• Home
  • 09 Oktober 1993
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
    • Bisnis Sepekan
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Perilaku
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
  • Prelude
    • Surat Dari Redaksi
    • Kolom Pembaca
    • Ralat
    • Album
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Selingan
    • Indonesiana
  • Seni
    • Musik
    • Seni Rupa
    • Tari
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 09 Oktober 1993

    Merentang batas pandang

    PERLAHAN-lahan, Mika Kurosawa yang berperawakan kecil, bercelana dan blus hitam memasuki pentas Graha Bhakti Budaya Taman Ismail Marzuki dari sisi kanan sambil mendorong sebuah kursi ke tengah panggung. Dua kali ia mengelilingi kursi itu diiringi Partita Bach. Di akhir putaran, kursi itu ditendangnya pelan ke luar ruangan. Mika terus berjalan berkeliling sambil menjelajahi langkah: berjengket, meloncat, berdiri di satu kaki. Kemudian ditambahkannya gerak tangan yang lembut, gemulai, dan lincah liukan tubuh yang lentur, ayunan langkah yang ceria, dan lenggokan kepala yang lemah. Semuanya mengalir enak seakan tanpa usaha. Gerak-gerak sederhana berkembang rumit dan menggairahkan. Tarian tunggal berjudul Le Petite Fleur ini, tampil sebagai salah satu nomor pembuka Indonesian Dance Festival (IDF) '93 (21-25 September). ''Mika Kurosawa menyajikan gerak yang paling indah dalam festival ini,'' tutur Penyair Goenawan Mohamad yang melihat hadirnya peserta tamu untuk pertama kalinya dalam IDF '93 bermanfaat karena memberi bahan banding bagi penata tari tuan rumah. Delapan penata tari luar negeri menampilkan 10 karya: 5 tunggal dan 5 kelompok. Ke-5 penampil tunggal adalah Mika Kurosawa, Ramli Ibrahim (Moving Spirit), Claudia Alessi (On a Precipice), Man Hong Kang (Flower of Incense), dan Lo Man-Fei (Requiem). Dalam Moving Spirit, Ramli Ibrahim (Malaysia) mengungkapkan keprihatinan akan semakin langkanya tradisi Mak Yong: bukan lewat gaya garap Melayu, tapi sebuah interpretasi individual yang kreatif dan indah. On a Precipice, adalah karya bersama Chrissie Parrot dan Claudia Alessi dari Perth, Australia Barat. Claudia sekaligus menarikannya. ''Berdiri di tepi tebing, sekali salah langkah aku akan jatuh ke jurang tak dapat kulihat apa yang terjadi di balik tebing.'' Inilah inspirasi penjelajahan koreografis Claudia yang kaya, rumit, dan sekaligus merupakan jawaban atas konflik-konflik personal yang dihadapinya. Man-Hong Kang, dari Seoul, Korea, secara unik memadukan Barat dan Timur dalam teknik gerak yang disebutnya Ki-Energy. Dalam Flower of Incense, ia membiarkan panggung kosong dan masuk dari lorong tengah auditorium dengan satu lilin menempel tegak di kepala menuju panggung dan menghilang. Gerakan Man Hong Kang sederhana tapi intens. Dari workshop singkat yang dilakukannya ia merasa bahwa kebanyakan peserta belum tumbuh inner energi-nya. Dalam workshop itu antara lain ia meminta agar para peserta berkonsentrasi untuk mendirikan telur, menyebarkannya di lantai kemudian mengayun langkah di antara telur-telur tersebut. Akhirnya, sambil menutup mata setiap peserta harus lari di antara telur-telur yang bergulingan. Aneh: tak seorang pun menginjak pecah telur-telur yang berhamburan. Inilah agaknya yang dimaksudkan Man-Hong sebagai latihan inner energy itu. Dalam Requiem, karya Lin Hwai-Min, seorang wanita ramping mengenakan rok terusan berwarna kelam berdasar lebar terus berputar ketika layar dibuka, dan lampu menyorot dari atas membentuk sebuah lingkaran di tengah panggung. Lo berputar dan berputar dalam posisi membungkuk atau tegak diiringi permainan piano. Sebuah ulangan gerak sederhana dengan variasi yang berhasil mengungkapkan rasa: kepedihan, penderitaan, ketakutan, kemarahan, kesakitan, dan keputusasaan silih berganti. Sayang, tarian ini menjadi terlalu sentimental dan melodramatik ketika penari berhenti dan beraksi. Taiwan adalah satu-satunya peserta dengan rombongan, terdiri dari mahasiswa dan pengajar National Institute of the Arts (NIA), Taipei. NIA tampil pada malam terakhir, menyuguhkan lima nomor dari tiga generasi tari Taiwan: Lin Hwai-Min, Lo Man-Fei, dan Ho Hsiao-Mei. Lin Hwai-Min, yang memadu apik teknik tradisi dan modern (Martha Graham), adalah pelopor tari modern Taiwan. Ia mendirikan ''Claoud Gate Dance Theatre'' tahun 1973. Kini juga menjadi penanggung jawab program pascasarjana Jurusan Tari NIA. Kecuali Requiem, tarian tunggal yang dipersembahkannya untuk korban