Persoalan kultus itu dibahas dalam acara diskusi Faham Kultus, Sektarianisme, dan Agama Kemanusiaan Universal, yang diselenggarakan Yayasan Paramadina akhir November lalu di Jakarta. M. Sobari (peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) dan Prof. Nurcholish Madjid (Rektor Universitas Paramadina Mulya) tampil sebagai pembicara.
Secara psikologis, kultus merupakan wujud pencarian pegangan hidup pada saat kondisi jiwa "gonjang-ganjing". Kondisi itu bisa muncul bila terjadi perubahan sosial, ekonomi, dan politik yang begitu cepatmirip keadaan di Indonesia sekarang. Gejalanya berupa perasaan tersingkir (marginalisasi), teringkari (deprivasi), dan hilangnya pegangan hidup (disorientasi). "Orang-orang yang mengalami guncangan psikis tersebut bisa menjadi sasaran empuk gerakan kultus yang fanatik, eksklusif, dan (tak jarang) antisosial," kata Nurcholish. Ibaratnya, tak ada rotan, akar pun jadi. Tak ada pegangan, kultus pun oke.
Paham kultus mudah menggiring para pengikutnya kepada tindakan antisosial yang berbahaya. Contohnya, tindakan bunuh diri massal yang dilakukan kelompok Heaven's Gate di Amerika Serikat dan usaha pembunuhan massal oleh sekte Aum Shinrikyo di Jepang. Salah satu ciri gerakan kultus adalah klaim diri sebagai representasi paling sah dari ajaran dan amalan induknya. People's Temple dan Ranting Davidian di Amerika, misalnya, mengklaim bahwa ajaran mereka adalah wujud murni dari Kristen yang benar. Juga Aum Shinrikyo untuk Buddha, pun Hare Krishna dan Rajneesh untuk agama Hindu.
Di Indonesia kelompok Islam Jamaah pimpinan Nur Hasan Ubaidah memiliki beberapa ciri sebagai gerakan kultus. Dilarang oleh Kejaksaan Agung tahun 1980-an, sebagian orang mencurigai kelompok itu bermetamorfosis menjadi Lembaga Dakwah Islam Indonesiaorganisasi kemasyarakatan yang akhir Oktober lalu berkongres di Jakarta.
Sebagai gejala psikologis, kultus memiliki beberapa indikasi. Sebuah buku karya Jean Richtie (1991), The Secret World of Cults: Inside the Sects that Take Our Lives memuat tanda-tanda seseorang yang "terserang" paham kultus. Antara lain, terjadinya perubahan kepribadian yang tiba-tiba dan drastis, suka menyendiri dan menjaga jarak dengan orang lain, kehilangan rasa humor, kehilangan daya kritis, sangat sensitif terhadap kritik, kecenderungan defensif yang berlebihan, memusuhi saudara sendiri, banyak larangan halal-haram dalam makanan, dan bisa diajak bunuh diri.
Kultus sebagai ekspresi beragama cenderung membentuk sikap eksklusif, tertutup, merasa paling benar, dan sektarianis. Ia bertentangan dengan ajaran agama kemanusiaan universal yang benar, yang menganjurkan sikap toleransi, menghargai pendapat orang lain, dan karena itu pluralistis dan demokratis. Selain itu, kultus hanya berguna untuk sementara. Bagai obat, ia hanyalah obat paliatifmengurangi rasa sakit tapi tak menyembuhkan. "Ada manfaatnya, tapi bahayanya lebih besar," kata Nurcholish. Dalam bahasa Sobari, kultus adalah bentuk dari pencemaran kultural (involusi). Seperti bentuk pencemaran lain, paham kultus, menurut Sobari dan Nurcholish, seharusnya dihindari.
Kelik M. Nugroho
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.

