Menurut H. Nartono Kadri dari bagian ilmu kesehatan anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, hypothermia lebih banyak dialami bayi berusia 0-1 tahun yang lahir prematur karena pertahanan dirinya relatif kurang baik. Dan boleh dibilang sebagian besar bayi yang lahir di bawah berat 1.500 gram meninggal karena hypothermia.
Hypothermia sebenarnya dapat dihindari dengan membuat lingkungan bayi cukup hangat. Di rumah sakit yang sarananya memungkinkan, bayi cukup dimasukkan ke dalam inkubator. Tapi, kalau kondisi tidak memungkinkan--misalnya pada kasus kelahiran di pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) yang peralatannya jauh dari memadai--usahakan agar bayi jangan sampai kedinginan. Caranya bisa memakai selimut atau menempatkan botol-botol yang hangat di sekitarnya. Botol itu dibungkus rapat dengan bahan yang bisa menahan panas, misalnya aluminium foil. Dan ruangannya juga jangan memakai penyejuk udara (AC).
Sebenarnya ada cara yang lebih murah dan mudah. Tak perlu perlengkapan apa-apa selain kehangatan badan ibu. Metode yang dikenal sebagai kangaroo care itu kini dipopulerkan lagi oleh UNICEF ke seluruh dunia--dan agaknya cocok buat negara yang sedang dilanda krisis ekonomi. Metode itu mirip dengan cara kanguru menyimpan anaknya dalam kantong. Jadi, tubuh bayi yang telanjang ditempelkan ke dada ibunya sehingga kulit bayi bertemu dengan kulit ibunya, lalu ditutup dengan selendang atau kaus. Lewat metode yang pertama kali diperkenalkan di Kolombia, Amerika Selatan, pada pertengahan 1980-an ini, panas dari ibu tersalur ke bayinya, sehingga suhu normal pun tercapai.
Metode ini tergolong aman karena bayi terhindar dari kemungkinan panas terlalu tinggi seperti yang dialami bila memakai inkubator. Bila suhu bayi mencapai lebih dari 37 derajat, tubuh ibunya akan menyerap kelebihan panas ini. Hasilnya memang ampuh. Menurut penelitian terbaru di University Teaching Hospital di Lusaka, Zambia, seperti dikutip Guardian News Service pertengahan Oktober lalu, dari 40 bayi yang terkena hypothermia, 90 persen berhasil mencapai suhu normal dalam waktu empat jam di pelukan ibunya. Sedangkan dari 40 bayi lain yang mengalami kasus sama tapi dimasukkan ke inkubator, hanya 60 persen yang mampu mencapai suhu normal.
Beberapa rumah sakit di Indonesia, di antaranya di Yogyakarta dan Bandung, juga sudah mencoba metode ini sejak 1996. Karena rumah sakit, terutama di desa, jarang yang punya fasilitas mesin pemanas (inkubator), metode kanguru merupakan suatu alternatif yang tepat guna.
Tapi, menurut Dokter Samhari Baswedan, M.P.A., programme officer of health and planning UNICEF Indonesia, kangaroo care biasanya hanya dipakai untuk kasus bayi yang sehat. Artinya, bayi baru lahir yang bobotnya kecil karena prematur tapi sehat, misalnya, bisa langsung dirawat dengan kangaroo care. Namun, pada kasus bayi sakit, UNICEF tetap menyarankan cara penanganan yang berbeda.
Wicaksono, Agus Hidayat
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.