tragedi Tiananmen, 4 Juni 1989, dua karya lainnya yang kita saksikan adalah Tale of the White Serpent dan Milky Way. Yang pertama diciptakan 18 tahun silam ketika ia masih bersemboyan: Penata tari Cina, dengan penari Cina, komposer Cina, dan untuk penonton Cina. Tema diambil dari dongeng Cina populer. Pendekatan garapnya mengacu Opera Cina, dengan kostum, rias, dan gerak-gerak tradisi yang sarat. Milky Way diciptakan berdasarkan legenda Cina yang menganggap setiap galaksi bintang dihuni seorang dewa atau dewi. Diciptakan empat tahun kemudian, memadukan teknik Graham dengan gerak silat Opera Cina yang kukuh, kuat, atletis, dan akrobatis. Yang menarik, Hwai-Min tahu benar seberapa banyak elemen fisik harus ia masukkan dan kapan ia hentikan, hingga tak memberi kesempatan penonton memecah konsentrasi pertunjukan dengan tepuk tangan. Singkatnya, ia tak mencari efek. Lo Man-Fei, penari penata-tari yang Ketua Jurusan Tari NIA, adalah bekas penari Cloud Gate. Sebagaimana banyak penari Taiwan ia memperdalam teknik dan pengetahuannya tentang tari modern di AS. Seams of the City, yang diciptakannya tahun 1989, mengambil inspirasi dari kehidupan kota Taipei yang cepat, padat, dan hiruk-pikuk. Komposisi yang didukung oleh 23 penari ini menangkap esensi kehidupan kota dan menggambarkannya secara imajinatif. Metafor gerak yang dipilih untuk menampilkan perjuangan manusia yang tinggal di dalamnya: basah keringat, gegap gempita, menguras tenaga, konflik, dan bahkan skizofrenia, sungguh tepat. Karya Man-Fei masih berbicara tentang tempat ia tinggal (Taipei masa kini) tetapi tak lagi dibebani pesan atau muatan tradisi Cina. Ho Hsiao-Mei, penata tari muda yang juga mengajar di NIA, lebih bebas mengungkapkan perasaan dan pengalamannya. Mirage pertama kali dipentaskan 21 Mei 1993. Dialog antara tubuh dan jiwa tentang konflik cinta digambarkannya dengan sembilan penari pria wanita dengan lingkar-lingkar tali yang kuat membatasi kehidupan: hal yang dapat terjadi di mana saja. Tak berarti penampilan penata tari kita berada di bawah. Di Jepang, Taiwan, dan Filipina, para penata tari sibuk berburu ke Barat dan kemudian repot mencari jati diri, tapi di Indonesia banyak penata tari melakukan dialog intens dengan tradisi. Pendatang baru Mugiyono misalnya, dari Sekolah Tinggi Seni Indonesia Surakarta, yang menyuguhkan Lingkar. Lima penari wanita menarikan tari bertolak dari tradisi Jawa Surakarta. Lingkar, yang menampilkan gerak-gerak erotis, membawa asosiasi kita ke Serimpi-plus: gerak, kostum, dan rias yang nyleneh dan merangsang. Lalu, Kamar Itu ditarikan sepasang penari pria-wanita dengan kostum putih-putih, dan panggung berlatar belakang kain kasa putih bersih. Ini garapan Michael N. Rotinsulu asal Sulawesi Utara. Ini sebuah awal yang baik bagi pencipta tarinya. Sungguh banyak peristiwa yang disaksikan dari Kamar Itu, yang dihuni dua pasang manusia: kasih, cinta, kemarahan, kebencian, harapan, dambaan, dan seks. Cuma awal komposisi kurang ketat, teknik penarinya masih perlu ditingkatkan. Dan, cara pengungkapan hubungan pria-wanita terlampau vulger. Tiga pendatang baru yang lain yang pantas dicatat adalah Beny Krisnawati dengan Bakutiko-nya Hartati dengan Tak Usai-nya dan L.Suryadi M. dengan Dedare-nya. Beny bertolak dari tradisi Minang. Gerak pencak-silat mendominasi gerak tiga penari pria dan dua wanita. Keseluruhan garapan terasa bersih, rapi, dan padat. Iringan musik garapan M. Halim, yang menggunakan instrumen tradisi Minang, terasa kompak. Kadang ada suasana bagurau lincah dan nakal, mengiringi gerak tubuh yang cepat, sigap, bertenaga, diselingi diam. Hartati, yang juga asal Minang, memilih berdialog dengan saluang dan seruling. Ungkapan tari dalam Tak Usai terasa rileks dan bebas. Dan bunyi yang muncul dari saluang tak terikat keminangan: sederhana, tak banyak hasrat, tapi menyentuh. Seruling tunggal juga menggarisbawahi kesederhanaan garapan L. Suryadi M. Mahasiswa Institut Kesenian Jakarta asal Nusa Tenggara Barat ini menyuguhkan gerak simpel, perlahan, tapi efektif. Inilah garapan bertolak dari tradisi Lombok, ditarikan empat penari wanita dan satu pria. Yang tak perlu lagi disebutkan tentu saja para penata tari kita yang sudah punya nama: Boi G. Sakti dan Wiwiek Sipala dari Jakarta Setyastuti dari Institut Seni Indonesia Yogya dan Ktut Suteja dari Sekolah Tinggi Seni Indonesia Denpasar. Walhasil, mampukah kita meluaskan batas pandang setelah membandingkan suguhan tamu dari delapan negara itu? Sal Murgiyanto

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Surat Dari Redaksi

Surat dari redaksi

Kolom Pembaca

Korban tabrak lari

Denda Tilang Tertinggi

Kaca Spion Dan UULLAJ

Indonesiana

Izin membangun bingung

Interkom maut

Kredit sim

Buku

Ketika dora emon menelan ramayana

Dewi dan pampasan perang

Agenda Pertunjukan

Lysistrata di samarinda

Seni Rupa

Menyerap kehidupan dengan mata batin

''yang dituju itu damai''

Ralat

Maukah

Album

Kenaikan pangkat

Guru besar

Catatan Pinggir

Di sampang

Agama

Wajah quran khas indonesia

Tari

Merentang batas pandang

DUS

Etalase jenazah di amerika

Remaja gawat di inggris

Cewek penggantung telepon di jepang

TEMPO|interaktif

9 Kesalahan Menulis Surat Lamaran

4 Cara Sehat Agar Pengeluaran Pasangan Terpisah

Nasional

Polisi Berhenti Cari Amunisi Teroris di Kampus UI

Olahraga

Mancini Tegaskan City Pantas di Puncak

Nasional

Cici Tegal Ingin Kasusnya Cepat Tuntas

Nasional

Taufiq Kiemas Minta FPI Hormati Kearifan Lokal Dayak

Nasional

Tak Mau Kecolongan, Sejumlah Penjara Ditambah CCTV

Olahraga

CAF Sumbang US$150.000 untuk Korban Tragedi Mesir

Nasional

Umar Patek Tak Dijerat Undang-Undang Terorisme

Nasional

Setara: FPI Ditolak Bukti Masyarakat Kecewa

Olahraga

Valencia Petik Kemenangan Pertama di 2012

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif