• Home
  • 27 Oktober 1998
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Surat
    • Inovasi
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Agama
  • Seni
    • Fotografi
    • Seni
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 27 Oktober 1998

    Menyusuri Sebuah Dunia di Dalam Jakarta

    Di dalam Jakarta, ada sebuah dunia gelap. Sebuah interior, sebuah ruang di dalam rumah, gedung, dan gubuk-gubuk itu; dan ada sebuah interior di dalam tubuh warganya. Lima fotografer didikan lokakarya Galeri Foto Jurnalistik Antara (GFJA) mencoba menampilkan sebuah "dunia dalam" Jakarta melalui pameran foto Kota Kita: Interior Jakarta.

    Inilah serial pameran Kota Kita yang keempat, setelah GFJA menyajikan pameran dengan tema ini mulai tahun 1994, berjudul Kota Kita: Kota Tua Jakarta, yang menampilkan sudut-sudut tua Kota Jakarta, Kota Kita: Komunita Jakarta (1996); Kota Kita: Jakarta Bermain (1997). Setelah melakukan sebuah eksplorasi dari dunia fisik Jakarta, GFJA, di bawah pimpinan kurator Yudhi Soerjoatmodjo, bekerja sama dengan fotografer Firman Ichsan, melahirkan fotografer yang menyusuri sebuah Jakarta yang lain dari ketiga Jakarta yang pernah "ditemukan" fotografer didikan GFJA sebelumnya.

    Isi dunia di dalam rumah-gedung-gubuk Jakarta itu direkam oleh fotografer muda Maya Sofia, 27 tahun, Imelda Steffany, 25 tahun, Ali Indra Gunawan, 23 tahun, Noffal Hidayat, 24 tahun, dan Nonot Suryo Utomo, 32 tahun, dengan visi dan semangat eksplorasi yang sangat berbeda dengan para fotografer Kota Kita pendahulunya.

    Maya Sofia merekam sebuah keteduhan dari dalam sebuah masjid dalam serangkaian foto berjudul Garis-garis Cahaya Itu.... Masjid, selain sebuah tempat ibadah kaum muslim, juga menjadi pelindung bagi jiwa yang koyak dan luka. Sebuah tubuh tipis pasrah, tergeletak di bawah jendela masjid yang diterobos sinar matahari. Sebuah ujung sajadah sederhana--dengan wajah kubah masjid--tidak tampil sekadar benda fungsional untuk beribadah, tetapi seperti sebuah "penghubung" antara dunia raga dan dunia spiritual, antara kegelapan dan cahaya dan Sang Sumber Cahaya. Serangkaian foto Maya Sofia yang merupakan rekaman tentang "isi" sebuah masjid bekas bangunan Belanda. Tua, redup tetapi tetap bercahaya.

    Sentuhan dunia dalam ini juga ditemui dalam serangkaian foto karya Nonot Suryo Utomo, yang menyajikan raga yang telah menjadi abu di dalam rumah abu. Di sana bukan hanya ada dupa, abu, dan duka, tetapi gambar-gambar itu juga mengirim bau dan air mata. Melalui foto-foto itu, Nonot telah menampilkan isi sebuah rumah abu sekaligus isi hati dan duka cita mereka yang ditinggalkan.

    Interior, yang dalam kosa kata sehari-hari lebih ditujukan untuk benda-benda fungsional dalam perabotan perumahan atau hunian, dalam pameran ini berubah menjadi sebuah penjelajahan ke dalam sebuah lorong gelap dan kumuh di dalam diri manusia, warga Jakarta. Itu akan tampil dengan jelas jika kita menyusuri WC kota Jakarta, seperti yang dilakukan Noffal Hidayat. WC menunjukkan "peradaban". Dan agaknya warga Jakarta memang belum memiliki peradaban (jika hanya ditinjau dari kebersihan WC-nya). Kumpulan ratusan foto toilet itu--dari WC umum yang kumuh dan memberikan bau pesing yang sugestif hingga toilet mewah hotel berbintang--kemudian menjadi semacam sebuah kebun peradaban bagi warga Jakarta.

    Kejenakaan semacam ini juga tampil dalam karya Ali Indra Gunawan, yang mencoba menampilkan jiwa anak kos melalui foto-foto Kamar Impian. Apa yang istimewa dengan foto-foto yang "hanya" menunjukkan kamar lelaki muda yang berantakan, topi mahasiswa, setrika yang tergeletak, sebuah poster rancangan untuk berdemonstrasi, dan foto ibunda yang terpajang di temboknya? Sebuah lambang jiwa yang menggelegak, bergerak dan tetap penuh rindu pada yang teduh. Dan benda-benda itu, sebagai perwakilan interior kamar mahasiswa kos-kosan itu, akhirnya mengirim sebuah gambaran tentang jiwa yang muda. Fotografer dan obyek, sama-sama mengirim sesuatu yang segar, jujur, dan muda.

    Kejujuran itu pula yang tampil dari karya Imelda Steffany, yang mencoba menggali isi hati para pemijat buta. Mereka yang bekerja, berbicara, duduk, dan termenung dalam gelap, sembari memijat, tetap tak akan melihat cahaya--dalam arti fisik--meski ada sinar matahari yang menyelip di antara jeruji jendela. Tapi mereka menemukan "cahaya" yang berbeda dalam pekerjaan mereka sehari-hari, yang dikerjakan dengan penuh bekti: memijat.

    Mungkin kelima fotografer ini tidak melakukan sebuah pembaruan atau pendobrakan. Dan mereka memang tidak berpretensi untuk melakukan itu. Mereka juga--secara sadar atau tak sadar--tidak meletup-letup dengan sebuah ide yang kontroversial seperti lazimnya kecenderungan seniman muda yang gemar bereksperimen dan mencoba-coba. Tapi eksplorasi yang dilakukan pada bagian dalam kota Jakarta ini terasa jujur, sederhana, dan lebih menyentuh. Dan karena itu mereka menjadi (lebih) istimewa.

    Leila S. Chudori
    Poriaman (tujuh orang)
    Jakarta Keras
    Fotografer Maya Sofia Ibrahim
    eksplorasi ke dalam Jakarta
    the darkest soul of Jakarta


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Agama

Merujukkan Saudara Kandung

Catatan Pinggir

ZAHRA

Fotografi

Menyusuri Sebuah Dunia di Dalam Jakarta

Inforial

OneworldTM, Penyatuan Lima Maskapai Penerbangan Terkemuka di Dunia

BANK IFI, Berkembang dengan Kinerja yang Baik

Seminar untuk Wanita Pengusaha dari Prolene

TEMPO|interaktif

Soal Lady Gaga, Dubes AS: Artis Bebas Ekspresi

Olahraga

Stankovic Tegaskan Bertahan di Inter Milan

Nasional

Seberapa Dekat SBY dan Bos Agen Sukhoi?

Nasional

Polisi Periksa Saksi Bentrokan di Lahan PTPN II

Olahraga

Suporter Cemooh Robben, Muenchen Minta Maaf

Teknologi

Ulang Tahun Robert Moog, Ada Synthesizer di Google  

Bisnis

Dewan Minta Suplai BBM di Kalimantan Terjamin  

Olahraga

Firdasari Perpanjang Nafas Tim Uber Indonesia  

Balotelli Janji Tampil Maksimal di Euro 2012

Olahraga

Edward Wilson Incar Kaus Walter Samuel

Ifan 'Govinda' Jajal Jadi Produser Band.  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif