• Home
  • 09 Oktober 1993
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
    • Bisnis Sepekan
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Perilaku
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
  • Prelude
    • Surat Dari Redaksi
    • Kolom Pembaca
    • Ralat
    • Album
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Selingan
    • Indonesiana
  • Seni
    • Musik
    • Seni Rupa
    • Tari
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 09 Oktober 1993

    Karena burung tanpa kepala

    TAK ada yang melebihi kegalauan seorang lelaki, kaya ataupun miskin, bila ''keperkasaan''-nya terancam punah. Kegelisahan itulah yang melanda dua pemuda Majalaya, Jawa Barat, Eddy Cahyanto dan saudara sepupunya, Dede Komarudin. Pasalnya, alat vital mereka hanya sepertiga ukuran normal dan, kata mereka, ''burung'' mereka itu tak lagi berkepala. Akibatnya, belakangan ini Eddy, 22 tahun, sering murung dan mengurung diri di kamar. ''Saya jadi minder, terus-terusan ingat itu,'' tuturnya. Karena tak tahan menanggung malu, dua pekan lalu, Eddy mengadukan soal itu ke LBH Yayasan Al-Muslim di Bandung. Pengaduan itu juga karena adanya pengingkaran mengenai kesepakatan. Musibah yang tak bisa dilupakan seumur hidup oleh kedua remaja itu, menurut mereka, gara-gara ulah seorang mantri bernama Jumara. Alkisah, 17 tahun lalu, Eddy dan Dede setahun lebih tua dari Eddy disunat oleh Jumara, yang memang kondang di daerah itu. Setelah itu, menurut ibu Eddy, Nyonya Amah, perkembangan alat vital Eddy agak aneh. Selain amat pendek, alat vital bujangan bertubuh kurus itu tidak berkepala. Usut punya usut, kata Nyonya Amah, rupanya kepala ''burung'' Eddy ikut dibabat sewaktu Jumara mengkhitankannya. Nyonya Amah sempat membawa Eddy ke dokter untuk memperbaiki ''milik'' sang anak. Tapi, menurut dokter ketika itu, nanti kalau Eddy sudah besar saja barang itu direhab. Di masa kanak-kanak, Eddy tak peduli dengan ''burung''-nya yang pendek dan kecil. Toh, tak ada keluhan apa-apa. Namun, ceritanya jadi lain ketika ia menginjak remaja. Eddy baru menyadari ''burung''-nya itu betul-betul penting setelah ia lulus SMA, tahun lalu. Maklumlah, ketika itu Eddy sedang puber dan sudah punya ''gacoan''. Rupanya, sejak itulah Eddy pusing memikirkan kondisi alat vitalnya. ''Memang masih bisa ereksi. Tapi pendek sekali dan tak ada kepalanya. Saya kan jadi malu,'' ucapnya. Keluarga Eddy mencoba mengurus kembali soal itu ke Jumara, yang kini berusia 74 tahun dan sudah lama pensiun. Setelah mereka berembuk dengan lima anak Jumara, akhirnya disepakati bahwa Eddy akan dioperasi. Biayanya ditanggung bersama oleh enam orang: lima anak Jumara tadi dan satu dari pihak Eddy. Sejak Januari silam, Eddy berobat ke ahli bedah plastik, Dokter Wagiono Suparan, di Bandung. Sampai bulan lalu, Eddy sudah tiga kali berobat dengan biaya sekitar Rp 3 juta. ''Saya sampai pinjam kanan-kiri,'' ujar ayah Eddy, Iin, pedagang yang sekarang menganggur. Rencananya, pada pengobatan keempat akhir bulan ini, Dokter Wagiono akan mencangkokkan daging dari perut Eddy ke ''burung''-nya itu. Dan pada tahap terakhir, ''burung'' itu akan dipasangi silikon. Setelah itu, diharapkan milik Eddy bakal normal kembali. Yang kemudian menjadi persoalan, pihak Jumara tak kunjung mengganti biaya pengobatan ketiga, sebesar Rp 850 ribu. Buntutnya, kekesalan keluarga Eddy terhadap Jumara kembali meletup. Dan urusannya pun merembet ke masalah hukum. Keluarga Eddy menguasakan LBH Yayasan Al-Muslim untuk menggugat Jumara. Dede, sepupu Eddy itu, konon masih menunggu perkembangan. Jika Eddy berhasil, Dede pun akan mengikuti jejaknya. Bagi Djoko Sumaryono dari LBH Yayasan Al-Muslim, perbuatan Jumara terhitung malapraktek. Akibat kelalaian mantri itu, Eddy jadi cacat seumur hidup. ''Tuntutan perdata ini tak kedaluwarsa. Sebab, penderitaan Eddy melekat terus, bahkan sampai saat ini,'' kata Djoko. Jumara menampik tudingan itu. ''Tak mungkin kepalanya kepotong. Bisa mati, dong,'' ucapnya. Salah seorang anaknya, Nurkomar, mengaku sudah memberikan uang Rp 850 ribu itu melalui perantara kedua pihak, Deden. ''Sebenarnya masalah ini bisa dimusyawarahkan lagi, tanpa harus diperkarakan,'' ujarnya menambahkan. Sementara itu, Dokter Wagiono memastikan bahwa alat vital Eddy dan Dede memang tak berkepala. Masing-masing dengan panjang yang sama, sekitar tiga sentimeter. ''Jelas, itu berakibat fatal. Sebab, fungsi keturunannya jadi tak berjalan semestinya,'' kata Wagiono. Ukuran yang pendek dan tanpa kepala itu praktis akan mempengaruhi teknik penetrasi sperma, plus kenikmatan sewaktu bersanggama. Wagiono mengaku baru kali ini melakukan operasi plastik semacam itu (menyangkut alat vital). Happy S. dan Ida Farida (Bandung)

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Surat Dari Redaksi

Surat dari redaksi

Kolom Pembaca

Korban tabrak lari

Denda Tilang Tertinggi

Kaca Spion Dan UULLAJ

Indonesiana

Izin membangun bingung

Interkom maut

Kredit sim

Buku

Ketika dora emon menelan ramayana

Dewi dan pampasan perang

Agenda Pertunjukan

Lysistrata di samarinda

Seni Rupa

Menyerap kehidupan dengan mata batin

''yang dituju itu damai''

Ralat

Maukah

Album

Kenaikan pangkat

Guru besar

Catatan Pinggir

Di sampang

Agama

Wajah quran khas indonesia

Tari

Merentang batas pandang

DUS

Etalase jenazah di amerika

Remaja gawat di inggris

Cewek penggantung telepon di jepang

TEMPO|interaktif

Banyuwangi Tuan Rumah Jatim Travel Mart 2012

Olahraga

Tim Thomas Indonesia Disingkirkan Jepang  

Tes Doping Piala Eropa Gunakan Taktik Militer  

Nasional

30-an Orang Tahu Identitas TrioMacan2000

Benzema: Tanpa Rooney, Inggris Tetap Hebat

Bisnis

Melemah 98 Poin, Rupiah ke 9.358 per Dolar AS  

Bisnis

Penyatuan Zona Waktu Tingkatkan Transaksi Dagang  

Teknologi

Ini Antivirus Gratisan dari Kaspersky

Nasional

TrioMacan Klaim Cuitnya Info Intelijen  

Olahraga

Tiba di Jakarta, Ini Komentar Zanetti

Bisnis

Gas Tangguh Akan Masuk ke Pasar Domestik  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif