• Home
  • 27 Oktober 1998
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Surat
    • Inovasi
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Agama
  • Seni
    • Fotografi
    • Seni
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 27 Oktober 1998

    Politik Pangan Pasca-Fragmentasi

    Kata fragmentasi mungkin lebih tepat untuk mencerminkan tahap perkembangan atau perubahan dalam hubungan pusat-daerah seperti yang kita saksikan sekarang. Alasannya adalah karena tindakan dan keputusan yang diambil oleh pejabat di daerah akhir-akhir ini lebih merupakan pengalihan wewenang oleh strata pemerintahan yang lebih rendah, tanpa perencanaan ataupun persetujuan dari strata pemerintahan yang lebih tinggi.

    Faktor utama yang menyebabkan perubahan sikap itu adalah ketidakberdayaan pusat mengatasi krisis. Beberapa faktor lainnya adalah pola tindakan pemerintahan Habibie, kelumpuhan dunia usaha, dan merosotnya citra ABRI. Krisis bujeter turut membatasi kemampuan pusat untuk mengalirkan dana sehingga daerah terpaksa mengambil inisiatif agar dapat bertahan. Bahkan revisi APBN 1998/1999 telah ikut memudarkan citra Bappenas di mata daerah.

    Dalam pada itu, merosotnya nilai riil pendapatan resmi pegawai negeri sipil tidak memberikan pilihan lain kepada petugas di daerah kecuali meneruskan pola kerjanya yang lama. Jadi, tidaklah mengherankan apabila dana jaringan pengaman yang dirancang untuk meringankan penderitaan kelompok rakyat yang paling miskin tidak seluruhnya mencapai sasaran. Pada sisi lain, gelombang reformasi juga menimbulkan kekhawatiran pada aparat yang terbiasa menyiapkan pertanggungjawaban untuk pemakaian dana fiktif. Ada yang memilih tidak berbuat sama sekali daripada menanggung risiko ditangkap. Dalam ketidakpastian seperti ini, ketika pusat tidak lagi melindungi bawahannya di daerah, orang pusat di daerah cenderung menuruti kehendak kepala daerah daripada instansi di pusat.

    Lagi pula cara kerja pemerintahan Habibie ternyata belum berhasil memulihkan kredibilitas pusat. Kesan bahwa pusat ingin mereformasi kehidupan bernegara secara hakiki tidak terlihat, justru keinginan untuk melaksanakan business-as-usual yang muncul. Selain itu, keputusan-keputusan pusat tidak lagi utuh, bahkan terfragmentasi, bersifat ad-hoc, dan sangat jangka-pendek.

    Lihatlah kebijakan kebutuhan bahan pokok. Pusat mengubah kebijakan minyak goreng berulang kali seraya mengorbankan petani kelapa sawit untuk kepentingan distributor di kota-kota. Harga gula, kedelai, dan terigu dinaikkan terus, lebih awal dari jadwal yang sudah disepakati. Kini harga beras malah distabilkan pada tingkat yang tinggi, bertentangan dengan peringatan IMF dalam letter of intent 25 Juni 1998, yakni menjamin penyaluran pangan bagi kelompok rakyat miskin melalui Bulog. Dengan membebaskan impor beras, sistem ketahanan pangan melalui cadangan-penyangga Bulog ditinggalkan begitu saja tanpa merakit instrumen stabilisasi yang lebih canggih.

    Kendati sektor pangan semrawut, kegiatan yang paling menguntungkan tetaplah investasi di bidang pertanian, sebagaimana dibuktikan oleh petani kakao belum lama ini. Tambahan pula, gagalnya kebijakan pertanian selama lima tahun terakhir, dan kekurangmampuan antisipatif, memaksa kita mengimpor sekitar 1 juta ton gula dan 700 ribu ton kedele senilai US$ 570 juta dalam tahun ini, selain sekitar 4 juta ton terigu dan 4,5 juta ton beras.

    Serentak dengan menciutnya peran ketiga penyangga--birokrasi, dunia usaha, dan militer--kapasitas pusat mengelola pembangunan berdasarkan pola command-and-control turut merosot tajam. Kini inflasi yang tinggi telah dan akan mengubah sikap petani. Bagi mereka, komoditi ekspor yang harganya melambung jauh lebih menarik ketimbang padi, yang dulu memberikan penghasilan memadai.

    Kini sukar diharapkan bahwa petani, yang selama ini dianggap lugu, mau diperintah agar terus menanam padi. Apalagi kalau disadari bahwa perlawanan atas ketidakadilan tidak berhenti pada amok sesaat, tapi masih terus berlanjut. Di berbagai tempat warga desa beramai-ramai menduduki lahan yang dulu diambil atau terpaksa mereka jual dengan harga murah. Peternakan Tapos milik mantan Presiden Soeharto pun turut dipatok oleh petani setempat.

    Dalam masa krisis ini juga, kemampuan pusat untuk menanggung kebutuhan petani rupanya terbatas hanya pada subsidi pupuk. Keterbatasan ini menimbulkan kevakuman dalam pelayanan kebutuhan petani lainnya, seperti kredit, bibit, penyuluhan teknologi dan kelembagaan yang efektif, infrastruktur yang memadai, dan pasar yang lebih adil. Kevakuman ini kelak mungkin akan diisi oleh pihak swasta pasca-fragmentasi.

    Tak banyak yang bisa dilakukan pemerintah pusat kecuali bersikap proaktif menghadapi perubahan itu dengan mengambil langkah seperti 1) membagikan lahan perkebunan besar kepada buruh perkebunan dan petani setempat, 2) menderegulasi semua sarana pendukung pertanian tanpa melepaskan kemampuan regulasi dan sertifikasi, 3) memberikan keleluasan bagi petani untuk membangun, mengelola, dan mengawasai koperasinya secara mandiri, termasuk mengelola lumbung desa, dan 4) menugasi koperasi petani untuk turut menyusun dan mengawasi program-kerja balai-balai penelitian dan penyuluhan setempat agar lebih menjamin keberhasilan pertanian yang berkelanjutan di daerahnya.

    Dalam situasi seperti sekarang, ternyata kekuatan ekonomilah yang lebih menentukan pola hubungan pusat dan daerah. Karena itu, profil pertanian pascafragmentasi tidak akan sama dengan sosok pertanian di masa prakrisis.

    Tapi akan bagaimana nasib pertanian di republik ini kelak, sulit diperkirakan. Hanya, ada beberapa pertanyaan yang sangat memerlukan jawaban, sebelum kita merancang kebijakan pertanian dan pangan yang efektif. Setidaknya ada tiga pertanyaan, yaitu: 1) Bagaimana lembaga yang didesain dan dikelola secara terpusat selama ini akan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan yang jauh lebih terdesentralisasi? 2) Lembaga baru seperti apa yang akan muncul kelak? 3) Bagaimana memadukan desentralisasi dengan kemampuan untuk meraih tingkat perekonomian yang mampu menopang pertanian masa depan? Andaikata pemerintahan Habibie dapat lebih bijak menangani tiga masalah tersebut, sikap itu saja sudah merupakan permulaan yang baik. Tapi, kalau dari awal sudah memandang enteng sektor pertanian, cepat atau lambat perekonomian kita akan porak-poranda.

    H.S. Dillon


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Agama

Merujukkan Saudara Kandung

Catatan Pinggir

ZAHRA

Fotografi

Menyusuri Sebuah Dunia di Dalam Jakarta

Inforial

OneworldTM, Penyatuan Lima Maskapai Penerbangan Terkemuka di Dunia

BANK IFI, Berkembang dengan Kinerja yang Baik

Seminar untuk Wanita Pengusaha dari Prolene

TEMPO|interaktif

Soal Lady Gaga, Dubes AS: Artis Bebas Ekspresi

Olahraga

Stankovic Tegaskan Bertahan di Inter Milan  

Nasional

Seberapa Dekat SBY dan Bos Agen Sukhoi?

Nasional

Polisi Periksa Saksi Bentrokan di Lahan PTPN II

Olahraga

Suporter Cemooh Robben, Muenchen Minta Maaf

Teknologi

Ulang Tahun Robert Moog, Ada Synthesizer di Google  

Bisnis

Dewan Minta Suplai BBM di Kalimantan Terjamin  

Olahraga

Firdasari Perpanjang Nafas Tim Uber Indonesia  

Balotelli Janji Tampil Maksimal di Euro 2012

Olahraga

Edward Wilson Incar Kaus Walter Samuel

Ifan 'Govinda' Jajal Jadi Produser Band.  

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif