Membedah Keserakahan dan Kejujuran Melalui Anak
Uang dan Bocah Kita| Karya | : | Yuswantoro Adi | Tempat | : | Bentara Budaya, Yogyakarta | Waktu | : | sampai dengan 8 Desember 1998 | |
Adakah hubungan lembaran uang dan anak-anak kita? Pelukis Yuswantoro Adi mencoba mengungkapkan relasi antara uang dengan anak-anak. Secara tematik upaya ini cukup mampu mencuri perhatian melalui lukisan bergaya realis, sebuah gaya yang lebih mudah dicerna. Bagi Yuswantoro, uang dan anak-anak hanya punya makna tunggal, yakni kejujuran. Tapi metafora uang dan anak-anak pada karya lukis peraih grand prize Philip Morris Award 1997 di Manila ini punya sisi yang berbeda. Uang telah menguak sisi gelap kejujuran, yaitu sifat rakus dan tamak sebagaimana adanya. Sedangkan figur anak-anak lazimnya akan menguak kejujuran dan kepolosan sikap manusia. Tapi pada tataran praksis, ada ironi yang muncul dalam relasi sosiologis antara uang dan anak yang mengantarkan orang pada kenyataan betapa anak-anak terpaksa memikul nilai ekonomi bagi orang tuanya.
Inilah agaknya yang kemudian melahirkan karya lukis Yuswantoro yang merupakan komentar terhadap realitas sosial. Ada anak sedang memecah celengan tembikar berbentuk ayam jago. Ada seorang laki-laki dengan seorang bocah di pundaknya dengan latar logo sebuah partai, atau seorang anak sedang menggambar bentuk uang kertas. Karya lukis Yuswantoro memang mudah dibaca keinginannya sebagaimana juga tujuannya memanfaatkan teknik realis sebagai bahasa ungkap.
Lihatlah seorang anak perempuan yang tampak seperti sedang bernyanyi sambil memegang "alat musik" yang biasa dipakai anak jalanan di persimpangan lampu lalu lintas. Figur anak ini diletakkan pada situasi hiruk-pikuk lalu lintas kota dengan latar kemilau bangunan kaca. Uang kertas seratus rupiah di balik figur sang bocah menegaskan sebuah situasi yang memaksa orang tua untuk meletakkan anak-anak sebagai faktor produksi. Saat anak-anak seharusnya masih menikmati kemudaannya dalam dunia bermain. Tapi sosok anak perempuan pada karya ini terlalu steril untuk menggambarkan sosok anak jalanan pada umumnya, yang kumuh dan menebar aroma bau tak sedap. Sebaliknya yang muncul adalah anak perempuan mungil, tampak sehat, gembira, rambut tersisir rapi, serta mengenakan t-shirt merah cerah dan rok hijau. Ini semua tampak jauh dari gambaran anak terlantar.
Padahal potret realitas bagi pelukis semacam Yuswantoro Adi dalam proses kreatif memang memanfaatkan fotografi, sehingga faktor realitas menjadi sangat penting. Gaya ini lazim disebut realisme baru. Mereka memindahkan penggalan-penggalan realitas fotografi dan menyatukannya di atas kanvas, dengan memberi makna yang sama sekali baru.
Realisme baru adalah salah satu gaya ekspresi seni rupa yang muncul sebagai reaksi dari kemapanan modernisme dalam seni rupa Indonesia. Gaya yang juga sering disebut sebagai "hiper realis" ini mulai terlihat gejalanya pada paruh tahun 1970-an sebagai bentuk keragaman berekspresi yang diperjuangkan sekelompok seniman muda lewat Gerakan Seni Rupa Baru. Bentuk ekspresi ini sangat terinspirasi oleh gerakan pop art di Barat, yang menjadikan realitas masyarakat modern beserta simbol produk industrial sebagai idiom rupa.
Pada karya Yuswantoro, simbol produk industri memang terasa sangat jelas. Amplop surat, mainan anak-anak, dan bahkan anak-anak tak lagi dilihat sekadar mahluk hidup, tapi sudah menjadi simbol pasar. Dunia anak sejak dini telah tersedot dalam dunia pasar yang bersifat eksploitatif. Penetrasi pasar ke dalam dunia anak-anak tersosialisasi lewat permainan. Yuswantoro memberi contoh yang bagus lewat karyanya yang berjudul Aktor Monopoli Indonesia. Permainan monopoli pada satu sisi menggambarkan keriangan masa bermain anak-anak. Tapi lewat jalur permainan ini pula anak sejak dini berkenalan dengan sisi gelap uang: ketamakan dan kerakusan. Tentu saja Yuswantoro tak hanya berpretensi tentang "virus" ketamakan masuk ke dalam diri anak-anak.
Secara visual karya ini tergarap dengan sangat rapi dengan citra yang cenderung monokromatik. Yuswantoro memanfaatkan teknik realis untuk membangun realitas psikologis (komentar sosialnya) di atas bangunan realitas empirik. Penggalan-penggalan potret realitas ini disusun dengan komposisi yang pas. Ia berhasil memanfaatkan simbol yang efektif untuk mengungkap relasi antara uang dan anak-anak dari sisi yang paling gelap.**
R. Fadjri
