K.H. HASAN BASRI, 78 tahun, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang memimpin lembaga ini sejak 1985 sampai akhir hayatnya, meninggal dunia Ahad lalu. Kepemimpinan K.H. Hasan Basri dianggap tak setegas masa Buya Hamka. Di bawah kepemimpinannya juga, MUI sempat disibukkan oleh kasus jilbab dan ia pernah mengeluarkan fatwa tentang label "halal" bagi produk makanan untuk umat Islam.
Hasan Basri lahir dari keluarga muslim yang taat di Muarateweh, Kalimantan Tengah. Imam Besar Masjid Al Azhar itu dikenal sebagai khatib yang mahir. Bila berkhotbah, ia tak pernah menggunakan teks. Ia juga menjabat penasihat Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia dan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia. Pernah menjalani operasi jantung di Melbourne, bapak mertua dari Menteri Transmigrasi Fahmi Idris ini ternyata juga menderita kanker lever. Tapi penyakit ini baru terdeteksi dua bulan lalu. Almarhum meninggalkan 4 orang anak, 11 cucu, dan 5 cicit.
Cerita pendeknya dimuat di Mimbar Indonesia, Horison, Dewan Sastra (Kuala Lumpur), serta Kompas dan Sinar Harapan. Sajak-sajaknya terangkum dalam Terminal (1971), Kristal (1973), dan Kuala (1975). Sempat menerjemahkan novel karya Anton P. Chekov berjudul Cinta Seorang Lelaki (dari Three Years), perokok berat ini juga menerjemahkan komedi pendek Bahayanya Tembakau (dari buku The Smoking is Bad for You). Bang Jack juga menulis buku Haji Akbar (1987), yang merekam pengalamannya selama melaksanakan ibadah haji.
Prof. Dr. W.F. Wertheim, sosiolog Belanda yang banyak menulis soal Indonesia, meninggal dunia dalam usia 91 tahun di Wageningen, Belanda, 2 November lalu. Buku-bukunya seperti Indonesian Society in Transition (1956), East West Parallels (1964), Elite en Massa (1975), dan De lange mars der emancipatie (1977) sudah menjadi semacam "buku wajib" bagi peminat pengkajian masyarakat Indonesia. Wertheim, keturunan Yahudi yang kelahiran Rusia ini, dikenal simpati kepada gerakan nasionalisme di Hindia Belanda setelah ia membaca Max Havelaar karya Multatuli. Akibatnya, mantan guru besar di Sekolah Tinggi Hukum di Batavia (Jakarta) ini sangat antikolonialisme. Tapi rezim Orde Baru menganggapnya telah kehilangan ketajaman analisis gara-gara tulisannya yang dianggap terlalu membela PKI dalam peristiwa G30S tahun 1965. Kondisi ini makin parah setelah Wertheim memberikan Hadiah Wertheim kepada Pramoedya Ananta Toer pada 1995.
H.M. Enun Tile, pemeran Engkong di sinetron Si Doel Anak Sekolahan, wafat 3 November lalu. Seniman lenong Betawi itu mengembuskan napas terakhir pada usia 67 tahun di Jakarta. Nama Pak Tile mulai dikenal luas setelah membintangi film pertamanya, Cintaku di Rumah Susun, arahan Sutradara Nya Abbas Akup.
Dunia pantomim Indonesia akan makin kesepian setelah Sena Utoyo, 45 tahun, meninggal pada 7 November lalu. Bersama dengan Didi Petet dan Jemek Supardi, Sena adalah sedikit dari seniman yang serius menggiati seni olah tubuh ini.
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.
