• Home
  • 18 Desember 1993
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
    • Bisnis Sepekan
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Kesehatan
    • Perilaku
  • Hukum
    • Hukum
    • Kriminalitas
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
  • Prelude
    • Surat Dari Redaksi
    • Kolom Pembaca
    • Ralat
    • Album
  • Sains
    • Lingkungan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Buku
    • Agama
  • Selingan
    • Indonesiana
    • Selingan
  • Seni
    • Seni Rupa
    • Tari
    • Seni
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
  • Arsip
  • 18 Desember 1993

    Mereka ahli waris nama besar

    ANAK-anak Bung Karnolah sebenarnya yang paling berhak memanfaatkan nama besar ayahnya. Namun, tak semuanya mengambil untung dari nama besar Bung Karno itu. Apalagi, dalam perjalanan politik Indonesia, terlekat nama besar seperti mereka itu kadang menguntungkan, tapi tak jarang justru membuat susah. Ini dialami putra-putri Bung Karno dari tiga istrinya, Fatmawati, Hartini, dan Ratna Sari Dewi. Kehidupan mereka beraneka ragam. Tak semua berminat terjun di dunia politik seperti almarhum ayahnya. Dan Bung Karno rupanya tak menyiapkan anak-anaknya menjadi politikus seperti dirinya atau bisa hidup melimpah dan serba-wah. Para anak presiden pertama Indonesia itu hidup seperti kebanyakan orang, tak ada yang istimewa. Berikut profil dan pandangan hidup tujuh anak Bung Karno dalam menghadapi dunia nyata setelah ayahnya tiada: Tak Mau Mentas di Panggung Politik Guntur Soekarnoputra, 49 tahun, anak sulung Nyonya Fatmawati Mas Tok, begitulah Guntur memanggil dirinya, disebut-sebut paling mirip dengan ayahnya, Bung Karno. Orang yang berbicara dengannya sering terkesan atas pembawaannya yang matang dan wawasan politiknya yang cukup luas. Karena itu, bekas aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) di kampusnya, ITB, itu ditunggu banyak orang untuk tampil dalam pentas politik. Sayangnya, ia sudah mengambil sikap tak mau mentas di panggung politik praktis. Semula, pada kampanye Pemilu 1971, ia dikabarkan bakal muncul memperkuat barisan PNI. Ternyata, ia dikabarkan kena cekal tampil di kampanye. Pada pemilu-pemilu berikutnya, Guntur pun tak nongol-nongol juga di hadapan massa. Padahal, pihak PDI pun mengharapkan Guntur bisa masuk dalam daftar calon anggota DPR. Dalam sebuah pertemuan keluarga di rumahnya, tahun 1982, yang dihadiri tujuh putra-putri Bung Karno, Guntur dan saudara- saudaranya malah membikin kesepakatan: putra-putri Bung Karno tak akan masuk ke dalam salah satu kekuatan sosial politik. Artinya, mereka ingin berdiri di atas semua golongan. Konsensus itu ia pegang teguh hingga kini, dengan cukup menjadi pengamat saja. ''Lebih enak menjadi pengamat, tidak terkungkung di satu tempat,'' ujarnya. Sejak Bung Karno meninggal, Guntur sibuk menjadi motor ekonomi keluarganya. Jebolan tingkat empat Fakultas Teknik ITB ini mendirikan perusahaan konstruksi, PT Dela Rohita, tahun 1973, bersama dua rekannya. Kini usahanya, yang berkantor sederhana di Kebayoran Baru, Jakarta, dan punya cabang di Bandung ini, menggarap bidang pengeboran sumur dalam dan survei geologi, di samping jasa konstruksi. ''Belum pantas diekspos karena masih kecil-kecilan,'' ujarnya kepada TEMPO. Di luar itu, ia asyik dengan kegiatannya berkebun bibit tanaman langka, mendengarkan musik, dan mendalami keterampilannya menjepret foto berkembang semenjak ia sering mengikuti kunjungan Bung Karno ke luar negeri. Penggemar masakan Jawa dan Sunda ini juga suka menulis, antara lain buku Bung Karno & Kesayangannya, 1981. Keinginannya yang belum kesampaian adalah menggelar pameran lukisan dan foto koleksi Bung Karno, yang banyak tersimpan di rumah putra-putri Bung Karno. Dan Guntur akan lebih senang diajak bicara soal koleksi foto dan lukisan itu daripada ditanyai pendapatnya mengenai perkembangan politik di Indonesia. Komitmen Keluarga Tak Mengikat Megawati Soekarnoputri, 46 tahun, anak kedua Nyonya Fatmawati Anak Bung Karno yang paling populer saat ini adalah Megawati, yang pekan lalu menjagokan diri sebagai Ketua Umum PDI. Penampilan ibu tiga anak yang lemah lembut ini semula menjadi bahan olokan pesaingnya dan juga sejumlah pejabat Pemerintah yang tak menyukainya: ''Ke DPR saja jarang-jarang. Mega lebih cocok sebagai ibu rumah tangga.'' Tapi Mega lantas menangkis semua serangan itu dengan tenang. ''Masya Allah. Apa iya saya tak ada bagus-bagusnya. Mari kita lihat bagaimana realitanya,'' katanya. Dan Mega pun segera unjuk gigi. Dalam tempo tak lebih dari empat pekan, ia mampu menyedot dukungan dari berbagai cabang. Ia juga tangkas memberikan jawaban dalam wawancara berbagai media massa. Dalam kongres pekan lalu, ia mesti menghadapi sedikitnya dua front yang berat, yakni Pemerintah dan kelompok Caretaker yang menjegalnya jadi Ketua Umum PDI. Sekembali ke Jakarta, ia segera mengadakan silaturahmi dengan ''sesepuh'' partai, penanda tangan deklarasi fusi PDI. Rumahnya yang luas, rindang, dengan kolam renangnya, di kawasan yang tenang di tengah perkampungan Jagakarsa, Jakarta Selatan baru ditempatinya beberapa bulan lalu menjadi posko para pendukungnya. Rumah yang ramai dengan suara angsa itu berdiri di atas tanah yang dibelinya belasan tahun silam, ditukar dengan mobil. Di situ pulalah Mega menerima tamu dan para simpatisannya. Mega menyadari, keterlibatannya dalam politik praktis tak didukung sepenuhnya oleh segenap keluarga Bung Karno. ''Tapi semua itu berjalan dengan pengertian asas kekeluargaan. Meskipun ada perbedaan, kami selalu dekat,'' kata Mega. Ia mau bergabung dalam PDI karena semua kekuatan politik sudah berasaskan Pancasila. ''Komitmen keluarga itu tidak mengikat lagi,'' ujarnya. Karier politik Mega diawali sebagai Wakil Ketua Cabang PDI Jakarta Pusat. Dan ketika kampanye untuk Pemilu 1987, ia mewakili Jawa Tengah massa yang hadir melimpah. Bersama suaminya, Taufik Kiemas, 50 tahun, pasangan ini menjadi anggota DPR untuk dua periode ini. Berdiri di Atas Semua Golongan Rachmawati Soekarnoputri, 43 tahun, putri ketiga Nyonya Fatmawati ''Bicaranya spontan, tanpa tedeng aling-aling.'' Itulah komentar Dicky Suprapto mengenai istrinya, Diah Pramana Rachmawati Soekarnoputri, yang dikawininya tahun 1978. Tertawanya yang lepas, gigi, bibir, hidungnya, dan juga gaya pidatonya di mimbar tanpa teks, tak salah lagi, semua itu mengingatkan pada gaya khas Bung Karno. Rachma punya kenangan mendalam tentang ayahnya justru pada saat-saat akhir sebelum presiden pertama itu meninggal. Ketika itu, sepulang kuliah di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, tiga atau empat kali seminggu, ia sering berkunjung ke tempat ayahnya dirawat. ''Saat itulah saya lebih banyak ngobrol, diskusi, atau bercanda dengan Bapak,'' katanya. Pernah Bung Karno yang sakit-sakitan di tempat tidurnya mengutarakan niatnya ingin melancong keliling Jakarta. ''Kalau perlu dengan tangan diborgol pun tak apa,'' Rachma menuturkan ucapan ayahnya, ''tapi itu tak terkabul sampai Bapak meninggal.'' Serangkaian kenangan itu kemudian ia bukukan, Bapakku, Ibuku, yang terbit tahun 1984. Untuk melestarikan nama Bung Karno, ia mendirikan Yayasan Pendidikan Soekarno, 12 tahun silam. Tak kurang dari 10 buah sekolah dasar, 10 taman kanak-kanak, serta 10 buah SMP dan SMA di bawah Yayasan Pendidikan Soekarno sudah beroperasi di berbagai daerah di Indonesia. Rachma lebih memilih berpolitik lewat dunia kebudayaan daripada lewat partai politik. ''Saya merasa gelisah jika belum melaksanakan permintaan mendiang Bapak untuk melanjutkan ajaran-ajarannya,'' ujarnya. Ia menjabat Ketua Umum Gerakan Pemuda Marhaenis. Rachma juga tak lupa menyelenggarakan peringatan wafatnya Bung Karno setiap tahun dengan acara sarasehan. Ia mengundang tokoh-tokoh di luar pemerintahan. Yayasan yang dipimpin Rachma pernah merancang berdirinya Universitas Bung Karno, di Jalan Sudirman, Jakarta. Gedung kuliah, kurikulum, dosen, dan tenaga administrasi, menurut Rachma, sudah tersedia. Ternyata, tahun 1984, ketika pihak universitas tersebut sedang sibuk menerima calon mahasiswa baru, sekitar 4.000 orang, keluar larangan Pemerintah. Dan universitas itu dibekukan hingga kini. Rachmawati termasuk pemegang teguh konsensus keluarga 1982. ''Kami harus berdiri di atas semua golongan, seperti halnya perjuangan Bung Karno, yakni persatuan untuk seluruh Indonesia,'' katanya. Maka, ia tidak setuju dengan langkah Megawati dan Guruh terjun ke politik praktis, masuk PDI. Rachma sendiri kini sibuk berbisnis konstruksi, menjadi direktur utama perusahaannya, PT Prisma Sentra Agung. Lebih Suka Membela yang Kalah Sukmawati Soekarnoputri, 42 tahun, anak keempat Nyonya Fatmawati Bertubuh ceking dan berpenampilan nyentrik, Sukma lebih dikenal sebagai seniman. Sehari-hari, lulusan Jurusan Tari Institut Kesenian Jakarta ini menyibukkan dirinya dengan melukis, menari, atau main teater. Sukma, yang suka menyendiri sembari menikmati isapan rokoknya, getol pada hal-hal yang bersifat transendental. Tak mengherankan bila lukisan- lukisannya pun berobjek misterius. Selain itu, ia juga membuat puisi dan menulis. ''Saya sering bikin naskah film, tapi belum ada produser yang cocok,'' ujarnya. Namun, Sukma juga memperhatikan masalah politik. Ketika Pemda DKI menggusur habis becak dari Jakarta tiga tahun silam, Sukma membentuk Gerakan Rakyat Marhaen dan menyerukan protes atas kebijaksanaan itu. Sayangnya, becak-becak tetap saja digusur. Sukma sendiri belum mau terjun langsung. ''Cukup di Gerakan Rakyat Marhaen saja. Saya memang bersimpati pada nasib mereka yang kalah,'' kata pengagum berat pejuang Amerika Latin Ernesto Che Guevara dan pemimpin Kuba Fidel Castro ini. Sukma menikah pertama kali ketika umurnya masih 19 tahun, dengan seorang pemain band, Deddy. Empat tahun kemudian, 1974, mereka bercerai tanpa anak. Sukma lalu menikah dengan Sujiwo Kusumo (kini G.B.P.H. Mangkunegoro). Setelah dikaruniai dua anak, pasangan ini pun bercerai. Kemudian Sukma menikah dengan Helmy Syarif, yang ditemuinya di Taman Ismail Marzuki, dan dikaruniai seorang anak. Soekarnoisme, Dalih yang Dicari-cari Guruh Sukarno Putra, 40 tahun, anak kelima Nyonya Fatmawati Langkah Megawati yang dijegal di sana-sini dalam kongres PDI itu membuat Guruh jengkel berat. Menurut bujangan yang berpenampilan manis ini, dalam organisasi politik yang terus- menerus berkonflik dibutuhkan pemersatu yang mendapat dukungan mayoritas. Megawati, kakaknya, telah memperoleh dukungan itu. ''Soal kemampuan, bisa diperoleh sambil jalan. Mungkin ia belum baik kemampuannya berpolitik dan berorganisasi, tapi ia dikehendaki sebagian besar warga PDI,'' katanya. Yang jadi masalah, Guruh mendengar, langkah penjegalan itu justru memakai alasan membendung bangkitnya Soekarnoisme. ''Apa yang menakutkan dari Soekarnoisme? Bagi saya, beliau Pancasilais sejati. Jadi, alasan penjegalan itu cuma dalih yang dicari-cari,'' ujarnya. ''Kalau hambatan-hambatan itu karena kami putra Bung Karno, itu sungguh naif. Apa artinya pemberian gelar pahlawan proklamator buat Bapak? Mengapa ia dihormati tapi juga ditakuti?'' katanya. Meski terkesan berpembawaan halus, pemimpin kelompok seni GSP ini sering mengungkapkan gagasannya dengan berani. Misalnya saja, dalam rapat pimpinan PDI, ia pernah mencalonkan diri sebagai presiden. Keberanian melawan arus ini tentu membuat PDI menghadapi dilema: antara mendukung Guruh dan ikut fraksi MPR yang lain, yakni memilih Pak Harto. Tapi, sesudah itu, namanya jarang disebut lagi, baik saat Sidang Umum MPR, Kongres PDI Medan, maupun kongres luar biasa di Surabaya itu. Apakah ia bakal kembali menyibukkan dirinya di bidang seni tari saja? ''Sebagai wujud pengabdian saya kepada negara, saya akan terus melakukan kegiatan politik. Soal apakah saya akan terlibat dalam kepengurusan PDI atau tidak, itu tidak penting,'' katanya. Tak Ada Pengistimewaan atau Skrining Khusus Bayu, 35 tahun, putra kedua Nyonya Hartini Adik almarhum Taufan ini tenggelam dalam kesibukannya sehari- hari sebagai karyawan Sekretariat Negara. Hanya dia satu- satunya anak Bung Karno yang menjadi pegawai negeri. ''Saya masuk pegawai melalui prosedur resmi. Tak ada pengistimewaan atau skrining yang berbeda dari pegawai lainnya. Dan sama sekali tak ada hambatan,'' katanya. Juni lalu, bertepatan dengan hari kelahiran Bung Karno, Bayu menikah dengan Letnan Satu Koeswidiyanti, anggota Korps Wanita Angkatan Darat. Pasangan itu masih tinggal bersama Ibu Hartini, di Jalan Proklamasi, Jakarta. Meski pernah kuliah di Jurusan Hubungan Internasional FISIP Universitas Indonesia, Bayu tak tertarik pada kegiatan politik. ''Setiap orang punya minat dan kecenderungan sendiri-sendiri. Saya tak punya niat menyusul saudara-saudara saya dalam bidang politik,'' ujarnya. Di Sekretariat Negara, Bayu menjadi staf di Biro Kerja Sama Teknik Luar Negeri. ''Bidang kerja saya sekarang justru cocok dengan hasil kuliah saya,'' katanya. Soal perkembangan politik dalam negeri misalnya ramainya dukungan buat Megawati dalam kongres luar biasa PDI di Surabaya itu Bayu mengaku tak tahu-menahu. ''Saya awam betul soal politik,'' katanya. Rupanya, Bayu tidak mewarisi bakat Bung Karno sebagai politikus dan orator unggul. ''Saya cuma ingin melakukan kerja yang terbaik di bidang saya sekarang. Itu cita- cita saya.'' Ayah Saya Bekas Presiden Indonesia Karina, 26 tahun, putri tunggal Nyonya Ratna Sari Dewi Pertemuan pertama dan terakhir dengan ayahnya hanya terjadi beberapa saat, 23 tahun silam. Setelah itu, di Rumah Sakit Angkatan Darat itu, sang ayah meninggal. Karina saat itu baru berumur 3 tahun 3 bulan. Kini, Karina telah menjadi gadis molek, tingginya 167 cm. Orang sering mengaguminya karena ia mempunyai kemiripan wajah dengan Perdana Menteri Pakistan Benazir Bhutto yang memperjuangkan demokrasi di negerinya. Karina hidup mengurus diri sendiri di distrik Setagaya, Tokyo. Alumni Jurusan Komunikasi Massa Pine Manor College Boston ini bekerja di perusahaan humas dan periklanan Cosmo Communication, Tokyo. Ia juga aktif menulis artikel di majalah wanita, menjadi komentator berita di Fuji TV, dan mewawancarai tokoh-tokoh terkenal, antara lain Presiden Tahiti Gaston Flosse, Pangeran Liechtenstein, dan Aktris Catherine Denueve. ''Saya tak mau hidup dalam bayang-bayang ibu saya,'' ujarnya. Meski hampir seluruh umurnya dihabiskan di luar Indonesia, Karina mengaku begitu rindu pada Indonesia. Karena itu, ia sangat berang bila dituding mau melepaskan kewarganegaraan Indonesianya. ''Saya lahir sebagai warga negara Indonesia. Di tubuh saya separuhnya mengalir darah orang Indonesia. Mungkin saya terpengaruh oleh budaya Barat, tapi hati saya tetap ada di Indonesia,'' katanya. Karina sangat kagum terhadap sepak terjang dua saudaranya, Megawati dan Guruh, sebagai anggota parlemen. Dan ia bakal gembira kalau Mega terpilih menjadi Ketua Umum PDI. Karina sendiri berharap suatu ketika bisa terjun di politik Indonesia. ''Kenapa tidak? Ayah saya kan bekas presiden. Namun, untuk menjadi politikus, harus mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik,'' katanya. Ketika ditemui di Yogya akhir pekan lalu, Karina juga menambahkan bahwa politik memang tak bersih, dan politikus suka mengggunakan trik tertentu untuk memenuhi ambisi pribadinya termasuk menggunakan nama besar Bung Karno. Ia merasa heran, banyak pihak seolah-olah peduli dengan nama Bung Karno. Padahal, katanya, saat Bung Karno menjelang jatuh, tak seorang pun yang peduli padanya. ''Itu tidak fair,'' katanya. Namun, ia toh maklum karena itu ada dalam kehidupan politik. ''Orang yang menggunakan nama besar bapak saya paling cuma sebentar,'' katanya. Ia juga sadar mengapa nama Soekarno tiba- tiba hidup kembali. ''Banyak orang sekarang rindu dengan kepemimpinan orang-orang besar dahulu, misalnya Mahatma Gandhi atau Soekarno,'' katanya. Selama di Yogya, Karina mengunjungi perusahaan batik milik K.R.T. Hardjonagoro, bekas penari istana dan teman dekat Soekarno. Kepada Karina, Hardjonagoro memperlihatkan lukisan cat air karya Bung Karno yang disimpannya, mengenai pantai Flores. Lukisan itu, katanya, dibuat Bung Karno ketika dibuang ke sana. Ardian Taufik Gesuri, Priyono B. Sumbogo, Wahyu Muryadi (Jakarta), R. Fadjri (Yogya), dan Seiichi Okawa (Tokyo)

    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Surat Dari Redaksi

Surat dari redaksi

Kolom Pembaca

NU dan sumbangan YDBKS.

Institut keislaman dan YDBKS

Selamat jalan, SDSB

Pariwara

Jaminan kesejahteraan hari ini dan masa depan

DUS

Cewek Jakarta kate di asia

Pernik celana dalam di Inggris

Indonesiana

Titel + gelar = heboh

Genjot ria + hadiah = bingung

Buku

Sebuah kamus, three in one

Agenda Pertunjukan

Poster-poster tim

Ralat

Duet baru selepas magrib

Tari

Naga berkepala tiga mencari asia

Seni Rupa

Patung yang tahan hujan dan panas

Catatan Pinggir

Marsinah

Agama

Upacara dengan darah?

Album

Penghargaan

Pengukuhan

Meninggal dunia

TEMPO|interaktif

Bisnis

Nusantara Infrastructure Bidik Proyek Air Bersih  

Bisnis

AirAsia Stop Rute Solo-Kuala Lumpur  

Olahraga

Arti Laga Inter Milan di Jakarta buat Cordoba  

Teknologi

Menyelamatkan Jantung Rusak dengan Sel Kulit  

Banyuwangi Tuan Rumah Jatim Travel Mart 2012  

Olahraga

Tim Thomas Indonesia Disingkirkan Jepang  

Tes Doping Piala Eropa Gunakan Taktik Militer  

Nasional

30-an Orang Tahu Identitas TrioMacan2000  

Benzema: Tanpa Rooney, Inggris Tetap Hebat

Bisnis

Melemah 98 Poin, Rupiah ke 9.358 per Dolar AS  

Bisnis

Penyatuan Zona Waktu Tingkatkan Transaksi Dagang  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif