• Home
  • 01 Desember 1998
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Olahraga
    • Perilaku
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Surat
    • Inovasi
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Agama
  • Seni
    • Seni
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 01 Desember 1998

    Langkanya Guru Autisme

    SEPULUH ruangan berderet, berukuran dua kali tiga setengah meter. Di dalam setiap ruangan ada meja dan dua kursi kecil. Tampak beberapa boneka kayu dan mainan plastik. Suasananya cerah, mirip di sekolah taman kanak-kanak, tapi bukan ruangan kelas yang biasa kita kenal. Kegiatan yang berlangsung di situ juga bukan aktivitas belajar yang lazim terjadi di sekolah umum.

    Di salah satu ruangan, seorang bocah, Haikal, 4 tahun, duduk di kursi. Di depannya, duduk seorang wanita guru terapi komunikasi yang kelihatan serius mengajari Haikal. Anak itu dikenalkan pada berbagai konsep warna. Ketajaman indera pendengaran, gerakan tubuh, dan kelancaran bicaranya dilatih.

    "Haikal, tos atas. Tos bawah," ujar guru berkerudung itu. Setelah sang guru mengangkat kedua tangannya, Haikal juga mengangkat dua tangannya. Plok. Tos dua tangan kedua orang itu pun bersambut sebagai isyarat keakraban.

    Ketika melihat Haikal mulai bersikap acuh tak acuh, sang guru kembali menyapanya, "Duduk manis, Anak Pintar," tuturnya. Dia kemudian meminta Haikal mengenali warna, dengan menyuruhnya mengambil kartu biru.

    Ada beberapa anak sebaya Haikal di situ. Mereka juga asyik belajar menyimak ucapan guru, melakukan gerakan sesuai dengan ucapan guru, dan mengenali warna.

    Namun Haikal dan teman-temannya bukanlah siswa sekolah taman kanak-kanak. Tugas guru di situ lebih ditekankan pada mengajari anak berkomunikasi dan melatih gerak tubuh ketimbang pengenalan lingkungan. Sederet ruangan yang disebut pada awal tulisan ini pun bukan pemandangan di sekolah taman kanak-kanak, tapi di Klinik Bina Wicara, Akademi Terapi Wicara, di bilangan Kramat, Jakarta Pusat.

    Haikal adalah satu dari beberapa anak penderita autisme, yang mengalami gangguan pada salah satu sel kecil di otaknya. Gangguan itu ada yang bersifat motorikingin berbicara tapi tak tahu caranya. Ada pula yang berupa gangguan sensorikanak mampu berbicara tapi tak mengerti apa yang dibicarakan.

    Akibatnya, mereka menjadi susah berkomunikasi verbal (berbicara) maupun komunikasi nonverbal (penggunaan bahasa isyarat tubuh). Meski secara fisik sehat, mereka seperti hidup dalam dunianya sendiri. Mereka acap kali memainkan tangan terus-menerus, dengan gerakan aneh.

    Banyak anak lain yang juga seperti Haikal tapi belum ada data pasti tentang jumlah penderita autisme di Indonesia. Ketua Yayasan Autisme Indonesia, dr. Melly Budhiman, menaksir jumlah penderita autisme di Indonesia maupun di dunia selama lima tahun terakhir ini meningkat lebih dari sepuluh kali.

    Yayasan Autisme Indonesia kini menangani 250 anak, adapun tahun 1996 hanya 65 orang. Dan di Klinik Bina Wicara sekarang ada 60 pasien anak-anaktahun sebelumnya hanya 20 orang. Ini diungkapkan Kepala Bagian Klinik, Yusran Sipala.

    Untuk membantu anak-anak penderita autisme, tentu tak cukup dengan pengobatan. Yang penting bagi mereka adalah pendidikan berupa terapi komunikasi, sebagaimana dilakukan di Klinik Bina Wicara. Masalahnya, jumlah guru yang sanggup melatih dan mendidik mereka ternyata sangat sedikit. Ironisnya pula, jumlah guru autisme dari lulusan Akademi Terapi Wicara sampai sekarang inilah satu-satunya lembaga yang menyediakan guru autismetak banyak. Meski sudah 25 tahun berdiri, dari 55 orang mahasiswanya, baru 23 orang yang lulus.

    Dari tahun ke tahun, lembaga pendidikan yang dirintis sejak tahun 1971 oleh Ny. Vreede Varenkampf, Ny. Johana Sunarti Nasution (istri A.H. Nasution), dan dr. Hemdarto Hendarmin itu rupanya sulit meningkatkan jumlah mahasiswa. Sampai-sampai, tahun 1985, akademi yang berkampus di sebuah gedung tua peninggalan Belanda itu terpaksa berfusi dengan Jurusan Speech Therapy Akademi Rehabilitasi Medis.

    Boleh jadi, seperti dikatakan Ninit, salah seorang lulusan akademi tersebut, hal itu disebabkan belum banyak orang yang mengerti arti dan peran guru autisme. "Guru autisme masih kurang dihargai. Padahal, profesinya mulia dan penghasilannya lumayan," tutur Ninit, yang juga bekerja di sekolah terapi wicara.

    Menyikapi masalah kekurangan guru itu, untuk tahun 2000 Departemen Kesehatan menargetkan jumlah mahasiswa Akademi Bina Wicara mencapai 500 orang. "Saat ini tenaga ahli terapi memang sangat dibutuhkan," demikian kata dr. Rosmadewi, Direktur Akademi Terapi Wicara. Dan agar target tercapai, akan dibuka pendaftaran khusus bagi lulusan Sekolah Perawat Kesehatan.

    Hp. S., Ma'ruf Samudra, dan Edi Budiyarso


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Agama

Tak Masalah, Presiden Perempuan

Tak Masalah, Presiden Perempuan

Catatan Pinggir

Nurul

Nurul

Inforial

Inforial

TEMPO|interaktif

Awan Selimuti Jakarta Sepanjang Hari  

Garuda Diskon 10 Persen untuk Tamu Accor Group

Olahraga

Balotelli Bahagia di Manchester City  

Seni & Hiburan

Lady Gaga: Saya Menghormati Semua Agama dan Budaya

Seni & Hiburan

Begini Promotor Lady Gaga Gelar Konser di Jakarta

Nasional

Grasi untuk Corby, SBY Dikecam

Otomotif

Uji Converter Kit, Nissan Serahkan Evalia ke UGM

Nasional

Grasi Corby, Australia Diminta Bersikap Adil

Syarat Gelar Konser Lady Gaga Belum Lengkap?

Nasional

Hari Ini, Andi Mallarangeng Diperiksa KPK

Konser Lady Gaga Sudah Dapat Restu Pemerintah

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif