• Home
  • 08 Desember 1998
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Surat
    • Inovasi
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Agama
  • Seni
    • Teater
    • Seni
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 08 Desember 1998

    Despotisme: Merumpun Ibarat Rebung

    Rizal Panggabean
    Pengamat politik dari Universitas Gadjah Mada

    Despotisme melahirkan despotisme. Kesewenang-wenangan tumbang dan dari puing-puing reruntuhannya muncul kesewenang-wenangan baru. Setelah despotisme dilongsorkan oleh gerakan reformasi di negeri kita, kemudian tanpa terduga muncul bentuk-bentuk baru despotisme.

    Kebetulan, Indonesia tidak sendirian. Banyak kawan sepenanggungan di Eropa Tengah dan Timur. Di kawasan ini, sejak 1989, gerakan-gerakan prodemokrasi membebaskan negeri mereka dari cengkeraman komunisme dan Stalinisme. Sambil berharap demokrasi konstitusional akan menggantikan rezim partai dan polisi rahasia, masyarakat bersorak gembira,.

    Namun euforia itu tidak lama. Setelah gejolak mereda, ternyata sebagian besar pemimpin masih orang-orang lama. Memang mereka tidak lagi berkiprah di partai komunis, karena partai ini sudah bubar. Mereka sudah terserak di berbagai partai politik baru, yang bermunculan di era reformasi. Tapi mereka masih meneruskan kebiasaan lama.

    Begitu pula aturan main yang lama masih berlaku dan kelompok mayoritas di parlemen masih bercokol. Perlindungan terhadap warga negara dan kelompok minoritas masih rapuh dan labil. Reformasi ternyata mengingkari janjinya untuk menggantikan kesewenang-wenangan dengan demokrasi konstitusional.

    Malahan, ada kecenderungan lain. Semakin dahsyat despotisme di suatu negeri, semakin sulit negeri itu menertibkan lembaga-lembaganya supaya selaras dengan demokrasi. Jadi, negara-negara yang penguasa komunisnya paling totaliter dan despotis di masa lalu, paling tangguh pula menentang amanat reformasi. Sebaliknya, negeri yang paling mulus transisinya menuju demokrasi ialah yang masa lalunya relatif kurang despotis.

    Peralihan yang alot, bergejolak, dan tidak menentu sudah menjadi harga yang harus dibayar negeri-negeri Eropa Timur setelah rakyatnya hidup lama di alam despotisme dan totalitarianisme. Tampaknya, Indonesia demikian juga.

    Yang digusur oleh gerakan reformasi Indonesia ialah figur kekuasaan dalam arti yang paling ekstrem. Rezim Soeharto adalah rezim ideal dilihat dari sudut kesewenang-wenangan kekuasaan. Kendala dan batasan konstitusi terhadap kekuasaannya sangat lemah.

    Setelah rezim itu tumbang, yang muncul dari reruntuhan bukanlah demokrasi yang didambakan, melainkan kesewenang-wenangan baru, baik di kalangan para pemimpin maupun masyarakat luas. Boleh jadi, inilah harga despotisme Orde Baru yang dahsyat dan diwariskan dengan sangat utuh oleh Soeharto dan kroni-kroninya itu.

    Kesewenang-wenangan kaum elite dan pemimpin dapat disaksikan setiap hari. Pemerintah dan kelompok mayoritas di DPR mengedepankan kepentingan mereka, yaitu mempertahankan kursi dan kekuasaan, dengan memperalat undang-undang dan ketetapan MPR. Jangan heran apabila Gedung DPR/MPR kembali menjadi lokasi tempat bercokol despotisme, bukan kedaulatan rakyat.

    Sementara itu, politik diciptakan lewat pengerahan massa dan adu demonstrasi. Juga lewat perang urat saraf dan konspirasi. Menteri-menteri bebas memamerkan ketidakpekaan sosial dan keagamaan. Pendek kata, cara-cara lama masih berlangsung dan dengan jelas mengisyaratkan bahwa situasi krisis yang melatari reformasi masih berlanjut.

    Pada tingkat masyarakat, kesewenang-wenangan juga dapat disaksikan setiap hari. Masyarakat sipil, yang belum tertata baik, sudah menunjukkan penyakit lamanya, yaitu amarah, kecurigaan, dan penolakan kepada golongan lain yang tidak sepaham, seetnis, atau seagama.

    Selain itu timbul penyakit baru era reformasi. Tuntutan dendam, restitusi, dan retribusi terhadap dosa-dosa masa lalu bermunculan. Main ultimatum menjadi mode. Yang mendukung Sidang Istimewa MPR siaga menghadapi yang menentangnya. Dan di desa-desa, warga masyarakat membunuh orang yang mereka curigai, termasuk polisi dan tentara. Sementara itu, mayat bergelimpangan di medan perang antardesa.

    Di mana demokrasi konstitusional? Tampaknya, masih jauh di masa depan. Mungkin beberapa tahun, mungkin beberapa puluh tahun, di depan. Sementara ini, yang ada baru despotisme yang ibarat rebung, tumbuh subur tak jauh dari rumpunnya.


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Agama

Obat itu Bernama Kultus

Catatan Pinggir

Simetri

Inforial

Ungkapkan ketulusan hati dengan perhatian dari The Body Shop

TEMPO|interaktif

Awan Selimuti Jakarta Sepanjang Hari  

Garuda Diskon 10 Persen untuk Tamu Accor Group

Olahraga

Balotelli Bahagia di Manchester City  

Seni & Hiburan

Lady Gaga: Saya Menghormati Semua Agama dan Budaya

Seni & Hiburan

Begini Promotor Lady Gaga Gelar Konser di Jakarta

Nasional

Grasi untuk Corby, SBY Dikecam

Otomotif

Uji Converter Kit, Nissan Serahkan Evalia ke UGM

Nasional

Grasi Corby, Australia Diminta Bersikap Adil

Syarat Gelar Konser Lady Gaga Belum Lengkap?

Nasional

Hari Ini, Andi Mallarangeng Diperiksa KPK

Konser Lady Gaga Sudah Dapat Restu Pemerintah

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif