• Home
  • 09 Oktober 1993
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
    • Bisnis Sepekan
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Perilaku
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
  • Prelude
    • Surat Dari Redaksi
    • Kolom Pembaca
    • Ralat
    • Album
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Selingan
    • Indonesiana
  • Seni
    • Musik
    • Seni Rupa
    • Tari
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 09 Oktober 1993

    Atas nama bawang merah, semprotlah

    BAGONG, 42 tahun, memang belum begitu tua, tapi wajahnya sudah berkeriput dan tangannya bergetar-getar tak terkendali. Ayunan langkahnya renta, terseok-seok. Saraf petani bawang di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, itu telah rusak karena pestisida yang menumpuk di tubuhnya. Ternyata jumlah petani bawang di Brebes yang bernasib seperti Bagong cukup mencemaskan. Brebes, yang mempunyai lahan pertanian bawang 11.000 ha lebih, mempekerjakan ratusan ribu buruh tani. Mereka itu kini menjadi korban keganasan pestisida. Kondisi memprihatinkan semacam itulah yang ditemukan tim FAO (Food and Agriculture Organization) dan Bappenas yang melakukan survei selama dua tahun terakhir. Hasil penelitian tersebut pekan lalu dibahas dalam sebuah rapat Kelompok Kerja Program Nasional Pengendalian Hama Terpadu (PHT) Bappenas. Dalam surveinya, FAO mengambil 214 petani di Brebes dan Tegal sebagai responden. Pengamatan dan wawancara tersebut dilakukan seminggu sekali, seusai petani meyemprot sawahnya. Ini dilakukan untuk mengetahui gejala keracunan akut yang langsung muncul begitu usai menyemprot. Hasilnya, tim survei menemukan 69 gejala sakit yang 43 di antaranya dikenal sebagai gejala tipikal (khas) keracunan pestisida, seperti sesak napas, pusing, mual, dan muntah-muntah. Gejala itu tampak setelah petani melakukan 21% dari frekuensi penyemprotan. Sayangnya, gejala seperti itu dianggap angin lalu saja oleh petani. Sejauh ini penelitian memang belum sampai pada pengujian klinis. Tapi dari tanda-tanda yang ditemui FAO di lapangan agaknya cukup memberikan bukti bahwa para petani Brebes keracunan pestisida. Apalagi, seperti pengamatan TEMPO, para petani jarang mengikuti peraturan menyemprot pestisida. Rifai, contohnya. Meskipun tahu aturan pakai, seperti buruh tani lainnya, ia menyemprotkan pestisida tanpa memakai masker, sarung tangan, dan sepatu. Sebagaimana yang lain, Rifai juga terbiasa mencampur berbagai jenis pestisida. Padahal yang dicampur aduk itu, menurut klasifikasi WHO, tergolong pestisida keras. ''Soal mati itu kan urusan Tuhan. Yang jelas, pestisida mampu membasmi hama dan meningkatkan hasil panen,'' kata Rifai. Tanpa pestisida, menurut keyakinan Rifai, bawangnya bisa diamuk ulat grayak dan panennya akan gagal. Karena itu, ia tidak berani mengambil risiko dan tetap menyemprotkan pestisida secara serampangan. Petani lainnya, Darni, juga waswas berkebun tanpa didampingi pestisida. ''Dulu saya pernah keracunan pestisida. Tapi sekarang sudah kebal, lo'' kata Darni, bangga. Ia tentu tak paham bahwa keracunan pestisida bisa membawa dampak sangat buruk bagi kesehatan tubuhnya sendiri. ''Petani memang tidak menyadari bahwa pestisida sebenarnya adalah racun. Mereka malah menyebutnya sebagai obat,'' kata Ida Nyoman Oka, Ketua Kelompok Kerja Program Nasional PHT. Layaklah jika petani dengan mudah mencekoki tanamannya dengan pestisida. Yang kemudian terjadi, pemakaian pestisida berlebih-lebihan. Tak jarang ditemui, petani masih menyemprot sayuran yang telah dipanen dan siap diangkut, takut hasil panennya digerogoti hama. Nah, bila sayuran itu beredar di pasaran, kemudian dilahap sebagai lalapan, tentulah ia mengantarkan racun ke konsumen. Menurut survei FAO, dalam seminggu petani menyemprot 2-8 kali. Setiap petani rata-rata menyemprotkan 5 tangki berkapasitas 16-17 liter. Maka tidak aneh jika petani keracunan. Apalagi perilaku ceroboh petani bukan hanya soal enggan mengenakan perlengkapan pelindung. Di waktu jeda, mereka dengan enaknya membasuh tangan di parit yang tercemar dan menyebabkan kodok dan ikan pada mati. Setelah itu, mereka makan. Membiarkan racun meresap ke tubuh. Mengubah perilaku petani memang tak mudah. Mereka sudah terbiasa memakai pestisida yang begitu mudah didapatkan sampai di pelosok desa selama 25 tahun. Kemudahan mendapatkan pestisida itu turut mendorong petani memakai pestisida berlebihan. Apalagi petugas penyuluh lapangan (PPL), seperti diakui beberapa petani, juga bertindak sebagai penyalur dari sejumlah perusahaan pestisida. Selain melalui petugas PPL, tak sedikit pula pedagang pestisida yang langsung mendatangi petani. Untuk menggaet petani, mereka membagi-bagikan brosur, topi, dan kaus secara gratis. Ada pula yang menyelenggarakan acara makan-makan. Mungkin karena itu, tak aneh pula bila dalam pemakaian pestisida, para petani lebih mempercayai petunjuk dari brosur yang diberikan pedagang. ''Terus terang, saya percaya pada penjelasan dan brosur yang diberikan pedagang,'' kata Tarlani, petani bawang di Klamok. Celakanya, dari penelitian Lembaga Pembinaan dan Perlindungan Konsumen (LP2K) Semarang, 97% brosur pestisida yang beredar di Jawa Tengah ternyata menyesatkan. Brosur pestisida merek Validacin, misalnya, mencatumkan kalimat: aman bagi manusia, hewan, dan ikan. Adapun merek Saturn-D menampilkan seorang ibu menggendong pestisida tanpa pelindung tangan dan hidung. ''Brosur itu jelas menyesatkan petani,'' kata Nila Ardhianie, koordinator Pengembangan Program LP2K. Temuan LP2K itu cukup mengejutkan. Soalnya, aturan main mengenai brosur yang diatur kode etik yang dikeluarkan Asosiasi Perusahaan Perindustrian Pestisida Indonesia (AP3I) selama ini telah dilanggar. Namun, Ketua Komite Teknik AP3I, Yos Setiyoso, menduga brosur-brosur itu sudah ada sebelum diatur kode etik AP3I. ''Ini bukan kesengajaan. Tapi kami sudah menegur dan mereka tidak keberatan menarik brosurnya,'' kata Yos. Produsen sendiri menyadari bahwa pemakaian pestisida berlebihan malah akan jadi bumerang. Karena akan membuat produknya tak ampuh membasmi hama. Akibatnya, pestisida tidak laku. Masih ingat meledaknya hama wereng sekitar 1977? ''Hama itu justru muncul gara-gara pestisida,'' kata Kasumbogo Untung, ahli hama dan staf ahli Menko Eku & Wasbang. Belakangan para ahli membuktikan bahwa penyemprotan tak hanya membuat wereng jadi resisten (kebal), tapi juga resurjen. Jadi, karena disemprot, hama itu justru makin rajin dan gencar bertelur sehingga populasinya meledak. ''Wereng itu sudah hidup di muka bumi ini 350 juta tahun lebih. Jadi kemampuannya mempertahankan dan menyesuaikan diri terhadap perubahan tinggi sekali. Kalau hanya dengan pestisida, dia sudah punya kiat- kiatnya, '' ujar Kasumbogo. Itulah sebabnya program PHT yang menekan pemakaian pestisida dan mengutamakan musuh alami tak bisa ditunda lagi untuk dialihkan ke Departemen Pertanian. Program PHT, tak seperti program penyuluhan konvensional yang bersifat instruksional, agaknya bisa diandalkan. Dalam PHT, petani terjun langsung di sawah dan dituntun untuk menganalisa dan menyelesaikan problemnya sendiri. Berkat program inilah petani kubis sekarang bisa menekan pemakaian pestisida. Dulu dalam satu musim tanam disemprot 16 kali, sekarang cuma dua kali. Sayang, belajar model begini perlu waktu lama. Sehingga meski diterapkan sejak 1989, baru 300.000 petani yang kenal PHT. Padahal petani di negeri ini ada 15 juta. Keberhasilan program ini, bagaimanapun, tetap tergantung niat petani. Dan juga kepada penyuluh pertanian di pelosok-pelosok. Merekalah yang seharusnya menjauhkan petani dari para penjaja keliling, yang memikat petani dengan brosur menyesatkan, tanpa memperhitungkan risikonya atas kesehatan tubuh manusia. Kalau tak salah, kekeliruan penjaja keliling dan kelalaian penyuluh pertanian sudah berlangsung lama. Namun, seperti biasanya, tak pernah ada sanksi. Dan pengawasan pun kurang sekali. Akibatnya, petani sampai saat ini tetap memandang pestisida sebagai satu paket dalam upaya produksi pertanian. Sedikit sekali petani yang menyadari bahwa merekalah tumbal pertama untuk kekeliruan dan kelalaian itu. Bambang Aji, G. Sugrahetty Dyan K., dan Bandelan Amarudin

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Surat Dari Redaksi

Surat dari redaksi

Kolom Pembaca

Korban tabrak lari

Denda Tilang Tertinggi

Kaca Spion Dan UULLAJ

Indonesiana

Izin membangun bingung

Interkom maut

Kredit sim

Buku

Ketika dora emon menelan ramayana

Dewi dan pampasan perang

Agenda Pertunjukan

Lysistrata di samarinda

Seni Rupa

Menyerap kehidupan dengan mata batin

''yang dituju itu damai''

Ralat

Maukah

Album

Kenaikan pangkat

Guru besar

Catatan Pinggir

Di sampang

Agama

Wajah quran khas indonesia

Tari

Merentang batas pandang

DUS

Etalase jenazah di amerika

Remaja gawat di inggris

Cewek penggantung telepon di jepang

TEMPO|interaktif

Bisnis

Nusantara Infrastructure Bidik Proyek Air Bersih

Bisnis

AirAsia Stop Rute Solo-Kuala Lumpur  

Olahraga

Arti Laga Inter Milan di Jakarta buat Cordoba

Teknologi

Menyelamatkan Jantung Rusak dengan Sel Kulit

Banyuwangi Tuan Rumah Jatim Travel Mart 2012  

Olahraga

Tim Thomas Indonesia Disingkirkan Jepang  

Tes Doping Piala Eropa Gunakan Taktik Militer  

Nasional

30-an Orang Tahu Identitas TrioMacan2000

Benzema: Tanpa Rooney, Inggris Tetap Hebat

Bisnis

Melemah 98 Poin, Rupiah ke 9.358 per Dolar AS  

Bisnis

Penyatuan Zona Waktu Tingkatkan Transaksi Dagang  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif