• Home
  • 09 Oktober 1993
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
    • Bisnis Sepekan
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Perilaku
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
  • Prelude
    • Surat Dari Redaksi
    • Kolom Pembaca
    • Ralat
    • Album
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Selingan
    • Indonesiana
  • Seni
    • Musik
    • Seni Rupa
    • Tari
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 09 Oktober 1993

    Mata elang bermagnet

    BAGI Masaru Inui, 65 tahun, burung pipit dan jalak putih sama-sama membuat pening kepala. Kawanan burung ini, dengan kekuatan sampai 150 ekor, sering menyerang kebun anggur petani dari Kashiwara itu. ''Kalau dibiarkan, mereka bisa membuat ludes seisi kebun,'' tuturnya. Pelbagai cara telah dilakukan Inui, yang berasal dari Provinsi Osaka yang tersohor dengan hasil anggurnya itu, untuk menghalau kawanan burung tersebut. Dari membuat orang-orangan, memasang tali dengan kain hitam yang melambai-lambai ditiup angin, sampai menderukan suara motor listrik di kebun. Tapi burung-burung itu tetap saja membandel. Bila musim buah tiba, mereka datang lagi dan menyerang kebun anggur para petani Kashiwara. Apa boleh buat, untuk mengusir burung-burung itu, Inui terpaksa seharian menjaga kebun. Bila kawanan unggas tersebut hendak mendarat, ia menghalaunya dengan mengacung-acungkan tangannya dan berteriak-teriak sembari memukul-mukul kaleng bekas. Lalu, burung-burung pun beterbangan ketakutan. Tapi Inui ngos-ngosan dibuatnya kendati kebun anggurnya hanya seluas 1.500 meter persegi. Kini, Inui punya penangkis serangan burung yang cukup ampuh. Untuk menghalau kawanan burung itu, ia memasang kincir angin, buatan pabrik Osaka Winton Co. Ltd., seharga 1.200 yen (sekitar Rp 240 ribu) per unit. Bilah baling-baling di kincir itu dicat warna-warni sehingga kalau berputar ditiup angin bentuknya mirip mata elang. ''Tidak sempurna, memang, tapi kincir ini cukup menolong,'' tutur Inui. Di setiap ujung bilah baling-baling itu rupanya dipasang logam bermagnet, yang masing-masing berkekuatan 1.300 Gauss, jauh melampaui medan magnet alam, yang cuma 0,5 Gauss. Burung pada umumnya terusik oleh medan magnet imitasi itu. ''Mereka amat sensitif terhadap medan magnet,'' ujar Hiroaki Sugimoto, pemimpin pabrik Osaka Winton. Kincir bermagnet itu mulai dipasarkan Agustus lalu. Sugimoto mendapat ide membawa logam bermagnet itu ke kebun setelah mempelajari teori klasik Prof. C. Walcott dari Massachusetts Institute of Technology (MIT). Walcottlah yang meneliti bahwa keluarga burung, terutama merpati, punya kepekaan terhadap medan magnet. Burung-burung itu bisa mengenali medan magnet bumi lewat jaringan magnetit yang ada di kepala mereka. Magnetit itu berfungsi bak kompas, bisa dipakai untuk mengenali mata angin. Dengan berpegang pada kompas magnetit, keluarga burung berani terbang jauh, dan pulang ke sarang dengan selamat, tapi akan kelabakan bila medan magnet itu dikacaukan, misalnya, dengan pemasangan kincir bermagnet. ''Mereka kehilangan orientasi,'' tutur Sugimoto. Burung-burung kembali stabil bila keluar dari medan magnet buatan itu. Maka, kata Sugimoto, medan magnet dari kincir angin tak akan membuat burung cedera atau jatuh ke tanah. ''Mereka cuma merasa tak aman, dan tak berani mendekat,'' ujarnya. Justru karena kincir ini tak mengancam keselamatan burung, Sugimoto pun lepas dari protes kaum pencinta burung. Merpati, jalak putih, gagak, camar, dan bahkan lebah takut setengah mati pada kincir buatan Sugimoto. Namun, burung pipit berani bermain di dekatnya. Mengapa? ''Mungkin karena pipit burung bodoh,'' tutur Sugimoto. Celakanya, justru burung pipit populasinya terbesar di antara unggas hama di Jepang. Lantas bagaimana? Inui tak kekurangan akal. Ketika lima kincir yang dipasang di kebunnya tak berhasil menakut-nakuti burung pipit, ia menambahkan tiga unit. Hasilnya? ''Mereka tak lagi berani mendekat,'' ujarnya. Seiichi Okawa (Tokyo)

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Surat Dari Redaksi

Surat dari redaksi

Kolom Pembaca

Korban tabrak lari

Denda Tilang Tertinggi

Kaca Spion Dan UULLAJ

Indonesiana

Izin membangun bingung

Interkom maut

Kredit sim

Buku

Ketika dora emon menelan ramayana

Dewi dan pampasan perang

Agenda Pertunjukan

Lysistrata di samarinda

Seni Rupa

Menyerap kehidupan dengan mata batin

''yang dituju itu damai''

Ralat

Maukah

Album

Kenaikan pangkat

Guru besar

Catatan Pinggir

Di sampang

Agama

Wajah quran khas indonesia

Tari

Merentang batas pandang

DUS

Etalase jenazah di amerika

Remaja gawat di inggris

Cewek penggantung telepon di jepang

TEMPO|interaktif

Bisnis

AirAsia Stop Rute Solo-Kuala Lumpur  

Olahraga

Arti Laga Inter Milan di Jakarta buat Cordoba

Teknologi

Menyelamatkan Jantung Rusak dengan Sel Kulit

Banyuwangi Tuan Rumah Jatim Travel Mart 2012  

Olahraga

Tim Thomas Indonesia Disingkirkan Jepang  

Tes Doping Piala Eropa Gunakan Taktik Militer  

Nasional

30-an Orang Tahu Identitas TrioMacan2000

Benzema: Tanpa Rooney, Inggris Tetap Hebat

Bisnis

Melemah 98 Poin, Rupiah ke 9.358 per Dolar AS  

Bisnis

Penyatuan Zona Waktu Tingkatkan Transaksi Dagang  

Teknologi

Ini Antivirus Gratisan dari Kaspersky

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif