• Home
  • 08 Desember 1998
  • English
  • rss
  • CARI BERITA
Home
Online
  • TEMPOinteraktif
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Halaman Utama
  • Ekonomi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Media
  • Gaya Hidup
    • Kesehatan
    • Film
  • Hukum
    • Hukum
  • Internasional
    • Luar Negeri
  • Nasional
    • Nasional
  • Opini
    • Kolom
    • Catatan Pinggir
    • Opini
  • Prelude
    • Surat
    • Inovasi
    • Kartun
  • Sains
    • Lingkungan
    • Pendidikan
    • Ilmu dan Teknologi
    • Agama
  • Seni
    • Teater
    • Seni
  • Tokoh
    • Pokok dan Tokoh
    • Wawancara
  • Arsip
  • 08 Desember 1998

    Deklarator Ciganjur dan Demokrasi

    Rasanya mahasiswa harus menelan pil kekecewaan kepada keempat tokoh Ciganjur, meski mereka telah melahirkan delapan butir deklarasi. Kekecewaan itu bisa dihindari bila mahasiswa cukup terampil membaca latar belakang keempat tokoh itu. Mahasiswa tidak bisa mengajak tokoh yang secara "genetis" tidak membawa sifat demokrasi di dalam dirinya, untuk bermain di arena demokrasi. Mahasiswa tidak bisa mengharapkan tokoh-tokoh yang "tidak tumbuh dari bawah" untuk peka dan tanggap menyikapi situasi kritis yang dihadapi mahasiswa sepanjang Semanggi dan Gedung DPR/MPR. Setidak-tidaknya tiga dari empat tokoh deklarator Ciganjur; Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Megawati, dan Hamengkubuwono X.

    Gus Dur adalah cucu pendiri NU (KH Hasyim Ashari) dan putra dari KH Wahid Hasyim (tokoh NU). Dipilihnya Gus Dur sebagai Ketua PBNU (1984) selain karena ia cucu pendiri NU, juga dalam rangka menghormati keluarga besar pendiri NU. Apalagi, angin politik tahun 1984 sangat menguntungkan Gus Dur. Ia tidak saja didukung oleh Soeharto (pemerintah) juga oleh militer (Benny Moerdani). Karena itulah kalangan nahdliyin cenderung memilih Gus Dur--untuk pertama kalinya--sebagai Ketua Tanfidziyah PB NU ketika itu. Jadi, di dalam diri Gus Dur yang mengalir justru "darah monarkis, primodialis, dan nepotis" bukan demokratis.

    Begitu pula dengan Megawati yang diusung ke pucuk pimpinan PDI karena ia membawa nama besar Bung Karno. Jika Mega hanyalah anak orang kebanyakan, maukah Soerjadi ketika itu merekrutnya untuk mendongkrak perolehan suara PDI? Atau maukah sekelompok orang bersusah payah menjadikan Mega sebagai "ujung tombak" kepentingan politik mereka? Rasanya mustahil, sebab dalam banyak hal ia biasa-biasa saja. Jadi, di dalam diri Megawati tidak mengalir darah seorang demokrat, melainkan darah "primordialis". Megawati juga tidak tumbuh dari bawah, tetapi ia di-drop dari atas oleh elite politik yang bermain di sekitar PDI.

    Sedangkan Hamengkubowono X sudah bisa dipastikan di dalam dirinya mengalir "darah biru" yang berbeda dengan rakyat kebanyakan. Ia adalah lambang feodalisme dan primodialisme yang "menyempal" di tengah-tengah masyarakat Indonesia yang demokratis dan egaliter. Tanpa track record yang meyakinkan, ia dengan mudah menjadi Gubernur Yogyakarta, semata-mata karena jabatannya itu merupakan "warisan leluhur" baginya. Sepanjang sejarah, pemilihan Gubernur di Yogyakarta-lah yang paling transparan mengabaikan kaidah demokrasi.

    Lantas bagaimana dengan Amien Rais? Ia memang berbeda dengan ketiga tokoh lainnya. Ia sudah sejak awal mendengungkan reformasi dan demokratisasi tanpa harus memimpin partai demokrasi atau membentuk forum demokrasi. Sayangnya, Amien Rais tidak dibesarkan di lingkungan komunitas pergerakan. Sehingga ia pun ikut-ikutan tidak tanggap menyikapi situasi kritis yang dihadapi mahasiswa di sepanjang Semanggi dan Gedung DPR/MPR.

    Kalau saja Amien terbiasa dengan "langgam" orang pergerakan, pada saat-saat kritis seperti itu ia akan hadir di tengah-tengah mahasiswa, bukan justru mengajukan syarat: "saya bersedia berada di tengah-tengah mahasiswa asal ditemani oleh salah seorang tokoh deklarator Ciganjur".

    Tampaknya kalangan mahasiswa telah salah memilih partner perjuangan mereka. Keterampilan mahasiswa dalam menilai seseorang untuk dijadikan tokoh idolanya dan sekaligus partner perjuangannya, memang masih berada pada tahap eksperimental. Anggap saja kegagalan kali ini sebagai ajang latihan. Tapi besok-besok jangan salah lagi.

    UMAR ABDUH
    Kompleks Masjid Al-Ihsan
    Proyek Pasar Rumput
    Jalan Sultan Agung, Manggarai
    Jakarta 12970


    "Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486

    Download versi digitalnya :
    1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
    2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
    3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini

    Terima Kasih.

cover

Agama

Obat itu Bernama Kultus

Catatan Pinggir

Simetri

Inforial

Ungkapkan ketulusan hati dengan perhatian dari The Body Shop

TEMPO|interaktif

Awan Selimuti Jakarta Sepanjang Hari  

Garuda Diskon 10 Persen untuk Tamu Accor Group

Olahraga

Balotelli Bahagia di Manchester City  

Seni & Hiburan

Lady Gaga: Saya Menghormati Semua Agama dan Budaya

Seni & Hiburan

Begini Promotor Lady Gaga Gelar Konser di Jakarta

Nasional

Grasi untuk Corby, SBY Dikecam

Otomotif

Uji Converter Kit, Nissan Serahkan Evalia ke UGM

Nasional

Grasi Corby, Australia Diminta Bersikap Adil

Syarat Gelar Konser Lady Gaga Belum Lengkap?

Nasional

Hari Ini, Andi Mallarangeng Diperiksa KPK

Konser Lady Gaga Sudah Dapat Restu Pemerintah

iklan generik

Top
  • Majalah Tempo
  • English Edition
  • Koran Tempo
  • PDAT
  • Photostock
  • U-Mag
  • Ruang Baca
  • Blog
  • Jurnalisme Publik
  • iTempo
  • Video
  • Audio
  • Infografis
  • Nasional
  • Metro
  • Bisnis
  • Olahraga
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Seni & Hiburan
  • Internasional
  • Selebritas
  • Kolom
  • English
  • Japanese
  • Help
  • About us
  • Contact
Copyright 2011 TEMPOinteraktif