebat

Bisnis

Melemah 98 Poin, Rupiah ke 9.358 per Dolar AS  

Bisnis

Penyatuan Zona Waktu Tingkatkan Transaksi Dagang  

Teknologi

Ini Antivirus Gratisan dari Kaspersky

Nasional

TrioMacan Klaim Cuitnya Info Intelijen  

Olahraga

Tiba di Jakarta, Ini Komentar Zanetti

Bisnis

Gas Tangguh Akan Masuk ke Pasar Domestik  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif