• Home
  • 01 Desember 1998
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Perilaku
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Surat
    • Inovasi
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Agama
  • Seni
    • Seni
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 01 Desember 1998

    Tak Masalah, Presiden Perempuan

    KETIKA udara kehidupan diwarnai kekerasan, wanita yang menghaluskan. Itulah pesan yang tersirat ketika lima ratus perempuan menggelar unjuk rasa di bundaran Jalan Thamrin, Jakarta, 25 November lalu. "Serahkan kepemimpinan kepada perempuan karena dia adalah ibu yang menjaga kehidupan," seorang demonstran berujar.

    Persoalan kepemimpinanboleh tidaknyaoleh perempuan, sampai hari ini masih terus bergulir menjadi perdebatan. Meski kepemimpinan dalam masyarakat modern merupakan diskursus ketatanegaraan, tapi di Indonesiadengan masyarakatnya yang menyerap nilai-nilai agama untuk aktualisasi persepsisoal kepemimpinan juga dilihat dari nilai-nilai keagamaan.

    Dalam tataran praktek, kemunculan figur politik Megawati, Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, sekali lagi memancing perbincangan itu. Kalangan Islam konser-vatif terdengar menolak kepemimpinan wanita. Awal November lalu, misalnya, sebagian ulama dalam Kongres Umat Islam tidak merekomendasikan wanita menjadi presiden atau wakilnya. Memang, pemahaman klasik terhadap teks Alquran memosisikan wanita subordinatif terhadap pria.

    Namun, kalangan yang lebih moderat bisa menerima perempuan sebagai pemimpin. Misalnya, sejumlah cendekiawan muslim seperti Prof. Dr. Quraish Shihab, Dr. Azyumardi Azra, dan Dr. Said Aqiel Siradj. Ketiganya, dalam seminar "Kepemimpinan Perempuan dalam Islam" yang diselenggarakan Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) di Jakarta, Rabu lalu, menyimpulkan bahwa kepemimpinan perempuan tak perlu dipersoalkan. Islam, menurut mereka, menempatkan perempuan dan laki-laki dalam kesetaraan. Landasan pemilihan pemimpin bukan berdasarkan gender, tapi pada kemaslahatan (kebaikan) bagi masyarakat. Jadi, tak masalah perempuan menjadi presiden.

    Dalam Islam, masalah boleh tidaknya perempuan menjadi pemimpin hanyalah persoalan penafsiran, khususnya menyangkut ayat Alquran 4:34 yang penggalannya berbunyi, "Arrijaalu qawwaamuuna 'alaa an-nisaa" (laki-laki adalah pemimpin atas perempuan). Banyak ulama yang menafsirkan ayat itu sebagai larangan bagi wanita untuk menjadi pemimpin publik, tapi yang lain (moderat) berpendapat ayat itu terbatas untuk urusan domestik atau hubungan suami-istri.

    Alquran sendiri cenderung netral dalam hal ini dan memandang posisi pria dan wanita setara. Perbedaan tafsir tersebut terjadi karena perbedaan latar belakang tradisi pemikiran, kelas sosial ekonomi, dan latar belakang gender si penafsir. Penafsiran yang menempatkan wanita sebagai subordinat laki-laki, menurut Prof. Azyumardi, muncul sejak abad ke-2 Hijriah. Karena budaya Arab didominasi laki-laki, terjadilah bias kultural dalam penafsiran. "Di negara yang secara kultural Arab, perempuan memang hanya makhluk domestik, " kata Prof. Azyumardi.

    Penafsiran yang diwarnai bias kultural tersebut masih banyak dianut oleh kalangan ulama konservatif di Indonesia. Namun, waktu berlalu. Sejarah berganti. Fatima Mernissi, profesor sosiologi di Universitas Muhammad V, Maroko, membongkar bias kultural tersebut lewat sudut pandang seorang feminis. Lewat rekonstruksi sejarah, Fatima menemukan pelembagaan hijab (kain penutup) sebagai kunci kesalahannya.

    Pada mulanya, hijab dipakai untuk membatasi ruang privat Nabi Muhammad dan istrinya dari gangguan. Waktu itu, kaum munafik mengincar wanita muslim untuk menjatuhkan Islam. Namun, hijab kemudian dipakai untuk membatasi perempuansekarang masih terasaberkiprah dalam ruang publik, termasuk politik.

    Mengingat Alquran dan hadis tidak tegas-tegas melarang wanita menjadi pemimpin, Masdar F. Mas'udi, Direktur P3M, menyarankan agar prinsip usul fikih istislahmemilih yang lebih memberi kebaikandipakai. Jika seorang pemimpin yang ideal mampu memadukan kualitas maskulinitas (kuat, tegas, dan melindungi) dan femininitas (lembut, penuh kasih, dan menjaga kehidupan), menurut Azyumardi, soal gender tak relevan. Yang penting kualitasnya, Bung.

    Kelik M. Nugroho, Setiyardi, Agus S. Riyanto


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Agama

Tak Masalah, Presiden Perempuan

Tak Masalah, Presiden Perempuan

Catatan Pinggir

Nurul

Nurul

Inforial

Inforial

TEMPO|interaktif

Garuda Diskon 10 Persen untuk Tamu Accor Group

Olahraga

Balotelli Bahagia di Manchester City  

Seni & Hiburan

Lady Gaga: Saya Menghormati Semua Agama dan Budaya

Seni & Hiburan

Begini Promotor Lady Gaga Gelar Konser di Jakarta

Nasional

Grasi untuk Corby, SBY Dikecam

Otomotif

Uji Converter Kit, Nissan Serahkan Evalia ke UGM

Nasional

Grasi Corby, Australia Diminta Bersikap Adil

Syarat Gelar Konser Lady Gaga Belum Lengkap?

Nasional

Hari Ini, Andi Mallarangeng Diperiksa KPK

Konser Lady Gaga Sudah Dapat Restu Pemerintah

Jenazah Pramugari Korban Sukhoi

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif