Ekonomi dan Bisnis

O, Bunga, Kapan Turunnya

Dalam sebulan terakhir, suku bunga sertifikat Bank Indonesia anjlok 11 persen. Benarkah suku bunga bisa terus ditekan? Bagaimana mestinya mengelola simpanan deposito?
Suatu siang, sebuah telepon tiba-tiba nyelonong ke Redaksi. Bukan berita besar, cuma pertanyaan yang kedengarannya sepele. Di seberang, seorang ibu mengeluh, suku bunga depositonya merosot. Biasanya 4 persen, kini cuma mendapat 3,7 persen sebulan. Si ibu bingung: mau ditaruh ke mana itu simpanan? Dipindah ke bank lain? Disusun kembali masa jatuh temponya? Atau dicairkan saja untuk memborong dolar yang kini makin murah?

Agaknya, bukan cuma ibu rumah tangga tadi yang sulit menjawab pertanyaan sepele itu, ribuan orang lain menghadapi soal yang sama. Kalaupun tetap diperam dalam deposito rupiah, mesti memilih masa jatuh tempo berapa lama? Sebulan? Tiga? Atau langsung setahun?

Dalam hampir tiga bulan terakhir, suku bunga rupiah?yang dicerminkan oleh tingkat suku bunga sertifikat Bank Indonesia alias SBI?terus merosot dengan deras. Tiga bulan lalu, bunga SBI (satu bulan) tertahan pada 71 persen per tahun. Tapi kini (hasil lelang terakhir, 2 Desember lalu) tinggal 42 persen. Dalam sebulan terakhir ini saja, suku bunga SBI (satu bulan) sudah turun 11 persen lebih.

SBI merupakan simpanan bank-bank komersial di bank sentral. Bunga SBI adalah premi yang dibayar bank sentral atas "deposito" bank-bank itu. SBI dipakai sebagai alat penyedot rupiah yang beredar. Kalau rupiah dinilai sudah terlalu banyak (sehingga bisa menurunkan nilai tukar rupiah atau mempercepat laju inflasi), bank sentral akan memperkuat alat sedotnya. Karena itu, suku bunga SBI bisa menjadi semacam patokan. Ia akan menentukan tingkat suku bunga yang lain: bunga deposito, kredit, dan akhirnya bunga pinjaman antarbank alias interbank call-money.

Rentetan turunnya suku bunga bisa dimulai dari SBI. Begitu bunga SBI turun, Bank Indonesia juga menurunkan suku bunga deposito yang dijamin pemerintah. Patut diingat, sejak Januari lalu, pemerintah menggaransi semua kewajiban bank, termasuk kepada masyarakat. Ada syaratnya: tingkat bunga yang dijamin dibatasi. Nah, sejak pekan lalu, BI menjamin deposito dengan bunga maksimal 46 persen, dari sebelumnya 49 persen. Penurunan ini memaksa bank menurunkan suku bunga depositonya.

Persoalannya, apakah suku bunga rupiah bisa terus ditekan. Direktur Bank Indonesia, Miranda Goeltom, yakin, melihat pelbagai indikator ekonomi makro yang ada, tingkat suku bunga bisa terus diturunkan. Ia memberi ancar-ancar, akhir tahun nanti suku bunga SBI bisa turun sampai 37 persen. Tiga bulan kemudian, Maret nanti, akan merosot lagi sampai 30 persen. Jika SBI sampai tingkat ini, suku bunga kredit dipangkas jadi 35 persen. Pada titik inilah, Miranda menaksir, dunia usaha bisa kembali bergulir.

Tapi begitu gampangkah? Tampaknya ada banyak hal yang harus diperhatikan Miranda. Suku bunga rupiah sangat bergantung pada kekuatan nilai tukar. Jika rupiah kembali diserbu dan rontok, cita-cita untuk menurunkan suku bunga tak mungkin terkabul. Kenaikan harga dolar akan mengerek harga-harga. Dan pada masa krisis seperti sekarang, laju kenaikan harga alias inflasi ini cuma bisa direm dengan menyedot rupiah beredar dan menaikkan suku bunga.

Harus diakui, kendati terlihat perkasa, rupiah masih rentan, gampang tergoyang. Nilai tukar rupiah, untuk sementara, bisa dipertahankan bukan karena landasan ekonomi kita yang oke, tapi lantaran ada sejumlah faktor di luar fundamental yang kebetulan sama-sama ikut menyokong rupiah. Misalnya, pasar perdagangan valuta asing kini sedang sepi pengunjung. Pada pengujung tahun seperti sekarang, para petualang uang sedang reses, mau liburan.

Selain itu, memang ada upaya-upaya internasional untuk melemahkan nilai dolar. Ini dilakukan agar resesi yang sudah mengepung Asia, sebagian Eropa, dan Amerika Latin itu tak melanda industri keuangan dunia dalam bentuk resesi global. Akibatnya, harga dolar di pasar valas internasional?termasuk terhadap rupiah?anjlok.

Tambahan lagi: pencairan utang luar negeri bagi Indonesia lancar-lancar saja. Akibatnya, bank sentral punya banyak amunisi dolar untuk melayani para petualang uang. Hasilnya: kita semua bisa melihat, nilai tukar rupiah memang terlihat anteng, bergeming menghadapi penurunan suku bunga (lihat grafik).

Tapi itu bukan berarti rupiah aman sentosa. Lihatlah, harapan pasar terhadap rupiah begitu rapuh. Ini bisa ditunjukkan dari tingginya ongkos (bunga) yang harus dibayar jika kita ingin membeli dolar di masa datang tapi dengan harga sekarang (forward). Menurut seorang pemain pasar uang, premium untuk kontrak forward (disebut juga sebagai premium swap) kini sampai 36 persen setahun. Maksudnya, untuk membeli dolar bulan depan pada harga Rp 7.500 seperti saat ini, orang harus membayar premi 3 persen atau sekitar 36 persen dalam setahun. Artinya, rupiah "diramalkan" akan terdepresiasi sekitar 36 persen.

Nah, dengan penurunan nilai tukar setinggi itu, tak mungkin membiarkan suku bunga rupiah ditekan lebih rendah. Untuk mengimbangi depresiasi 36 persen, suku bunga rupiah setidaknya harus dipertahankan pada 41 persen.

Persoalannya, adakah premium swap memang bisa dijadikan indikator. Tampaknya tidak selalu. Soalnya, jumlah transaksi forward tak signifikan. Menurut Pardy Kendy, Direktur Treasury Bank Buana, nilai harian transaksi swap kini cuma US$ 100 juta atau seperlima dari transaksi swap pada enam bulan pertama masa krisis (Agustus 1997 hingga Februari 1998).

Kecilnya nilai transaksi forward ini mestinya juga menunjukkan tingkat kepercayaan orang terhadap rupiah. Biasanya kontrak forward dilakukan untuk melindungi aset dari gejolak kurs. Tipisnya transaksi forward ini mencerminkan pasar telah percaya pada kestabilan rupiah sehingga tak merasa perlu melindungi asetnya dari gejolak kurs.

Selain melalui premium swap, pergerakan suku bunga bisa "diramal" dari target inflasi. Menurut target pemerintah, inflasi Indonesia tahun depan bisa ditekan hingga hanya 10 persen. Tapi bisakah? Menurut perhitungan ekonom Sri Mulyani Indrawati, inflasi tak mungkin ditekan sebegitu rendah jika bunga bank tetap dijaga pada 40 persen. Indonesia, kata Direktur LPEM itu, mungkin saja bisa habis-habisan memerangi inflasi. Tapi untuk itu suku bunga harus dikerek tinggi-tinggi sehingga mencekik jumlah uang yang beredar.

Soal membludaknya uang beredar inilah yang tampaknya bisa menjadi pengganjal potensial bagi turunnya suku bunga. Lihat saja. Target dana yang disedot melalui penjualan sertifikat Bank Indonesia makin lama makin diturunkan. Biasanya, SBI menyedot 75-95 persen dari dana yang ditawarkan, tapi kini cuma 60 persen. Bahkan, Rabu pekan lalu, untuk pertama kalinya, bank sentral cuma menyedot kurang dari 60 persen dana yang ditawarkan perbankan.

Lemahnya dana sedot SBI tentu saja akan melambungkan jumlah rupiah yang beredar di pasar bebas. Dalam dua pekan terakhir, ada sekitar Rp 14 triliun dana yang batal menclok ke SBI. Jika dana ini dilarikan lagi ke perbankan (dimasukkan sebagai deposito atau dibelikan SBI), mungkin saja tak akan banyak menimbulkan masalah. Efeknya, mungkin saja malah bisa membantu menurunkan suku bunga.

Tapi bagaimana jika duit yang gentayangan ini dipakai untuk spekulasi dolar? Atau dibelanjakan sehingga menggenjot inflasi?

Ini belum memperhitungkan ekses dari program-program pemerintah yang ingin terus-menerus menyuntik perekonomian dengan likuiditas. Belakangan ini ada sejumlah program, seperti subsidi, jaring pengaman sosial, untuk memperbesar belanja pemerintah. Pelbagai injeksi ini dimaksudkan untuk membuat perekonomian sedikit beringsut. Soalnya, sektor swasta, yang biasanya menjadi mesin perekonomian, sedang mogok tak punya duit.

Ini semua akan memperbesar jumlah uang beredar dan pada akhirnya bisa mengerek inflasi terbang ke langit seperti balon gas. Dengan inflasi yang begitu tinggi, suku bunga tak mungkin dibiarkan rendah.

Jadi, berapa suku bunga tahun depan? Terus terang, tak bisa dijawab dengan tegas saat ini. Banyak faktor yang akan mempengaruhinya. Tapi, sumber-sumber TEMPO berani bertaruh, jika inflasi akan ditekan sampai 10 persen, suku bunga mustahil bisa diseret di bawah 40 persen.

Dwi Setyo