• Home
  • 09 Oktober 1993
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
    • Bisnis Sepekan
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Perilaku
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
  • Prelude
    • Surat Dari Redaksi
    • Kolom Pembaca
    • Ralat
    • Album
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Selingan
    • Indonesiana
  • Seni
    • Musik
    • Seni Rupa
    • Tari
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 09 Oktober 1993

    Kata siapa back to sixties?

    RAMBUT pirang panjang dan gaun merah longgar tak mampu menyamarkan usia Skeeter Davis sebenarnya. Namun, penyanyi yang kini 61 tahun itu seolah tak pernah kehabisan energi. Pekan silam, dua malam berturut-turut, masing-masing selama satu jam penuh, Davis menyanyikan 20 lagu pop-country Barat yang populer pada tahun 1960-an. Tak semua lagu dibawakannya dengan mulus maklum sudah gaek, beberapa kali suaranya sempat terdengar kerendahan setengah nada. Toh Davis, nama yang tak terpisahkan dengan The End of the World, Send Me the Pillow that You Dream On, Silver Threads and Golden Needles, Tell Tommy I Miss Him, dan Set Him Free sekitar 30 tahun lalu, tak tampak canggung. Lagu demi lagu mengalir hampir tanpa jeda. Seakan-akan mewakili keinginannya untuk terus tarik suara di pengujung perjalanan kariernya yang telah lama redup. Mary Frances Penick Davis (nama aslinya), yang tampil pertama kali 40 tahun lalu di Grand Ole Opry, Tennessee, kiblatnya musik country, memang tak pernah berniat untuk stop dan pensiun. ''Ayahku dulu selalu bilang, takdirlah yang mengharuskanku terus menyanyi,'' ujarnya kepada TEMPO di balik panggung Hailai Executive Club Ancol, Jakarta. Maka, pekan lalu, Jakarta seperti sedang menyelenggarakan festival back to sixties. Selain oleh Davis, pertunjukan musik pop gaya 1960-an berturut-turut ditampilkan oleh Paul Anka serta Victor Hutabarat dan Jopie Item Band. Paul Anka, bagi mereka yang kini berusia 40-an tahun ke atas, tentu mengingatkan pada I Don't Like to Sleep Alone, Diana, dan My Way. Sementara itu, Victor dan Jopie, yang termasuk generasi baru dalam musik pop Indonesia, membawakan hits-hits Cliff Richard dan The Shadows, seperti Vision dan Oh My Love. Menonton bintang sixties yang imitasi dan asli tentu saja biayanya berbeda. Untuk menikmati sajian ''Cliff'' Hutabarat di Concert Hall 21, cukup merogoh Rp 20 ribu, lebih murah Rp 55 ribu dibandingkan dengan tiket pertunjukan Davis. Sementara itu, untuk ber-sixties-sixties sambil makan malam dengan Paul Anka di Jakarta Hilton Convention Center, paling murah harus membayar Rp 500 ribu per kepala. Mau bergengsi, menonton dari meja bagian depan, mesti menambah setengah juta rupiah. Biarpun sebagian hasilnya untuk Yayasan Kanker Indonesia, tiket Paul Anka ini harganya tergolong luar biasa, mengingat untuk nonton Michael Jackson yang menggebrak di Singapura, seorang Indonesia cukup membayar sekitar sejuta rupiah juga tapi memang harus membayar sewa kamar hotel dan lain-lain di Singapura. Tapi sebagian orang Indonesia memang tak ragu ''buang'' uang. Coba, seminggu sebelum pertunjukan, tiket Paul Anka sudah sulit didapat. Potensi musik back to sixties agaknya tak lepas dari mulai banyaknya bekas anak muda tahun 1960-an yang kini berduit. ''Para konglomerat baru kini mungkin ingin menikmati musik sambil mengingat-ingat waktu masih kuliah sambil jual celana,'' demikian pengamatan Victor Hutabarat, yang perlu berlatih sebulan untuk menyesuaikan suaranya dengan cengkok Cliff Richard. Nostalgia seperti itu, menurut penggemar Johnny Mathis dan Mario Lanza (keduanya bintang sixties juga) ini, tak didapatkan sebelumnya, ketika dunia hiburan malam banyak diisi band Filipina yang membawakan medley lagu-lagu baru. Peluang terbuka setelah akhir 1980-an musisi lokal seperti Abadi Soesman dan Flashback Band membawakan lagu-lagu The Beatles dan Bee Gees. Back to sixties pun mendapat jalan untuk kembali muncul, sampai-sampai sebuah kafe di bilangan Kuningan Jakarta menjadikannya sebagai menu utama hiburan musiknya. Sejauh ini, lagu-lagu sixties yang disajikan sebenarnya masih berupa pop kacang goreng. Tak bisa begitu saja dianggap mewakili musik era tewasnya Kennedy bersaudara. Davis, Paul Anka, dan Richard adalah sisi manis dari dunia musik 1960-an, yang sebenarnya gemuruh dan menjadi fondasi mazhab musik mutakhir: rock. Back to sixties yang melanda dunia hiburan Jakarta belakangan ini bukanlah nostalgia untuk mengingat Time-a-Changin'-nya Bob Dylan yang menghujat politisi mesum, atau Sympathy for the Devil-nya Rolling Stones yang beraroma obat bius dari kalangan ''generasi bunga'', yang juga berkembang pada masa 1960-an. Bukan pula nostalgia untuk mengenang melaratnya Indonesia di bawah ekonomi Orde Lama, yang juga terjadi pada dasawarsa itu. Back to sixties yang sekarang ingin diingat adalah bagian dari Help Me Make It Through the Night atau You'll Have to Go dari Engelbert Humperdinck bagian manis yang kini gampang diikuti dari teks di layar kaca karaoke (satu lagi keajaiban elektronik yang membantu kembali populernya sixties). Lagu semacam itu tentu tak bakal laku bila dihadirkan di panggung terbuka, yang kini izin pertunjukannya tak gampang setelah kerusuhan pertunjukan Metallica bulan Mei lalu. Dan begitu dihadirkan dalam ruang rapi dan megah seperti Hailai Executive Club, persoalan menjadi lain lagi: apakah ini benar-benar apresiasi musik tahun 1960-an atau sekadar menikmati makan malam bergengsi dalam sebuah gala dinner? Lihat saja waktu pertunjukan Skeeter Davis. Sebagian besar dari seratus sebelas meja diisi rombongan keluarga yang terdiri atas sepuluh orang. Namun, lagu riang Blueberry Hill yang ditarik oleh Davis tak seperti saat pertunjukan New Kids on the Block penonton tak ikut menyanyi dan bergoyang. Bahkan, sebagian tampak terus asyik menyantap udang goreng dan cah kangkung ala Kanton. Ivan Haris

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Surat Dari Redaksi

Surat dari redaksi

Kolom Pembaca

Korban tabrak lari

Denda Tilang Tertinggi

Kaca Spion Dan UULLAJ

Indonesiana

Izin membangun bingung

Interkom maut

Kredit sim

Buku

Ketika dora emon menelan ramayana

Dewi dan pampasan perang

Agenda Pertunjukan

Lysistrata di samarinda

Seni Rupa

Menyerap kehidupan dengan mata batin

''yang dituju itu damai''

Ralat

Maukah

Album

Kenaikan pangkat

Guru besar

Catatan Pinggir

Di sampang

Agama

Wajah quran khas indonesia

Tari

Merentang batas pandang

DUS

Etalase jenazah di amerika

Remaja gawat di inggris

Cewek penggantung telepon di jepang

TEMPO|interaktif

Bisnis

Nusantara Infrastructure Bidik Proyek Air Bersih

Bisnis

AirAsia Stop Rute Solo-Kuala Lumpur  

Olahraga

Arti Laga Inter Milan di Jakarta buat Cordoba

Teknologi

Menyelamatkan Jantung Rusak dengan Sel Kulit  

Banyuwangi Tuan Rumah Jatim Travel Mart 2012  

Olahraga

Tim Thomas Indonesia Disingkirkan Jepang  

Tes Doping Piala Eropa Gunakan Taktik Militer  

Nasional

30-an Orang Tahu Identitas TrioMacan2000

Benzema: Tanpa Rooney, Inggris Tetap Hebat

Bisnis

Melemah 98 Poin, Rupiah ke 9.358 per Dolar AS  

Bisnis

Penyatuan Zona Waktu Tingkatkan Transaksi Dagang  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif