• Home
  • 09 Oktober 1993
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
    • Bisnis Sepekan
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Perilaku
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
  • Prelude
    • Surat Dari Redaksi
    • Kolom Pembaca
    • Ralat
    • Album
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Selingan
    • Indonesiana
  • Seni
    • Musik
    • Seni Rupa
    • Tari
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 09 Oktober 1993

    ''yang dituju itu damai''

    DI Wisma Seni Taman Ismail Marzuki, Rabu malam pekan lalu, Rusli menceritakan proses kreatifnya. Salah seorang anggota Akademi Jakarta itu, yang kini 77 tahun, berbicara dengan jelas dan tegas tentang perguruan di Shantiniketan, India, tempat ia bermukim selama 6 tahun pada tahun 1930-an. Apa yang Anda peroleh dari Shantiniketan? Bagaimana saya menyerap kehidupan ini. Tapi ini bukan diajarkan oleh guru-guru saya, melainkan dialirkan saja, sesuai dengan kepribadian masing-masing. Di Shantiniketan semua murid memilih jalan sendiri-sendiri. Dan bukan cuma murid yang memilih guru, tapi guru pun memilih murid. Bagaimana Anda menemukan gaya Anda? Seorang guru di Shantiniketan, bernama Ramkinkar, rupanya cocok dengan kecenderungan melukis saya. Saya ini pelukis cat air. Kalaupun saya menggunakan cat minyak, karakter cat air itu yang saya capai. Nah, Ramkinkar itulah yang agaknya melihat kecenderungan saya, lalu mengalirkan kecenderungan itu hingga saya menemukan gaya pribadi saya itu. Anda tampaknya cocok dengan cara pelukis Cina tradisional, dengan menghayati objeknya seintens mungkin, baru melukisnya dengan spontan. Benar. Tapi saya belum seperti cerita yang pernah saya dengar. Seorang pelukis Tiongkok diminta menghias sebuah kelenteng dengan lukisan burung gagak. Si pelukis lalu minta dikurung dengan beberapa burung gagak dalam sebuah kamar. Beberapa hari kemudian, pelukis itu keluar, lalu melukis burung gagak dalam berbagai posisi dengan sangat tepat dan spontan. Yang ia lukiskan kehidupan, bukan sekadar burung. Spontan itu sulit dan penuh perjuangan. Yang ingin Anda tuangkan ke kanvas kehidupan? Ya, kehidupan. Tapi kanvas Anda rasanya selalu damai. Dunia kan tak selalu damai. Yang dituju itu damai. Tapi kehidupan bukan hanya alam. Anda hampir selalu melukis- kan alam. Manusia pun Anda lukiskan sebagai bagian dari alam. Yang abadi itu alam. Kota tak abadi. Kalau alam rusak, itu yang merusakkan adalah manusia. Maksud Anda, alam itu ciptaan Tuhan, dan kota ciptaan manusia. Dan Anda lebih memilih ciptaan Tuhan? Kira-kira begitu. Karena ingin dekat dengan alam, Anda memilih tinggal di Yogya? Ya. Jakarta lebih praktis, tapi ruwet. Tapi Yogya atau kota mana pun akhirnya akan seruwet Jakarta. Apakah waktu itu Anda tak akan melukis lagi? Yogya pun kini sudah agak ruwet. Tapi bila itu benar, ha-ha-ha, saya tak akan mengalami di mana dunia tak lagi memiliki alam.

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Surat Dari Redaksi

Surat dari redaksi

Kolom Pembaca

Korban tabrak lari

Denda Tilang Tertinggi

Kaca Spion Dan UULLAJ

Indonesiana

Izin membangun bingung

Interkom maut

Kredit sim

Buku

Ketika dora emon menelan ramayana

Dewi dan pampasan perang

Agenda Pertunjukan

Lysistrata di samarinda

Seni Rupa

Menyerap kehidupan dengan mata batin

''yang dituju itu damai''

Ralat

Maukah

Album

Kenaikan pangkat

Guru besar

Catatan Pinggir

Di sampang

Agama

Wajah quran khas indonesia

Tari

Merentang batas pandang

DUS

Etalase jenazah di amerika

Remaja gawat di inggris

Cewek penggantung telepon di jepang

TEMPO|interaktif

Bisnis

Nusantara Infrastructure Bidik Proyek Air Bersih  

Bisnis

AirAsia Stop Rute Solo-Kuala Lumpur  

Olahraga

Arti Laga Inter Milan di Jakarta buat Cordoba  

Teknologi

Menyelamatkan Jantung Rusak dengan Sel Kulit  

Banyuwangi Tuan Rumah Jatim Travel Mart 2012  

Olahraga

Tim Thomas Indonesia Disingkirkan Jepang  

Tes Doping Piala Eropa Gunakan Taktik Militer  

Nasional

30-an Orang Tahu Identitas TrioMacan2000  

Benzema: Tanpa Rooney, Inggris Tetap Hebat

Bisnis

Melemah 98 Poin, Rupiah ke 9.358 per Dolar AS  

Bisnis

Penyatuan Zona Waktu Tingkatkan Transaksi Dagang  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif