Tetapi, apa boleh buat, dengan situasi politik yang memanas di Kuala Lumpur semenjak pemecatan Wakil Perdana Menteri dan Menteri Keuangan Anwar Ibrahim, Mahathir kemudian menjadi tokoh antagonis dalam drama politik ini. Drama politik Malaysia, yang selama ini dianggap "masalah dalam negeri", ternyata dalam forum APEC menjadi sebuah persoalan internasional yang menghebohkan.
Drama ini dimulai dari ancaman Mahathir beberapa hari sebelum KTT APEC dimulai, agar masyarakat tidak melakukan aksi unjuk rasa selama berlangsungnya pertemuan itu. Maklum, forum kerja sama ekonomi negara-negara Asia Pasifik yang berlangsung dua hari itu dihadiri oleh 21 kepala negara dan tentu saja acara ini prestisius bagi Mahathir. Tapi ancaman tinggal ancaman. Aksi demonstrasi pendukung Anwar terjadi hampir tiap hari menjelang konferensi APEC. Demonstrasi pada Minggu pekan lalu, misalnya, diikuti sekitar 200 peserta di Kuala Lumpur, dengan harapan meraih dukungan internasional.
Bak gayung bersambut, sehari setelah aksi demonstrasi itu Wakil Presiden Amerika Serikat, Al Gore, memicu "pertengkaran politik" dengan pemerintah Malaysia. Dalam jamuan makan malam untuk pemimpin ekonomi APEC Senin pekan lalu, Gore dengan provokatif mengutip kata "reformasi" yang selama ini merepotkan tuan rumah Mahathir. "Kami terus mendengarkan seruan untuk demokrasi, seruan untuk reformasi dalam banyak bahasa..., kami mendengarkan kata-kata itu hari ini di antara orang-orang Malaysia yang berani," ujar Al Gore dalam pidato sambutannya. Tak ada sambutan tepuk tangan untuk Gore dari arena perjamuan itu. Tetapi ada tepukan meriah dari para pendukung Anwar di jalan-jalan Kuala Lumpur. Inilah pertama kali pertemuan APEC, yang sudah diselenggarakan 10 kali sejak didirikan tahun 1989, direcoki dengan isu politik. Selama ini 21 negara anggotanya hanya mempertengkarkan soal liberalisasi perdagangan.
"Saya tak pernah melihat seorang yang begitu kasar," ujar Mahathir. Rasa malu sang tuan rumah sebetulnya sudah dimulai jauh hari sebelum APEC dimulai. Tanda-tanda pertemuan ini akan ramai dengan isu politik sudah tampak jauh sebelumnya, ketika Estrada dan Habibie setuju untuk bertemu dengan Nurul Izzah, putri Anwar Ibrahim, untuk mendengarkan problem politik yang dihadapi ayahnya. Kemudian Presiden AS Bill Clinton dan PM Kanada, Jean Chretien, mengisyaratkan tak akan menemui Mahathir dalam pertemuan bilateral sebagaimana lazimnya pertemuan APEC. AS memang sudah lama merasa gerah terhadap Mahathir, yang cenderung anti-Barat dan pada dasarnya tidak suka gagasan forum APEC. Kasus Anwar Ibrahim semakin menambah ketidaksukaan Clinton terhadap Mahathir, sehingga akhirnya Clinton urung hadir, meski dengan alasan sibuk mengurus krisis Irak. Akibatnya, 89 kamar Hotel The Renaissance yang sudah dipesan untuk delegasi Clinton kosong melompong. Mahathir secepat kilat memesan satu baju batik tulis Malaysia khusus untuk Wakil Presiden AS Al Gore seharga US$ 160. Tapi Al Gore yang menggantikan Clinton justru mempermalukan Mahathir. Gaya Al Gore itu sebetulnya setali tiga uang dengan penampilan Clinton di Beijing pada Juli lalu, ketika ia mengecam catatan buruk tentang hak asasi manusia pemerintah Cina, pada konverensi pers televisi dengan Presiden Jiang Zemin.
Mahathir boleh saja berlagak gagah dengan semua kecaman ini, tapi pejabat Malaysia menunjukkan suasana hati Mahathir yang sebenarnya. "Itu pidato yang paling menjijikkan yang pernah saya dengar selama hidup," tutur Rafidah Aziz, Menteri Perdagangan Internasional dan Industri Malaysia. Sedangkan Menlu Malaysia, Abdullah Ahmad Badawi, berujar bahwa pernyataan Al Gore justru mempertaruhkan proses demokratisasi di Malaysia.
Tak aneh bila kecaman juga datang dari negara lain yang sepakat bahwa pernyataan Gore sudah keluar garis dengan membawa isu politik ke dalam forum ekonomi. "Masalah politik sebaiknya dikemukakan dalam pertemuan bilateral daripada menggunakan forum ekonomi regional," ujar PM Singapura Goh Chok Tong. Bahkan PM Selandia Baru, Jenny Shipley, khawatir "diplomasi megafon" Gore akan mengancam APEC. Menurut Shipley, cara terbaik menolong Anwar Ibrahim adalah bicara langsung dengan pemerintah Malaysia. Maka ia pun tak keberatan mengadakan pertemuan bilateral dengan Mahathir dan memutuskan tidak menemui Wan Azizah. Hasilnya, "Pemerintah Malaysia memberi jaminan bahwa Anwar akan mendapat peradilan yang jujur," ujar Shipley usai bertemu dengan Mahathir.
Belum selesai adegan drama dari Al Gore, Presiden Filipina Joseph Estrada, yang mendukung pernyataan Al Gore, mengundang Wan Azizah, istri Anwar Ibrahim, untuk bertemu dengannya.
Adapun sikap Australia agak mendua. PM John Howard menolak ikut-ikutan menghina Mahathir, tetapi Menlu Alexander Downer menemui Wan Azizah.
Menlu AS Madeleine Albright bertindak lebih jauh lagi. Ia tak cukup hanya bertemu dengan Wan Azizah selama 30 menit, tapi juga menciptakan "pertengkaran politik" dengan Menteri Rafidah Aziz. Pertengkaran ini dipicu oleh pertanyaan wartawan dalam jumpa pers para menteri APEC tentang sikap Amerika terhadap kasus Anwar. Sembari menyinggung penolakan pemerintah Malaysia atas permintaan Albright untuk menemui Anwar, Albright mengecam perlakuan buruk pemerintah terhadap tokoh sekaliber Anwar Ibrahim. Jawaban itu tentu saja membuat merah telinga Rafidah Aziz, yang memandu konferensi pers itu, sampai ia menyatakan ingin bertemu dengan Kenneth Starr, jaksa independen yang mengungkap aib Presiden Clinton.
Akankah "diplomasi megafon" ala Gore ini menguntungkan gerakan reformasi di Malaysia? "Pidato Al Gore mungkin justru memberikan amunisi bagi Mahathir untuk mendiskreditkan gerakan reformasi, bahwa gerakan reformasi disponsori Amerika," kata Chandra Muzaffar, guru besar ilmu politik Universitas Malaya. Harap maklum, sikap anti-Barat memang sudah lama dipupuk Mahathir di kalangan rakyat Malaysia. Dan "Asian Drama" ini belum lagi berakhir.
Leila S. Chudori dan R. Fadjri (Sumber: Reuters dan Associated Press)
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.
