• Home
  • 09 Oktober 1993
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
    • Bisnis Sepekan
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Perilaku
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
  • Prelude
    • Surat Dari Redaksi
    • Kolom Pembaca
    • Ralat
    • Album
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Selingan
    • Indonesiana
  • Seni
    • Musik
    • Seni Rupa
    • Tari
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 09 Oktober 1993

    Pembantaian si pengigau

    DESA Tanjungagung di Kabupaten Musirawas, Sumatera Selatan, tergolong terpencil. Mobil belum masuk ke desa tersebut. Satu-satunya transportasi adalah melalui sungai. Warga yang menetap di sana tidak lebih dari 1.000 jiwa. Begitu sepinya daerah itu, sehingga pembunuhan terhadap diri Abusamah, 67 tahun, pada Januari 1991 bahkan tidak terendus polisi. Pembunuhnya adalah anaknya sendiri, Dahlan alias Keling. Lelaki bertubuh kecil, berkulit hitam, dan berusia 25 tahun itu, pada awal Maret lalu, kembali membunuh. Korban kedua adalah kakaknya sendiri, Getih Rupah, 40 tahun. Perawan yang lumpuh sejak lahir itu dibantainya di pondok ladang mereka yang letaknya jauh dari rumah penduduk. Tanpa sebab yang jelas, Keling membabatkan goloknya pada Getih. Sabetan pertama sempat ditangkis sang kakak sehingga pergelangan Getih patah. Pada serangan kedua, Getih gagal menangkis. Leher gadis itu tertebas. Getih tewas saat itu juga. Dan di pagi itu Keling pulang ke rumah menenteng golok berdarah. ''Getih sudah aku habisi. Mayatnya aku tinggalkan di pondok,'' katanya kepada Abubakar. Abang sulungnya terperangah mendengar ucapan adiknya itu. ''Penyakit saraf Si Keling kambuh lagi,'' kata Abubakar. Lalu ia melaporkan kasus ini kepada M. Yakus, pamannya, yang juga Kepala Desa Tanjungagung. Tiga hari kemudian, Keling dipasung karena dianggap tidak waras. ''Ia sering mengigau dan tertawa sendiri,'' kata Yakus. Polisi tidak dilapori peristiwa ini. Tapi seorang warga kemudian melaporkan kejadian itu kepada polisi. Maka, pada 19 September lalu Keling ditangkap. ''Ia ternyata waras. Buktinya, ia mampu menceritakan peristiwa pembunuhan itu secara rinci,'' kata Letnan Kolonel Aspar Nainggolan, Kepala Kepolisian Resor Musirawas. Untuk penyidikan, pada 27 September lalu, kubur Abusamah dan Getih digali kembali, dan kedua mayat tersebut divisum. Abusamah tewas karena tusukan pisau Keling tepat mengenai dadanya. ''Waktu itu saya tidak sadar. Kepala mendadak pening, alam menjadi gelap. Dan saya lihat Ayah berubah menjadi hantu berpakaian putih-putih yang menakutkan, dan siap menerkam saya. Karena itu, ia terpaksa saya bunuh,'' kata Keling lancar. Begitu tersadar bahwa korban adalah ayahnya sendiri, ia pun menangis sedih. Rasa menyesalnya timbul. Keling dibawa ke dukun untuk diobati. Setelah itu, Abubakar juga membawa anak keenam dari sepuluh bersaudara itu ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Palembang. Setelah dirawat di sana dua bulan, kabarnya, ia sembuh. Ternyata, Keling juga membantah kalau dirinya disebut gila. ''Saya cuma sering pusing,'' katanya. Derita itu muncul sejak ia jatuh dari pohon duku pada usia 15 tahun. Sebab itu, bujangan berpendidikan SD ini kaget mengetahui dirinya dipasung. ''Padahal, saya merasa sehat,'' katanya. Buktinya, ia bisa menyadap karet dengan upah Rp 3.000-Rp 5.000 sehari. Uang itu antara lain diberikannya kepada Getih. ''Getih tidak mampu bekerja, karena itulah hidupnya kami yang urus, karena kami yang sudah bekerja,'' kata Keling. Tapi ia mengaku sering jengkel melihat kakaknya yang bertindak tidak wajar. ''Walau kakinya lumpuh, Getih bisa memukul saya dengan kayu bakar,'' ujarnya. Menurut Direktur RSJ Palembang, Dokter F. Soenarto Boediadi, mungkin Keling mengidap penyakit slaapwandelen mengigau dengan intensitas tinggi. Yaitu penyakit akibat epilepsi. Lalu, pada tingkat gawat, bisa saja penderitanya tiba-tiba melihat seseorang menyerupai binatang buas yang siapa menerkamnya, kemudian penderita membela diri. ''Penyakit ini akan kumat manakala penderita terimpit problem kehidupan yang dia sendiri tidak mampu mengatasinya,'' kata Soenarto pada Ali Fauzi dari TEMPO. Soenarto, yang bertugas di RSJ Palembang sejak awal 1992, tidak tahu persis adakah Keling pernah dirawat di sana. Namun, di mata Aspar Nainggolan, tersangka berjiwa sehat. Dugaannya, Keling membunuh karena jengkel melihat orang tuanya yang telah uzur, dan kakaknya yang dianggapnya sebagai parasit saja. ''Peristiwa ini sudah kedua kalinya. Bila dibiarkan, bisa-bisa semua saudaranya dihabisi. Ia pembunuh berdarah dingin,'' kata Aspar. Ia menyesalkan Yakus tidak melaporkan kejadian tersebut kepada polisi. Widi Yarmanto dan Hasan Syukur (Palembang)

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Surat Dari Redaksi

Surat dari redaksi

Kolom Pembaca

Korban tabrak lari

Denda Tilang Tertinggi

Kaca Spion Dan UULLAJ

Indonesiana

Izin membangun bingung

Interkom maut

Kredit sim

Buku

Ketika dora emon menelan ramayana

Dewi dan pampasan perang

Agenda Pertunjukan

Lysistrata di samarinda

Seni Rupa

Menyerap kehidupan dengan mata batin

''yang dituju itu damai''

Ralat

Maukah

Album

Kenaikan pangkat

Guru besar

Catatan Pinggir

Di sampang

Agama

Wajah quran khas indonesia

Tari

Merentang batas pandang

DUS

Etalase jenazah di amerika

Remaja gawat di inggris

Cewek penggantung telepon di jepang

TEMPO|interaktif

Bisnis

Nusantara Infrastructure Bidik Proyek Air Bersih

Bisnis

AirAsia Stop Rute Solo-Kuala Lumpur  

Olahraga

Arti Laga Inter Milan di Jakarta buat Cordoba

Teknologi

Menyelamatkan Jantung Rusak dengan Sel Kulit

Banyuwangi Tuan Rumah Jatim Travel Mart 2012  

Olahraga

Tim Thomas Indonesia Disingkirkan Jepang  

Tes Doping Piala Eropa Gunakan Taktik Militer  

Nasional

30-an Orang Tahu Identitas TrioMacan2000

Benzema: Tanpa Rooney, Inggris Tetap Hebat

Bisnis

Melemah 98 Poin, Rupiah ke 9.358 per Dolar AS  

Bisnis

Penyatuan Zona Waktu Tingkatkan Transaksi Dagang  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif