• Home
  • 09 Oktober 1993
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
    • Bisnis Sepekan
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Perilaku
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
  • Prelude
    • Surat Dari Redaksi
    • Kolom Pembaca
    • Ralat
    • Album
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Selingan
    • Indonesiana
  • Seni
    • Musik
    • Seni Rupa
    • Tari
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 09 Oktober 1993

    Al-'askaru

    AMBISINYA menjadi hamba Allah membuat Sobari sangat obsesif merujukkan segala sesuatu pada perkenan-Nya. ''Sahkah keputusan dan tindakan saya ini di mata-Nya?'' Pertanyaan itu selalu muncul di benaknya. Di hadapan Tuhannya, ia benar-benar ikhlas melepaskan kemerdekaannya. Boleh jadi obsesi itu disebabkan oleh piwulang dari guru mengajinya sewaktu kecil di kampung, bahwa manusia tidak diciptakan Tuhan kecuali untuk berhamba kepada-Nya. Wa maa khalaqtul jinna wal insa illa liya'buduun. Tidak Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembah-Ku (Quran, 51: 56). Artinya, kata Sobari menyitir keterangan gurunya, setiap keputusan hati, pertimbangan nalar, dan tindakan lahir manusia tak saja harus absah, legitimate, dari sudut pandang formal- prosedural di mata sesama. Lebih dari itu, itu harus legitimate dari sudut pandang moral-spiritual di mata Tuhannya. Salat, misalnya, asalkan dijalankan sesuai dengan tata cara fikih, memenuhi rukunnya, apalagi ditambah dengan kesunahan- kesunahannya, pastilah sah di mata sesama (yang mengerti fikih). Tapi, yang sah di mata sesama belum tentu sah di mata Tuhannya. Tanpa niat yang ikhlas karena Allah, salat itu sia-sia. Soal salat yang demikian itu sangat gamblang. Semua literatur keagamaan (Islam) menggarisbawahinya. Yang kali ini menjadi pertanyaan Sobari di luar literatur kebanyakan yang ada, yakni keputusannya memasuki dinas keaskaran (kemiliteran). Bulan- bulan ini, setelah sekian tahun menjalani pendidikan, Sobari secara resmi akan dilantik menjadi askar dengan pangkat letnan. Secara lahiriah, tak ada problem bagi Sobari. Tak mustahil, nanti, ia menjadi perwira berbintang. Tapi pertanyaan kini menggodanya, bagaimana keaskarannya secara spiritual bisa dipertanggungjawabkan kepada Tuhannya. ''Alangkah rugi kalau pilihan hidup saya ini hanya nonsens di mata-Nya,'' katanya dalam hati. Secara spiritual, cita-cita hidup Sobari satu: menjadi hamba Allah. Kiai Misbach lenger-lenger disodori pertanyaan seperti itu. Bukan karena keaskaran merupakan perkara besar, tapi literatur klasik rujukan Kiai Misbach yang bicara soal ini sangat langka. Kiai Misbach beranjak masuk ke perpustakaan pribadinya. ''Kitab ini dikarang zaman baheula, mungkin sudah banyak yang kedaluwarsa. Jadi, kalau ada yang kurang sampean setujui, harap maklum saja,'' kata Kiai Misbach mengawali jawabannya. Di luar dugaan, keaskaraan dalam kitab Kiai Misbach memperoleh kedudukan yang secara spiritual sangat tinggi, sabilillah, aparat Allah. ''Merujuk pada piwulang kitab ini,'' kata Misbach, ''sampean tidak perlu kecewa. Profesi keaskaran yang sampean pilih jelas persambungannya dengan misi ketuhanan. Jika sampean benar-benar bismillah nawaitu menjadi askar karena Allah, menjadi askar untuk menjaga keamanan rakyat banyak, terutama yang kecil, yang lemah, yang miskin, yang tergusur, yang gampang takut tapi justru sering ditakut-takuti, sampean harus berbangga hati. Sampean adalah aparat Allah!'' ''Begitu, Kiai?! Tapi ... tapi bagaimana mungkin peran keaskaran seperti itu bisa kami penuhi?'' ''Kenapa? Kenapa tidak mungkin?'' tanya Misbach. Sobari terdiam. ''Kiai seperti tidak tahu saja. Rakyat, lebih-lebih yang kecil, cenderung mengambil jarak dengan kami. Kedatangan kami di tengah-tengah mereka malah sering membuat mereka curiga, waswas, bahkan takut. Salah-salah bisa kena libas. Dalam banyak hal, kehadiran kami justru membikin (perasaan) tidak aman bagi rakyat yang (semula) merasa aman .... Kalau ini kenyataan di lapangan, bagaimana peran aparat ketuhanan pada keaskaran bisa dipenuhi?'' Kiai Misbach maklum. ''Saudara Sobari, dalam kitab ini ada kiat untuk itu. Tapi, apakah teman-teman sampean bisa menerimanya?'' ''Bagaimana? Bagaimana kiat itu, Kiai?'' Kiai Misbach lalu membacakan sebuah paragraf: ''Untuk menjalankan peranannya sebagai aparat Allah, yakni menjamin rasa aman masyarakat, lebih-lebih yang kecil, para askar secara lahir (fisik) justru harus mengambil jarak. Semakin jauh (secara fisik) dari rakyat, justru semakin dekat (secara batin) dengan mereka. Inilah kiat khas hubungan askar dengan rakyat. Jauh di mata, dekat di hati dekat di mata, jauh di hati.'' ''Kenapa? Kenapa bisa begitu?'' ''Sederhana saja. Kata kitab ini, karena di pinggang askar selalu ada senjata untuk siapa saja yang dianggap memusuhinya.'' Sobari terdiam. ''Itu sebabnya,'' Kiai Misbach melanjutkan, ''dalam kitab ini, definisi basic askar sebagai aparat Allah adalah pagar masyarakat. Tak lebih dan tak kurang. Mau melebihi atau mengurangi, atribut dan cara khas keaskaran harus ditanggalkan. Sampean tentu tahu di mana pagar harus berdiri penuh wibawa. Di pinggir, di belakang, tut wuri handayani. Dalam zaman ketika semua orang, kalau perlu dengan menginjak orang lain, ingin berdiri di tengah, di depan, keikhlasan berdiri pada posisi pagar memang terasa kelewat mulia. Dan jauh lebih mulia apabila keikhlasan itu diambil oleh orang seperti sampean, yang dengan kegagahan dan keperkasaannya sangat mudah merebut posisi tengah.'' Dengan ragu Sobari berkata, ''Kiai, posisi pagar memang sangat mulia. Tapi apakah orang tidak akan menggunjingkan kami sebagai orang bodoh? Kiai, banyak orang bilang, zaman ini zaman edan, tidak ngedan tidak kebagian. Apakah kita bisa bangga sebagai aparat Allah tapi ... bodoh?'' Kiai Misbach dan Sobari sama-sama tercenung: bagaimana bisa terjadi, aparat Allah tapi ... (dibilang) bodoh? *)Penulis adalah Wakil Direktur Pelaksana Perhimpunan dan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Surat Dari Redaksi

Surat dari redaksi

Kolom Pembaca

Korban tabrak lari

Denda Tilang Tertinggi

Kaca Spion Dan UULLAJ

Indonesiana

Izin membangun bingung

Interkom maut

Kredit sim

Buku

Ketika dora emon menelan ramayana

Dewi dan pampasan perang

Agenda Pertunjukan

Lysistrata di samarinda

Seni Rupa

Menyerap kehidupan dengan mata batin

''yang dituju itu damai''

Ralat

Maukah

Album

Kenaikan pangkat

Guru besar

Catatan Pinggir

Di sampang

Agama

Wajah quran khas indonesia

Tari

Merentang batas pandang

DUS

Etalase jenazah di amerika

Remaja gawat di inggris

Cewek penggantung telepon di jepang

TEMPO|interaktif

Bisnis

Nusantara Infrastructure Bidik Proyek Air Bersih

Bisnis

AirAsia Stop Rute Solo-Kuala Lumpur  

Olahraga

Arti Laga Inter Milan di Jakarta buat Cordoba

Teknologi

Menyelamatkan Jantung Rusak dengan Sel Kulit

Banyuwangi Tuan Rumah Jatim Travel Mart 2012  

Olahraga

Tim Thomas Indonesia Disingkirkan Jepang  

Tes Doping Piala Eropa Gunakan Taktik Militer  

Nasional

30-an Orang Tahu Identitas TrioMacan2000

Benzema: Tanpa Rooney, Inggris Tetap Hebat

Bisnis

Melemah 98 Poin, Rupiah ke 9.358 per Dolar AS  

Bisnis

Penyatuan Zona Waktu Tingkatkan Transaksi Dagang  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif