• Home
  • 09 Oktober 1993
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
    • Bisnis Sepekan
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Perilaku
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
  • Prelude
    • Surat Dari Redaksi
    • Kolom Pembaca
    • Ralat
    • Album
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Selingan
    • Indonesiana
  • Seni
    • Musik
    • Seni Rupa
    • Tari
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 09 Oktober 1993

    Menyongsong masa depan

    SARASEHAN tertutup di Markas Besar ABRI, Cilangkap, Senin pekan lalu, bakal menjadi tonggak penting keterlibatan ABRI dalam politik. Pembicara yang tampil dalam sarasehan itu antara lain bekas Panglima Kopkamtib Soemitro, bekas Menteri Hankam L.B. Moerdani, bekas Menteri Dalam Negeri Rudini, tokoh SOKSI Suhardiman, dan bekas Gubernur Lemhanas Sayidiman Suryohadiprojo. Para purnawirawan ini sepakat merumuskan kembali konsep dan pelaksanaan dwifungsi ABRI di masa mendatang. Pada acara sarasehan purnawirawan dan perwira aktif itu, yang disebut Forum Mawas Diri, setiap pembicara diberi kesempatan seperempat jam untuk mengungkapkan isi hati dan segala visi mereka tentang peran ABRI 25 tahun mendatang. ''Forum ini hanya untuk konsumsi pimpinan ABRI sehingga rumusannya akan mewarnai kebijakan ABRI di masa mendatang,'' kata Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) ABRI Brigjen Syarwan Hamid. Kebijaksanaan masa depan itu tampak lebih menyangkut hubungan kepemimpinan ABRI dan kepemimpinan sipil. Mengingat dunia yang sedang berubah, tuntutan demokratisasi, keterbukaan, dan pelaksanaan hak asasi manusia, menurut seorang pembicara di sarasehan itu, harus diikuti evaluasi kembali konsep dan pelaksanaan dwifungsi ABRI. Terlebih, ABRI punya peranan menentukan dalam politik nasional. Presiden Soeharto dalam sambutannya untuk sarasehan menegaskan, suatu masalah khusus dalam melaksanakan dwifungsi ABRI adalah kenyataan bahwa sebagian masih berada dalam ikatan disiplin dan hukum militer, dan sebagian lagi sudah terbebas dari ikatan itu. Bagi yang masih berdinas aktif, ujar Pak Harto, meski punya wawasan sendiri, dia tidak boleh berbicara atas nama pribadi. Pikirannya harus disalurkan secara melembaga melalui garis komando. Namun, bagi yang sudah kembali ke masyarakat, katanya lebih lanjut, secara pribadi bisa mempunyai pendapat sendiri, tanpa harus berkonsultasi, apalagi minta persetujuan dari komando. Bagaimana bila purnawirawan itu punya pendapat yang berbeda dengan kebijaksanaan dan strategi komando ABRI? Kepada yang tak terikat disiplin dan hukum militer, Presiden mengingatkan bahwa masyarakat tetap menganggapnya sebagai ABRI. Perbedaan pendapat secara terbuka antara ABRI dan purnawirawan, apalagi yang memberikan kesan pertentangan dan ketegangan, tentu merisaukan masyarakat. Karena itu, Presiden mengimbau, cara menyelesaikan perbedaan pendapat harus dikembangkan. ''Menghadapi tugas-tugas nasional di masa mendatang, ABRI memerlukan bantuan dan dukungan dari kalangan di luar ABRI. Dalam bidang sosial politik ada tugas-tugas yang bahkan lebih baik diemban oleh purnawirawan ABRI daripada oleh anggota ABRI aktif,'' kata Pak Harto. Apakah memang terjadi perbedaan antara ABRI aktif dan purnawirawan mengenai pelaksanaan dwifungsi dan hubungan ABRI dengan pusat kekuasaan sehingga peru digelar forum ini? Menurut Menteri Koordinator Polkam Soesilo Soedarman, yang juga Ketua Umum Persatuan Purnawirawan ABRI (Pepabri), dalam pertemuan itu tidak ada perbedaan pemahaman tentang dwifungsi ABRI antara yang aktif dan yang purnawirawan. ''Mereka yang purnawirawan itu kan yang dulu meletakkan dasar-dasar. Sekarang ada generasi penerus yang melanjutkan sehingga terjadi keselarasan dalam menentukan peran sospol ABRI,'' kata Soesilo. Pada hari yang sama, ketika menerima peserta Kursus Lemhanas angkatan XXVI di Binagraha, Jakarta, Pak Harto meminta agar hubungan fungsional antara komando ABRI, instansi pemerintah, dan kepemimpinan masyarakat pada tiap tingkat, dalam masa damai maupun masa darurat, dirumuskan secara khusus. Pak Harto mengingatkan, jajaran ABRI berkembang makin profesional, tapi rakyat pun makin cerdas dan terorganisasi dalam berbagai organisasi sosial politik. Kualitas kepemimpinannya juga meningkat. Ini tentu mempengaruhi pola hubungan antara ABRI dan rakyat. ''Hanya dengan menyusun hubungan fungsional ABRI dan rakyat, peralihan tanggung jawab kepemimpinan dari keadaan damai kepada keadaan darurat dan sebaliknya dapat berlangsung tanpa guncangan,'' kata Pak Harto. Kepala Negara juga mengingatkan, kemanunggalan ABRI-rakyat tetap relevan, dewasa ini maupun masa mendatang. Namun, menurut Presiden, wujud kemanunggalan itu dalam prakteknya bersifat dinamis, sesuai dengan perkembangan ABRI dan dinamika masyarakat itu sendiri. Maka, tepatlah bila dalam Forum Mawas Diri itu muncul mufakat untuk memakai pendekatan dialog dalam menyelesaikan masalah pada masa mendatang. ''Pemecahan masalah dilandasi oleh pengertian, bukannya karena takut. Untuk itu ABRI harus tutwuri handayani,'' kata Syarwan. Lantaran tutwuri handayani, menurut Suhardiman, ABRI akan merelakan sipil memegang kepemimpinan di Golkar, misalnya. ''Dengan posisi itu, ABRI akan sangat berkepentingan melancarkan jalur G (Golkar),'' katanya. Tapi, Menteri Negara Sekretaris Negara Moerdiono menegaskan, imbauan Presiden itu bukan merupakan indikasi pemimpin sipil harus naik. ''Sejak dulu Pemerintah menginginkan ormas-ormas itu mandiri. Betul-betul mandiri sehingga tidak menjadi beban ABRI,'' ujar Moerdiono, yang juga berbicara di forum itu. Menurut Soesilo, posisi tutwuri handayani itu tidak berarti ABRI berada di pinggir gelanggang politik. ''Ya, kalau harus tutwuri, kita bismillah karena tutwuri juga memimpin,'' kata Soesilo. Karena itu, muncullah instruksi konsolidasi secara menyeluruh. Ardian Taufik Gesuri dan Linda Djalil

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Surat Dari Redaksi

Surat dari redaksi

Kolom Pembaca

Korban tabrak lari

Denda Tilang Tertinggi

Kaca Spion Dan UULLAJ

Indonesiana

Izin membangun bingung

Interkom maut

Kredit sim

Buku

Ketika dora emon menelan ramayana

Dewi dan pampasan perang

Agenda Pertunjukan

Lysistrata di samarinda

Seni Rupa

Menyerap kehidupan dengan mata batin

''yang dituju itu damai''

Ralat

Maukah

Album

Kenaikan pangkat

Guru besar

Catatan Pinggir

Di sampang

Agama

Wajah quran khas indonesia

Tari

Merentang batas pandang

DUS

Etalase jenazah di amerika

Remaja gawat di inggris

Cewek penggantung telepon di jepang

TEMPO|interaktif

Bisnis

Nusantara Infrastructure Bidik Proyek Air Bersih

Bisnis

AirAsia Stop Rute Solo-Kuala Lumpur  

Olahraga

Arti Laga Inter Milan di Jakarta buat Cordoba

Teknologi

Menyelamatkan Jantung Rusak dengan Sel Kulit  

Banyuwangi Tuan Rumah Jatim Travel Mart 2012  

Olahraga

Tim Thomas Indonesia Disingkirkan Jepang  

Tes Doping Piala Eropa Gunakan Taktik Militer  

Nasional

30-an Orang Tahu Identitas TrioMacan2000

Benzema: Tanpa Rooney, Inggris Tetap Hebat

Bisnis

Melemah 98 Poin, Rupiah ke 9.358 per Dolar AS  

Bisnis

Penyatuan Zona Waktu Tingkatkan Transaksi Dagang  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif