Deklarasi Ciganjur, yang dikeluarkan empat tokoh nasional, antara lain menyerukan agar Pam Swakarsa dibubarkan. Untuk mencegah terjadinya pertentangan horizontal, saya sependapat dengan mereka.
Namun, ada pendapat sinis terhadap pertemuan tersebut yang dilontarkan oleh Emha Ainun Nadjib dalam ceramahnya di Universitas Diponegoro, Semarang. Seperti disiarkan dalam Berita RRI pada 10 November lalu, Emha menyatakan bahwa tanpa menyertakan Presiden Habibie dan Pangab Wiranto, pertemuan para tokoh nasional itu tidak akan membantu mengatasi masalah-masalah dalam masyarakat kita.
Komentar Emha itu, menurut saya, patut dipertanyakan karena bisa makin membingungkan masyarakat, meski sikap Emha sejak 18 Mei lalu memang sudah membingungkan. Dalam wawancara di majalah Panji No. 30 edisi November, Emha mengatakan bahwa kasus Banyuwangi terkait dengan dendam sejarah, tanpa menjelaskan apa yang dimaksud.
Kepada reporter SCTV beberapa waktu lalu, Emha juga menyatakan bahwa kasus Banyuwangi hanya salah satu dari rangkaian peristiwa/kerusuhan yang memiliki benang merah yang sama. Menurut Emha, berita-berita kasus Banyuwangi tidak menyentuh substansi masalah dan hanya pada ledakan-ledakan kejadiannya. Tapi, lagi-lagi, Emha tidak memaparkan apa benang merah dan penyebab kasus tersebut.
Meski selama ini saya salut terhadap independensi dan kevokalan Emha dalam mengkritik pemerintah semasa Orde Baru dan pasca-Orde Baru, tapi kini muncul keraguan dalam diri saya, terutama menyangkut sinismenya atas pertemuan empat tokoh nasional itu. Keraguan itu makin kuat mengingat kehadiran Emha pada acara "Apel Siaga Antikomunis" yang diselenggarakan oleh organisasi yang menamakan diri Furkon pada 30 September lalu di halaman Masjid Istiqlal. Furkon sendiri, sebagi organisator Pam Swakarsa, terbukti banyak ditentang masyarakat.
PURWANTO
Jalan Kemuning I/D 25 AN
RT 007/009 Pejaten Timur
Pasarminggu, Jakarta Selatan
"Nikmati tulisan lengkap artikel ini pada versi cetak dan versi digital majalah Tempo" Silahkan hubungi customer service kami untuk berlangganan edisi cetak di 021-5360409 ext 9. Silahkan hubungi Pusat Data Analisa Tempo untuk mendapatkan versi arsip dalam bentuk PDF, di 021-7255624 ext 486
Download versi digitalnya :
1. iPad : melalui aplikasi Tempo Media Apps. Klik disini
2. Samsung Galaxy Tab melalui aplikasi Samsung E Reader. Klik disini
3. Huawei Ideos S7 melalui aplikasi XL-Baca. Klik disini
Terima Kasih.

