• Home
  • 09 Oktober 1993
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
    • Bisnis Sepekan
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Perilaku
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
  • Prelude
    • Surat Dari Redaksi
    • Kolom Pembaca
    • Ralat
    • Album
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Selingan
    • Indonesiana
  • Seni
    • Musik
    • Seni Rupa
    • Tari
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 09 Oktober 1993

    Menyerap kehidupan dengan mata batin

    INDIA seperti tak berbekas pada kanvas dan kertas Pelukis Rusli. Padahal boleh dibilang pribadinya terbentuk di sebuah pusat kesenian di India, tepatnya di Departemen Seni Rupa Kala Bhawana di Shantiniketan. Di sana Rusli mendapatkan bekal mendasar yang dipegangnya teguh hingga sekarang: bahwa dia adalah pelukis cat air, dan bahwa menyerap kehidupan adalah penting (lihat Yang Dituju itu Damai). Coba saja amati sekitar 50 lukisan yang dipamerkannya di Ruang Pameran Utama Taman Ismail Marzuki, Jakarta, 22-30 September pekan lalu. Karya yang dipamerkan, dari tahun 1966 sampai karya bertahun 1992, pada dasarnya tak berubah. Sapuan yang spontan, warna-warna primer, dan latar belakang yang dibiarkan apa adanya. Tak ada jejak garis-garis liris lukisan tradisional India yang menggambarkan objek dengan realistis, misalnya. Juga tak ada figur atau bentuk yang mengingatkan orang pada relief-relief India. Tapi Rusli, seperti diungkapkannya sendiri, memang tak mencoba melukiskan alam seperti yang dilihat mata. Ia menangkap kehidupan dengan mata batin. Dan itulah yang ia tuangkan ke kanvas-kanvasnya. Misalnya, dalam Babi II, bukan babi itu benar yang penting. Melainkan bagaimana spontanitas goresan dan susunan warna-warna di situ menimbulkan empati dalam diri kita. Empati, lebih dari simpati, menggerakkan rasa kita mengikuti rasa garis, warna, dan karakter goresan pada kanvas itu. Seperti kita merasa menjadi bercak merah yang berbentuk mirip tanda koma itu. Seperti kita merasa berkelit mengikuti sapuan kuning melengkung ke bawah. Maka, yang terjadi, objek bagi Rusli sekadar alat. Objek, di kanvas, boleh tetap ada, utuh atau sebagian, boleh juga tak ada. Dalam proses itulah spontanitas menjadi penting. Gerak yang spontan lebih didorong dari ''dalam'', bukan oleh pikiran. Ia jujur, tanpa pretensi. Untuk mempertahankan kejujuran itulah Rusli tak ingin mengulang, atau menumpuk, mengoreksi garis dan sapuan yang sudah ada. Maka, harmoni dalam karya Rusli terasa alamiah. Ketika kita berada di tengah alam, kita tak berpikir apakah komposisi yang kita saksikan di sekitar kita harmonis atau tidak. Tak muncul pertanyaan, adakah pohon kelapa di depan kita merupakan unsur penyeimbang dari hutan jati di belakang kita. Apakah sungai yang kita seberangi merupakan kontras dari batu-batu di tepinya. Terasa seperti itulah karya-karya Rusli. Yang kemudian menjadi masalah, manusia tentu saja tak mungkin menyamai Tuhan dalam mencipta. Hanya spontanitas, yang terciptakan adalah anarki. Betapapun diperlukan semacam kontrol. Suatu kali Rusli pernah bercerita, yang paling sulit baginya adalah menentukan kapan sebuah lukisan selesai. Dalam hal ini tentu saja tak ada ukuran. Sebuah Kapal bertahun 1991, cukup hanya dengan beberapa tarikan garis dan beberapa sapuan. Tapi sebuah karya yang lain, yang bertemakan sebuah pesta di Bali, hampir sepenuh kanvas terisi dengan coretan, goresan, dan titik-titik. Yang terasa pada saya, ada ''sentuhan akhir'' pada karya- karya Rusli yang kemudian membuat keharmonisan yang dicapai menjadi seimbang. Ketika keseimbangan itu tercapai, ketika itulah rasanya lukisan Rusli selesai sudah. Ketika sebuah karya Rusli menimbulkan empati, yang kita rasakan memang itu: keselarasan dan keseimbangan. Warna-warna dan susunan goresan dan sapuan berpadanan. Lalu terasa suatu gerak, karena susunan semua unsur di kanvas menimbulkan gerak. Keseimbangan memang bukan simetri. Keseimbangan adalah sebuah titik pada karya Kapal yang menyebabkan komposisi itu tak lalu tertarik ke sudut kiri bawah karena garis-garis yang kuat pada lukisan itu menarik seluruh kanvas itu ke sudut kiri bawah. Titik itu seperti kemudian membalikkan gerak. Dan tak selesai di situ ada gerak balik ke bawah, dan ada yang kemudian menariknya kembali ke atas, demikian seterusnya. Maka, sebuah karya Rusli yang menimbulkan empati seperti selalu berputar, bergerak bolak-balik, berulang-ulang. Ketika itulah, dalam diri kita bisa muncul sesuatu: mungkin bisa dikatakan, mungkin tidak. Keriuhan bercak merah dan kuning pada Babi II ketegasan tarikan garis pada Figur dan Empat Kembang, perpaduan sapuan-sapuan pada Figur II, umpamanya, akan berdialog dengan perbendaharaan pengalaman kita. Hasil dialog itu memberikan pengalaman baru, dan selalu baru. Tapi apakah penghayatan estetik tak selalu begitu? Memang. Mungkin yang berbeda adalah jalan masuknya. Dalam hal karya Rusli, jalan masuk itu terutama disediakan oleh keselarasan dan keseimbangan. Dan pada karya pelukis lain, mungkin jalan itu adalah bentuk figur yang unik, ekspresi wajah yang kuat, garis- garis bertekstur yang tegas. Jalan masuk itulah yang kemudian menjadi ciri seorang pelukis. Dan kuat-lemahnya, tampaknya, tergantung ''jenis pintu'' itu: adakah itu memang unik, satu-satunya, adakah pintu itu daya tariknya kuat, dan sebagainya. Dalam hal Rusli, saya rasa, dalam hal spontanitasnya, di Indonesia sulit dicari tandingnya. Bambang Bujono

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Surat Dari Redaksi

Surat dari redaksi

Kolom Pembaca

Korban tabrak lari

Denda Tilang Tertinggi

Kaca Spion Dan UULLAJ

Indonesiana

Izin membangun bingung

Interkom maut

Kredit sim

Buku

Ketika dora emon menelan ramayana

Dewi dan pampasan perang

Agenda Pertunjukan

Lysistrata di samarinda

Seni Rupa

Menyerap kehidupan dengan mata batin

''yang dituju itu damai''

Ralat

Maukah

Album

Kenaikan pangkat

Guru besar

Catatan Pinggir

Di sampang

Agama

Wajah quran khas indonesia

Tari

Merentang batas pandang

DUS

Etalase jenazah di amerika

Remaja gawat di inggris

Cewek penggantung telepon di jepang

TEMPO|interaktif

Nasional

Aksi Kekerasan Jadi Pertimbangan FPI Dibekukan

Calon Independen Tak Cederai Demokrasi

Teknologi

Bagaimana Jika Kutub Bumi Berbalik?

Teknologi

Savana Afrika Ternyata Ciptaan Manusia

Brownies Blondies Koedelos di Hari Valentine

Internasional

Warga Irak Sambut Hari Kasih Sayang

Internasional

Azerbaijan Dituding Ikut Bunuh Ahli Nuklir Iran

Inforial

Servis Mobilnya Raih Hadiahnya

AUTO2000

Internasional

Liga Arab Usulkan Misi Perdamaian ke Suriah

Internasional

ASEAN Anggap India Lebih Terbuka dari Cina

Bisnis

Pemerintah Resmi Keluarkan Perpres Harga Baru BBM

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif